Pulang

Bukan Jakarta namanya kalau tak digumuli kemacetan. Asap knalpot yang membumbung di udara dan bunyi klakson yang menandakan ketidaksabaran para pengguna jalan raya, sudah menjadi ciri khas ibukota. Anak-anak kecil yang menjajakan koran tanpa alas kaki mulai menghampiri mobil satu per satu. Semua kesibukan metropolis itu sudah menjadi rutinitas selama hari kerja. Padahal, hari masih terlalu pagi.

“Koran-koran! Korannya, Pak.”

Entah berapa kali tawaran itu terabaikan. Mungkin si anak penjaja dianggap tidak ada. Atau lebih parah lagi, barangkali malah dipandang sebagai semut pengganggu semata. Kaca-kaca mobil tak kunjung dibuka, malah bunyi klakson semakin nyaring saja.

Anak itu tahu diri, dia menepi, mencari buruan lain. Barangkali ada orang lain yang mau membeli. Tiga ribu rupiah bagi manusia-manusia itu nilainya tak lebih daripada sepercik debu di tepi pakaian. Namun baginya, itu adalah sumber santap harian.

“Koran-koran! Pak, korannya?”

Kali ini dia menghampiri mobil lainnya, menawarkan hal yang sama dengan intonasi yang serupa. Sunggingan semringah terbit di rautnya kala gayung bersambut; sang pengemudi membuka jendela mobil dan melongokkan kepala.

“Berapa, Dek?”

“Tiga ribu, Pak.”

“Nggak bisa dua ribu, Dek? Saya cuma punya dua ribu, nih.”

Bahu sang anak merosot beberapa senti. Namun kepalanya memberikan pertimbangan hitung-hitungan. Lebih baik rugi seribu dan untung dua ribu daripada tidak sama sekali. Manusia masa kini cenderung lebih suka mengais informasi secara digital karena lebih praktis. Sudah untung ada yang mau beli korannya.

Dia mengangguk. “Bisa, Pak.”

Transaksi ekonomi yang sejatinya tak adil akhirnya berlangsung. Si pengemudi beroleh koran, sang anak penjaja mendapat uang dua ribu dan kerugian seribu rupiah. Namun, tiada ekspresi resah di wajahnya. Dia mengangguk, mengucapkan terima kasih dengan senyum yang masih tertera, lalu undur diri sementara kaca mobil kembali mengatup.

Detak waktu berjalan lambat. Sang anak masih belum juga memperoleh pelanggan baru. Sementara deru dan debu kendaraan kian menebal oleh faktor ambisi dan ketidaksabaran, dia terus berjalan, tanpa alas kaki menyisiri liang demi liang jalanan yang bisa disusupi.


Aku memalingkan wajah sejenak dari kesemrawutan ibukota, melirik arloji.

Sudah saatnya.

Melalui sudut mata, kutangkap anak itu akhirnya menepi ke trotoar. Satu tangannya yang bebas memegangi perut, lalu dengan terburu-buru dia menghampiri salah seorang penjaja kaki lima.

“Pak, rotinya satu.”

Lembaran dua ribu yang beberapa menit silam baru diterima kembali berpindah tangan, ditukar dengan sebungkus roti sebagai sarapan, mungkin juga makan siang. Lalu, anak itu duduk di bawah pohon, memangku koran-korannya dan menyantap roti itu. Sehelai daun kering jatuh dari atas, menimpanya.

Aku menjentikkan jari.

Sesaat kemudian, anak itu tercekik. Menggelepar. Pejalan kaki lainnya menghampiri dan mengerubungi. Dalam sekejap, ia menjadi pusat atensi.

“Jumat, 12 Oktober 2018 pukul 08:02,” ujarku, “Kematian Yanto bin Maryono, karena keracunan makanan.”

Kuhampiri anak itu, bergabung bersama kerumunan yang dipenuhi kepanikan, mengambil helai daun kering dari pangkuannya. Daun berterakan namanya.

“Aku jadi teringat sajak yang pernah kubaca dari buku para manusia,” gumamku, di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang menyuruh memanggil ambulans dan semacamnya. Kutatap langit yang biru muram.

“‘Pada kejadian itulah, sang pejuang nihil perisai pun pedang … keteguhan di pundak kananya, kegigihan di pundak kirinya … pulang kepada Yang Dipertuan … gugur … jatuh … pulang, pulang, terbang, dan pulang.'”

Tinggalkan komentar