Secangkir kopi hitam di atas meja sudah tidak lagi mengepulkan uap. Namun, aku masih tidak mau menyesapinya, meski tenggorokan telah memekikkan rasa dahaga.
Kutelan saliva sebagai gantinya. Aku sudah berjanji padamu. Tak akan minum duluan sebelum engkau tiba, menemani separuh hariku ke depannya.
Agar tidak makin tergoda, kuhijrahkan atensiku memperhatikan sekeliling. Di Sabtu sore, kafe ini lumayan ramai. Sudut mataku menangkap beberapa gadis remaja di meja sebelah yang melirikku lalu saling berbisik. Tidak perlu cenayang untuk memprediksi bahwa mereka sedang menjadikanku topik perbincangan. Kubalas tatapan mereka dengan seulas senyum yang kusetel semanis mungkin. Seperti yang kuduga, mereka gelagapan dengan wajah menyemburat merah.
Aku mendengus geli.
Kapan kau datang? Arlojiku bilang, sepuluh menit lagi, genaplah satu jam aku menantimu. Aku mulai gelisah. Bukan karena tatapan para bocah belia kini menerjangiku tanpa disembunyikan. Aku menikmati menjadi bahan perhatian mereka. Penyebab kegelisahanku adalah keraguanku bahwa kau akan datang.
Satu jam dua belas menit. Aku kecewa. Nyaris saja aku menyerah dengan rasa haus yang menggelegak di batang leher. Dan nyaris saja kuraih cangkir kopi di meja dan memfinalkan penantian, ketika pintu kafe berdentingan. Wujudmu muncul dari sana, dengan surai berantakan, wajah kelelahan, dan ekspresi semrawutan.
“Duh, lama, ya?”
Kupaksakan seulas senyum sambil bersandar. “Lumayan.”
Kaubenahi rambut panjangmu dengan memanfaatkan kamera depan ponsel setelah duduk di hadapanku.
“Pasti kamu tadi udah mau minum, ‘kan? Hu, sok banget segala pakai bilang bakal sabar nggak minum sampai aku datang.”
Aku terkekeh. Ini yang selalu kusuka darimu, perasaan penuh percaya diri sebab kamu tahu bahwa mata ini tidak akan pernah melihat selainmu. Kau mempersilakanku minum, segera setelah kamu memesan milikmu sendiri: secangkir teh hijau tanpa gula.
Jemarimu yang melingkar di tepian cangkir berhenti bergerak kala aku bertanya, “Dari mana?”
“Si Rafi,” jawabmu, “dia tadi minta aku mampir dulu ke studio foto kelar nonton tadi, jadi ya, aku dateng agak telat. Kamu … nggak papa, ‘kan?”
Senyumku musnah seketika. Kuatur napas demi meredakan pergolakan di dalam hati, lantas menyahut dengan gumaman. Seolah tak merasa bersalah, kamu malah lanjut mencerocos seputar bagaimana kamu dan dia menghabiskan waktu bersama sebelum menghampiriku.
Kuangkat sebelah tangan, menghentikan selorohmu.
“Kenapa?” kau bertanya.
Kuhela napas berat. “Balik, yuk.”
Keningmu berkerut. “Balik? Tapi aku, kan, baru nyampe. Kamu juga belum ngasih aku kado, atau ucapan selamat ulang tahun.”
Kuulas segaris senyum menenangkan. “Udah kusiapin, kok. Di mobil. Yuk.”
Kita berjejeran keluar usai menghabiskan minuman, masih diiringi tatapan para gadis belia yang lantas membuatmu berceletuk, “Makanya, jadi orang tuh jangan ganteng-ganteng amat. Jadi bahan perhatian, ‘kan.”
Aku mendengus. “Jadi ganteng pun percuma kalau kamu cuma ngelihat aku sebelah mata dan jadiin aku pilihan kedua,” gumamku cepat.
“Apa? Kamu ngomong sesuatu?” tanyamu, sembari mengejar langkahku yang panjang dan terburu. Aku hanya menggeleng, lalu memberimu seulas senyum tanpa berminat menjawab sampai kita tiba di parkiran yang cukup sepi manusia.
“Kamu masuk dulu ke dalem mobil. Aku ambil kadonya.”
Kamu bersorak, “Yey, asik.” Kaulakukan apa yang kuperintahkan. Kukeluarkan benda yang akan menjadi kado buatmu hari ini. Menimangnya sebentar. Lalu ikut masuk bersamamu.
“Tutup mata kamu,” ujarku dengan kado tergenggam di balik tubuh.
Sembari tersenyum, kamu memejamkan mata. Kulirik kanan-kiri, lantas menutup pintu mobil. Menimang-nimang hadiahku dan menyeringai.
“Ini hadiahku, buat kamu.”
Sembari berkata demikian, tanganku mulai menggores dan menusukkan belati yang kugenggam, pada salah satu kelopak matamu yang masih terkatup rapat. Tololnya, kamu malah membeliak kaget sembari berteriak. Membuat mata pisau mengenai bola matamu.
Kau memberontak. Namun, pemberontakan di tengah kepanikan jelas bukan opsi yang baik, terlebih jika kamu tak memiliki kesiapan atau antisipasi bahwa semua ini akan terjadi. Dengan wajah dibaluri darah, kamu menjerit, memaki, memohon ampun, menggapai-gapai dengan lunglai, berusaha menahan lenganku yang masih terus bekerja.
Kutindih kakimu. Sebelah tanganku menjepit kedua lenganmu. Mulutmu kubungkam dengan mulutku, dan kurasakan anyir dan asin dari darah yang menempel di sana.
Ketika pada akhirnya kamu berhenti meronta dan terkapar bersimbah cairan merah dengan sebelah bola mata mencuat keluar, aku tahu kau sudah kelelahan. Tak lagi punya daya.
Desahan puas kuembuskan. Kusobek kancing kemejamu. Belati penuh darah, kali ini kuhunuskan pada jantungmu. Kamu mengejang sebentar, sebelum kembali tertidur dan tak bergerak lagi dengan denyut yang tiada.
Belati kutimang dengan tangan bersimbah darah. Mobil ini jadi kotor, tapi ini bukan masalah besar. Akan ku tenggelamkan ia, dan kau, dan aku, agar tiada lagi yang bisa menemukan dan memilikimu selainku.
“Selama ini kamu selalu memandangku sebelah mata, ‘kan?” tanyaku padamu yang tak lagi bernapas. “Maka kuwujudkan keinginanmu. Selamat ulang tahun, Sayangku.”
