Matahari dan Bulan (II)

Kaupikir kau matahari, karena segudang puja-puji yang kautuai itu. Nyatanya kau cuma rembulan, bongkah batu, yang sejak kemunculan dirinya, mendedikasikan diri buat mengitari hidupnya, mengiringi gelap dan terang, surut juga pasang.

Kaulupa pada titah bintang-bintang untuk jadi seperti mereka, berpendar jumawa di angkasa, menebar hangat ke ruang hampa, dan pantang menurut pada putaran mana saja. Kau lupa pada titah sang bara untuk berdiri dengan putaranmu sendiri, hidup dengan caramu sendiri.

Sebab dia hadir tiba-tiba, tanpa tanda-tanda dan gejala, merampas kemandirianmu, menyapulenyapkan sinarmu, dan mengisapmu kuat-kuat ke sisinya, hanya sebagai ‘pendamping’, pengiring kehidupannya.

2 respons untuk ‘Matahari dan Bulan (II)

    1. Ini pemikiran salah satu tokohku yang kutuang dalam wujud… apa sih kebalikannya personifikatif? Wqwq. Jadi, si cewek ini nggak mau dikuasai, dia maunya berkuasa. Dan, menurutnya, pernikahan itu merampas kuasa yang harusnya bisa dia raih. Gitu.

      Suka

Tinggalkan komentar