Dear, Abang
Melalui apa yang terjadi pada suatu malam, saya punya spekulasi bahwa ada suatu hubungan yang mengikat kita berdua dalam satu simpul yang erat. Bersama-sama, kita bisa memberinya nama. Simpul love-hate, mungkin?
Mulanya, saya pikir kamu membenci saya, karena selama ini terus-menerus meneror saya dengan aura yang mengintimidasi dan membuat saya masuk ke dalam lonjakan histeria akibat ketakutan.
Sampai akhirnya, suatu malam, kamu menelusup masuk ke dalam dunia mimpi saya dalam kuantitas yang begitu banyak. Namun anehnya, eksistensi kolonimu tak membuat diri saya yang ada di dalam dunia itu berperilaku seperti saya di zona nyata bila bersua denganmu. Saya yang di sana tidak teriak-teriak histeris, atau meloncat-loncat bagai terkena pengaruh mantra tarantallegra. Saya yang di sana begitu menyayangimu, mengasihimu dengan sepenuh hati.
Ini aneh ‘kan, Bang?
Saya percaya bahwa selain bunga tidur, mimpi pun bisa merupakan cerminan futurum, atau bisa juga menjadi sebuah wadah pemberian prokognisi yang jitu. Itulah mengapa saya selalu membiasakan diri untuk mencatat mimpi-mimpi yang masih saya ingat kala saya terjaga.
Walhasil, berkat kejadian di dalam mimpi yang entah kapan terjadinya itu, saya merasa luapan ketakutan yang selama ini bercokol di dalam diri saya meluap entah ke mana.
Kepada: Makhluk Tuhan yang paling seksi, sang Scolopendra dalam berbagai spesies.
(Tetapi kalau kamu tiba-tiba muncul lagi di hadapan saya, secara nyata, saya tak bisa menjamin respons saya bakalan sama seperti reaksi saya di dalam mimpi.)
