“Memulai adalah gebrakan paling sulit,” katamu di sela-sela senja yang mulai menua. Pipimu tertopang pada tangan dan lenganmu menopang ke atas meja. Pose rutin yang selalu kaulancarkan jika berkunjung. Pose para pemalas.
Ini adalah keratusankalinya kalimat serupa mencuat dari lisanmu. Dan keratusankalinya pula, timpalanku selalu serupa,
“Hm?”
yang kaubalas dengan balik mencebik. Kini kakimu telah kaurentangkan lurus-lurus, seolah kau baru saja habis bekerja berat dan bukannya tidur siang.
“Tolong bikinin minum, dong. Seperti biasa ya, kopi hitam pekat dengan komposisi 2:1 dengan gula. Hehehe.”
Pintamu kutimpali dengan delikan malas. Namun, tetap saja, aku tidak pernah diberi kuasa untuk menolak. Kau tahu walau terkesan akan mengelak, aku selalu mematuhimu seolah semua titahmu adalah sabda Yang Mulia. Makanya kau hanya tersenyum, menampakkan deret geligi rapi yang putihnya mirip iklan pasta gigi setiap kali aku membanting kaki, lalu terkekeh penuh kemenangan ketika aku beranjak. Seperti kali ini.
Dua tahun setengah kulibatkan diri dalam hubungan yang lebih mirip master dan ajudan ini. Bermain petak-umpet dengan kekasih sahmu biar citramu tidak tercoreng karena ketahuan menyeleweng. Sudah belasan kali kuminta kau berjanji untuk meninggalkannya untuk pindah padaku sepenuhnya, tapi balasanmu selalu konstan.
“Memulai adalah gebrakan paling sulit, Ra.”
Bara di angkasa telah padam dalam rengkuhan malam ketika aku kembali. Kaujemput secangkir kopi yang aromanya menggoda saliva, sedang aku menyalakan lampu yang tak sudi kaunyalakan sejak tadi.
Suara seruputan kopimu terdengar samar. “Hm …, nikmatnya. Aku memang cuma bisa begini kalau sama kamu. Cuma sama kamu aku lepas dari semua tuntutan. Kamu seperti pembebasku, Ra.”
Kata-katamu lepas begitu saja, tapi setiap garisnya membuatku bertanya. Inikah yang aku inginkan? Kau terbebas dan aku terpasung karena cinta. Kau terlalu takut untuk pergi darinya dan aku terlalu takut untuk pergi darimu. Lingkaran api yang selama ini membatasiku tapi tidak kunjung aku lepaskan diri darinya.
Helaan napasku menusuk paru-paru lebih sakit dari yang kuperkirakan. “Aku mau tanya.”
Kau melongok sejenak dari cangkir kopimu.
“Kamu sudah bicarakan perceraian itu sama istrimu?”
Ting.
Gelas kopi menyentuh tatakan dengan denting samar. Kau menyergah gusar, “Ra, kita harus pelan-pelan. Aku butuh waktu.”
“Gimana semuanya bakal terjadi kalau kamu bahkan nggak mau mengakhiri semua ini?”
Kau mendesah. “Aku mau, Ra. Tapi mengakhiri ini berarti memulai hal baru. Memulai itu nggak mud—”
“Aku capek menunggu.”
“Ap—Ra?”
Dalam bola mata sewarna kopi ada riak yang terpancar. Biasanya aku akan lengah. Biasanya aku akan luluh pada redupnya binar yang menggelantung di sana. Tetapi kali ini, kuringkus kesakitanmu dengan duduk menegak. Sejenak aku ingin menertawakan ketololanku. Dunia terus berputar, waktu terus melaju, tetapi aku masih bertahan dalam ketololan yang sama. Kini aku sadar, kestagnanan ini mengekang dan lama-lama membunuhku. “Kita putus.”
“Ra, kamu nggak bisa begini ….”
“Aku bisa. Aku bisa begini. Aku bisa dari dulu, tapi aku cuma nggak mau. Sama seperti kamu. Kamu bisa saja langsung cerai kalau kamu mau. Tapi kamu nggak mau.”
Kutepis sentuhanmu dengan gerakan tegas. Tatap matamu kubalas dengan delikan agar kerapuhanku tak kautangkap.
Aku percaya kekuatan sugesti itu ada. Kali ini, kuyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa menjauh darimu. “Sekarang mending kamu pulang. Aku sudah bukan siapa-siapamu lagi.”
Aku beringsut. Menenggelamkanmu dalam pikiranmu sendiri di ruang tamu yang sunyi bahkan oleh decak cecak. Meninggalkanmu dengan pembuktian bahwa memulai itu tidak sesulit anggapanmu. Yang perlu kaulakukan hanyalah memulainya.
