Das ist nicht das Ende

Prompt:

528 kata

TIK … tok … tik … tok ….

Sejenak, gadis yang meringkuk di sudut ranjang terpaku gemetaran menatap tangan waktu yang tak henti-hentinya berputar. Seakan tak ada jeda baginya sedikit pun untuk bernapas. Relung-relung dada penuh sesak, nadinya berdetak liar.

Di luar, hujan masih mengguyur tanpa ada pertanda akan pergi dalam kurun waktu beberapa jam ke depan. Udara dingin yang menelusup membuatnya semakin menggerung, mengeratkan pelukan terhadap diri sendiri.

Dikatupnya kelopak mata, berharap dengan memadamkan salah satu indera, ia mampu sedikit meredam rasa sakitnya. Berharap segalanya dapat kembali seperti semula, biar tak perlu lagi ada tangisan tertahan yang harus disumbat dengan ujung-ujung selimutnya, tak perlu ada lagi sayatan-sayatan abstrak yang memuaskan sakit di hati, dan tak perlu ada lagi gerakan bodoh yang harus ia lakukan untuk menutupi segalanya dengan menarik sudut- sudut bibir.

Tik … tok … tik … tok ….

Kali ini kedua tangannya naik menutup telinga. Berharap mampu memudarkan detak-detik jarum jam yang baginya terkesan bagai tawa sinis sang penguasa waktu. Tak ada yang salah dari waktu yang berlalu, namun dia harus melewati lima jam lagi dalam amukan emosi yang dia sendiri tak mengerti apa. Yang dia tahu, ada bayangan-bayangan di kepala yang memutar semua hal yang pernah dan selalu membuatnya gelisah, cemas, dan takut.

Syaraf-syaraf di kepala dan matanya seolah tengah menjelma sebagai bioskop yang mempertontonkan adegan-adegan yang memicu emosi. Ada raut teman-temannya di masa lalu yang menatapnya seolah dia adalah pembawa penyakit mematikan di bumi. Ada tugas-tugas kuliah yang menggunung namun tak sanggup dia penuhi. Ada Ayah dan Ibu yang memberinya setumpuk tanggung jawab tanpa memikirkan apa yang dia ingini. Ada selembar kertas imajiner berterakan nominal rupiah yang sudah digerusnya dari keringat mereka, dan di sisi lain, ada daftar kegagalan yang harus ditelannya kini.

Tik … tok … tik … tok ….

Malam masih merangkak, dan dia masih harus berjuang menahan gejolak untuk meraih batangan pisau dan menyakiti diri sendiri.

Ibu tidak pernah berharap punya anak berpenyakit jiwa.

Ayah tidak pernah ingin punya anak terlambat wisuda.

Berulang kali dia merapal kata-kata itu di dalam hati demi mendorong pergi hasrat gilanya.

Dia mengkerut. Pada akhirnya, tangisnya pecah. Setidaknya, dengan menangis, dia bisa melupakan niat untuk menambah gores-gores tak beraturan di lengannya. Satu-satunya yang dia harapkan kini adalah agar dinginnya terhalau pergi, hujan lekas berhenti, dan hari cepat pagi.

Dering ponsel yang samar-samar membuatnya tergegau. Seakan raganya tak disusupi kesadaran, dengan tatap mata yang kosong dan kuyu, dia meraba-raba permukaan kasur yang diduduki.

“Dian!”

Suara laki-laki sudah menyambar bahkan sebelum dia mulai berkata ‘halo’.

“Di, di luar hujan. Sekarang jam dua malam. Kamu nggak apa-apa?”

Pertanyaan itu seperti sebuah hantaman keras di kepala yang menyadarkannya dari mimpi buruk berkepanjangan. Dia kembali terisak, meluapkan semua.

“Di? Apa aku ke situ aja sekarang?”

Dia masih terus menangis, tidak kuasa melahirkan satu pun kata yang mampu dimengerti manusia. Tapi laki-laki di seberang seolah paham, tak lagi bertanya soal kondisinya, melainkan berujar dengan penuh penekanan,

“Di, kamu nggak sendiri. Ada aku di sini. Aku temenin ngobrol, sampai pagi atau hujan berhenti, oke?”

Lalu, dia mengangguk samar, tangisnya pecah lagi. Kali ini bukan derai depresi, melainkan buncahan haru, setelah tahu bahwa di dunia ini, ada orang yang memahaminya. Dia tak sendiri.

Tinggalkan komentar