Technopathy

Tugas maning, tugas maning. Derita mahasiswa muda yang nggak kunjung berakhir. Secara literal, hal ini bakal jadi lebih mudah kalau kosanku dikaruniai keajaiban dunia bernama wifi. Sayang seribu sayang, sebagai mahasiswa misqueen dari kampung nun jauh di mata, aku nggak sanggup menyewa tempat kos secanggih itu.

Boro-boro wifi. Kamar mandinya saja dipakai bergilir.

Makanya, aku hanya punya dua pilihan: bertahan di kampus buat memanfaatkan wifi kampus yang lemotnya macam siput mikul godam, atau ke warnet yang lokasinya nggak begitu jauh dari kosanku.

“Lo mau ngerjain tugas makalah akuntansi biaya? Ke rumah gue aja, bro!” Suara lantang Sumi terdengar, disusul oleh tepukan ramah di pundakku. Tentu saja tawaran ini nggak bakal aku sia-siakan seumur hidup.

“Eh? Oke! Ayo, deh!” Buru-buru, aku menenteng laptop usangku dan buku-buku akuntansi yang tebelnya bisa bikin orang pingsan kalau dipakai nimpuk kepala.

Nama lengkapnya Sumimasen, cowok blasteran Jepang-Jepara yang lahir di Banjarmasin dan besar di Jakarta. Nggak bisa bahasa Jepang, Jawa, atau Banjar. Satu-satunya bahasa yang dia kuasai adalah bahasa Indonesia area Jakarta zaman now. Berbeda jauh denganku, Sumi ini anak holkay. Bapaknya punya berhektar-hektar kebun kelapa sawit di Kalimantan sana.

Mendadak, aku bersyukur bisa sekelas sama dia.

Rumahnya gede banget macam rumah di sinetron-sinetron. Cocok buat kamu yang demen smule-an, yang mendambakan suasana bebas dari bising omongan absurd penghuni kamar sebelah atau teriakan ibu kos yang menggila. Apalagi ada AC yang ademnya sampai relung jiwa.

“Yuk, Bro. Lo naik aja dulu ke atas. Kamar gue yang di pintunya ada poster Real Madrid, ya. Gue ambil minum dulu.”

Aku bergegas naik ke ruangan yang diinstruksikan. Ngebiarin pintunya kebuka, lalu duduk di atas ranjang dan ngeluarin laptop. Lalu, aku nungguin si Sumi datang sambil lihat-lihat sekeliling. Pas itu, ada seorang cewek berkacamata yang menghampiri. Mukanya mirip Sumi. Adiknya kali, ya, aku berasumsi.

“Temennya Sumi, ya? Gue adiknya Sumi. Salam kenal, ya,” tanyanya, sembari menatap laptopku. Aku mengangguk.

“Iya,” jawabku. Wih, ternyata Adiknya Sumi ramah banget.

“Kamu pasti sering disiksa sama manusia ini, ya? Sering dipaksa begadang? Udah berapa lama kamu hidup sama dia?”

Aku melotot. Alamak. Jadi dari tadi, yang diajak ngobrol bukan aku, tapi laptop bulukku?

Kini, adiknya Sumi menatapku bengis. “Emang jahat, ya. Nanti nggak usah bantuin dia lagi, deh. Dia tuh cuma manfaatin kamu doang, tapi nggak tahu berterima kasih.”

Buset. Ada apa ini? Aku meraba-raba otakku sendiri, sementara adiknya Sumi mengelus laptopku penuh kasihan lalu beranjak pergi. Aku jadi ingat, pernah membaca sebuah novel yang tokohnya bisa berkomunikasi sama alat elektronik. Kalau nggak salah, nama kekuatannya Technopathy. Aku berdecak kagum. Nggak kusangka, ternyata kekuatan semacam itu beneran ada di dunia. Dan itu keluarganya Sumi pula!

Aku masih asyik mengagumi betapa perfect-nya keluarga Sumimasen ketika cowok itu datang sambil ngebawain dua gelas jus dan empat potong sandwich.

“Eh, iya password wifi-nya: hanayoridangooemjioemji, ya.”

Aku langsung tegak. Kepalaku sibuk menebak-nebak. “Hana itu nama adik lo yang kacamata itu?”

Sumi mengangguk. “Sepupu gue.”

Aku berdecak, nggak tanggung-tanggung menunjukkan rasa kagum. “Wih, keren. Punya sepupu yang punya kekuatan technopathy gitu mesti bangga.”

Kening Sumi berkerut. Ekspresinya kelihatan jijik. “Technopathy apaan. Dia itu cuma sinting gara-gara kebanyakan gaul sama benda goblok beginian.”

Tinggalkan komentar