Engkau adalah hibrida dari doa dan pengharapan, yang berawal dari mimpi dan angan. Kemudian, kujejalkan engkau dalam lafal romantis antara aku dan Pemilikku, pada penghujung malam yang dingin dan sunyi.
Barangkali, peluh tak akan selalu menjelma tawa. Ada kalanya ia hanya bermuara pada sesal tiada tara. Namun, aku percaya, di akhir masa ia berbuah pahala yang mengganda. Tiada yang sia-sia. Sebab semuanya pasti dihitung. Pasti dihitung …
Demikianlah engkau tak kuberi limit masa. Karena kau tak berbilang sekon, atau berapa kali datang dan perginya surya.
… adalah sekumpulan semoga
Yang kuharap kan menjadi ‘akhirnya’
