Dekrit

Prompt:

462 kata

PENJEMPUTAN penghujung tahun seolah tidak bisa terlepas dari ritual pesta-pora, kerlap-kerlip lampu di mana-mana, dan aroma alkohol yang menyeruak setiap kali aku membuka mata di pagi buta. Sudah kubereskan sisa-sisa botol minuman dan muntahan ketika Evelyne mencuat dari balik pintu kamar dengan terburu-buru. Matanya berkantung, surai-surai pirangnya terlihat seperti sekumpulan benang kusut.

“Aku terlambat!”

Pekikan itu disusul dengan daun pintu kamar mandi yang mengatup kasar. Selanjutnya terdengar suara tetesan air bertemu lantai selama beberapa menit, sebelum sosoknya keluar, masih dengan terburu-buru, berbalutkan jubah mandi kremnya dan melesat ke kamar tanpa berkata-kata lagi.

“Mau ke mana?” tanyaku dengan volume suara agak kencang agar dia mendengar. Pakaian-pakaian dari pengering kukeluarkan dan kutaruh di keranjang.

“Ke rumah Hazesmooth! Dia memintaku agar pergi ke sana pagi ini jug—shit! Sudah jam delapan! Kenapa matahari terlihat redup begitu?”

Aku melongok keluar jendela. Benar, langit terlihat begitu redup. Matahari tersembunyi di balik awan-awan kelabu. Seharusnya dia tak merasa asing dengan ini, sebab semalam pun, dirinya pulang basah-kuyup akibat terguyur hujan.

Akan tetapi, mengapa hal ini juga terasa begitu tak asing bagiku?

Seperti de javu.

Aku masih berkutat dalam kontemplasiku kala Evelyne keluar dari kamar dengan gerakan bar-bar, dan membongkar-bongkar lemari, rak, dengan tak sabar. “Kau lihat mantel buluku?”

Sebuah kesadaran menghantam kepalaku dengan keras. Aku mengerjap. “Ehm. Coba kau lihat di gantungan pakaian di kamar.”

Dia bergegas masuk ke kamar, dan aku langsung menyembunyikan benda yang baru akan kuambil dari dalam pengering—mantel bulu yang dicari Evelyne—lantas menimbunnya dengan pakaian lain. Ketika dia muncul kembali, lisannya berserapah samar.

“Tidak ada. Oh, Tuhan, aku tidak bisa keluar hari ini tanpa benda itu.”

Kurasakan ludahku membeku sehingga begitu kesulitan menelannya.

Karena itulah aku menyembunyikannya, Lyn, batinku.

Dia seolah frustrasi, mondar-mandir tak keruan, dan mengeluhkan keterlambatannya. Beberapa menit kemudian dia mengumpat, “Persetan!” lalu berderap keluar dari rumah ketika kudengar suara klakson mobil di depan sana.

Barulah pada saat itu, aku merasa lega. Kualihkan atensi kembali pada mesin cuci, mengeluarkan pakaian-pakaian yang sebenarnya sudah kering, termasuk jaket bulu yang dicarinya tadi.

***

“Apakah ini kediaman Miss Winter?”

Suara itu tegas, asing dan formal, membuatku menegang dan menegakkan tubuh. “Ya?” Suaraku serak.

“Apakah Anda keluarganya? Miss Winter mengalami kecelakaan di Salvatore, nyawanya tidak terselamatkan.”

Tidak. Tidak! Bukankah jaket bulu itu sudah kusembunyikan dan tidak dia kenakan? Bukankah dalam mimpiku, Evelyne menjemput kematiannya dengan benda itu menempeli tubuhnya? Semestinya dia tidak akan mati bila benda itu tak dibawanya!

“Excuse me?”

Aku tersentak. “Ah. Maaf …. Ya, aku teman yang tinggal bersamanya. Aku akan segera ke sana.”

Ketika aku tiba di TKP, kerumunan massa dibubarkan. Aku diminta untuk mengonfirmasi identitas mayat. Sosok itu memang Evelyne, terbujur di jalanan yang basah oleh hujan tadi siang. Rambut pirangnya kini diwarnai merah pekat yang agak kehitaman. Dan di tubuhnya melekat mantel bulu yang persis sama dengan yang kusembunyikan tadi pagi.

Tinggalkan komentar