Kepergok

Malam sudah teramat larut ketika Dean pulang dari rumah temannya demi mengerjakan tugas kuliah yang seakan beranak-pinak. Nasib mahasiswa muda, tugas datang dan menghempas seolah tak pernah habisnya.

Cowok itu merutuk di dalam hati sepanjang perjalanan. Memaki-maki temannya yang kerjanya hanya main sehingga durasi pengerjaan tugas jadi molor beberapa jam. Mestinya dia sudah pulang lebih dini. Mestinya dia sudah nyenyak di atas ranjang kini. Dan mestinya, dia tak perlu melalui jalan keparat ini seorang diri.

Motornya melaju pelan-pelan, gara-gara polisi tidur yang eksis setiap dua meter. Sengaja dirancang begitu, untuk mencegah warga ngebut di sini dan menimbulkan bising, sebab di sekitaran sini ada rumah mewah Pak Aditya, sang ketua RT.

Begitu melalui pagar bata Pak Aditya, bulu kuduk Dean berdiri tanpa sebab yang bisa diterka. Suara lolongan anjing terdengar samar di kejauhan, dan mendadak pemuda itu ingat bahwa malam ini adalah malam Jumat Kliwon.

Tangan Dean yang memegang setir gemetar. Dia merapal doa yang diingatnya sebisa mungkin, ketika matanya menangkap sekilas pergerakan yang begitu cepat melompat ke atas pagar bata itu, memasuki rumah ketua RT-nya. Napas Dean tak beraturan. Dia sudah tak peduli lagi pada polisi tidur atau apapun yang menghalangi laju motornya, dan menambah kecepatan agar lekas tiba di rumah pamannya

Sebab Dean berani bersumpah, makhluk yang dilihatnya adalah seekor babi.

***

Sewaktu Dean pulang kuliah, pamannya tengah menerima tamu, dan ternyata tamunya adalah Pak Aditya bersama dua orang lain yang diketahui sebagai orang-orang berpengaruh di komplek itu.

“Oalah, Dean sudah pulang, toh. Ayo, gabung sini!” ajak sang paman. Mau tak mau, Dean juga turut bergabung dan nimbrung dalam obrolan. Kebetulan, dia juga ingin menanyakan soal keadaan rumah Pak Aditya setelah kejadian tiga hari yang lalu yang disaksikannya. Apakah ada sesuatu yang dicuri? Tetapi kelihatannya, Pak Aditya baik-baik saja, tak tampak murung ataupun gusar.

Maka, ketika ada kesempatan saat semuanya hening, Dean berceletuk, “Pak RT, mohon maaf nih, Pak. Malam Jumat kemarin, saya ngelihat ada yang mencurigakan masuk ke rumah Bapak. Nggak ada yang hilang kan, Pak? Takutnya Bapak kecurian gitu.”

Aditya melongok sebentar dari cangkir kopi yang disesapnya, lalu meletakkan cangkir itu ke atas tatakan. “Mencurigakan gimana, Dik Dean?”

Dean menggaruk pipi. “Errr … kayak bayangan gitu, Pak. Saya pikir pencuri.”

“Pencuri? Gimana ciri-cirinya, Dean? Eh, beneran, Pak Adit? Apa ada barang hilang?” Samsul–paman Dean, dan dua orang lainnya ikut penasaran.

Namun, berbeda halnya dengan empat orang di dekatnya, Aditya malah terkekeh santai. “Nggak ada kok, Dik Dean. Nggak ada yang hilang. Paling itu cuma bayangan Dik Dean saja, toh saya sama istri saya tidur nyenyak, tuh,” jelasnya.

Dean menghembuskan napas. Syukurlah. Sudah diduga itu pasti hanya halusinasinya akibat terlalu lelah. Setelah obrolan usai, cowok itu beranjak tidur. Sementara Aditya dan dua orang lain pamit pulang ke rumah masing-masing.

Aditya memasuki rumahnya dan disambut istrinya yang sedang maskeran. “Gimana, Mas? Mas jadi bisa narik Pak Samsul buat dukung Mas jadi RT selanjutnya, ‘kan? Pak Samsul, kan, imam masjid kita, kalau bisa dapet kepercayaannya, berarti bisa dapet kepercayaan warga lagi.”

Sebuah desahan lolos dari paru-paru Aditya selagi dia mengempaskan pantatnya ke sofa. Membuat istrinya bertanya lagi, “Kenapa, Mas?”

“Pak Samsul sih aman. Cuma keponakannya itu, si Dean, ternyata mergokin aku pas lagi ngepet Jumat kemarin!”

Tinggalkan komentar