[BL Hyunra | Burn It All | 0(P-W) Davina Leslaigh]
Ini peristiwa yang hadir bertahun-tahun silam. Setelah Davina Leslaigh berpamitan pada Madam Howl, yang mengantarkannya dengan pemahaman keliru yang nggak berminat Davy luruskan. Senyum lebar penuh haru serta lambaian tangan dan seruan, “Salam untuk orang tuamu!” tentu nggak bakal eksis kalau saja wanita itu tahu yang sesungguhnya. Bahwa kepulangannya bukan untuk maksud mulia, melainkan membunuh ibunya.
Area tempat tinggalnya nggak mengalami perubahan signifikan jika dibandingkan empat tahun sebelumnya. Debu tebal yang persis halimun dini hari masih menyambutnya, dengan ilalang tinggi di sisi kanan-kiri rumah mereka. Masih belum ada penduduk lain yang menghuni area itu, menjadikan hunian mereka sebagai satu-satunya tempat tinggal makhluk hidup, selain kandang kuda yang bau kotorannya menyeruaki udara.
Laki-laki bajingan itu suka berkuda. Roda memori dalam ingatan Davy memberinya ingatan itu ketika kakinya melewati pelataran dan ekor matanya melirik kandang yang remang-remang. Suami ibunya–yang untuk menyebutkan namanya saja Davy nggak sudi–memelihara seekor kuda cokelat yang perawatannya nggak main-main. Itu juga yang menjadi salah satu alasan lain mereka memilih lokasi ini sebagai rumah baru, selain keinginan menepi dari sorotan; melepaskan gelar kebangsawanan, menanggalkan titel Ratu dan Raja Dunia Pengadilan Inggris, dan (yang satu ini Davy yakin merupakan tujuan utama), kabur sebelum ketahuan. Ketahuan bahwa ibunyalah yang pertama kali menyeleweng. Ketahuan bahwa dua pengacara kondang sudah lama terlibat affair.
“Dear? Kaukah itu?”
Riak dalam bola mata Farah Patricia Webster amat jelas ditangkap Davina, begitu ia berdiri di depan pintu. Namun, Davy nggak begitu ambil pusing. Ia biarkan saja tubuhnya direngkuh begitu erat oleh perempuan yang melahirkannya, tanpa bicara sepatah kata pun demi membalas setiap kalimat rindu dan pertanyaan seputar kabar yang berselaput haru. Sementara itu, atensi Davy sudah kadung menghunjam satu-satunya lelaki di rumah itu, yang membelalak horor dan bertingkah gelisah di kursinya, seolah yang dilihatnya adalah hantu; dia pasti nggak menyangka kalau Davy masih hidup dan bakal kembali.
Timpalan Davy untuk ayah tirinya adalah segaris seringai culas, yang bermakna: ‘Aku datang untuk menebus utangku padamu, Brengsek.’
Rengkuhan ibunya terlerai, dan Davy kembali pasang muka default. Wajah wanita di hadapannya kuyup oleh air mata, dan dia sama sekali nggak menangkap keanehan bahwa suaminya sudah berubah jadi patung di sofa, bukannya datang menghapus air matanya dan ikut menyambut putri tiri yang telah lama hilang.
Tangan Farah berlarian di wajah putri semata wayangnya. Merabai setiap kontur di sana: pipi, hidung, bibir, dan kembali lagi ke pipi.
Melihat gelagat bahwa akan ada berondongan pertanyaan yang mencelat dari lisan ibunya, Davy lekas saja berkilah, “Mom. Aku lelah. Bisakah aku ke kamar sekarang.”
Mau nggak mau, Farah menyanggupi. “Tapi kamu masih berutang penjelasan pada Mom. Besok pagi, kamu akan menceritakan segalanya. Mengerti? Sekarang, ayo kita ke kamarmu.”
Davy mendengkus dalam hati. Satu-satunya utang yang ia punyai bukannya penjelasan, dan ia memang datang untuk menyelesaikannya malam ini.
Ketika malam beranjak sedemikian larut, dan kerik jangkrik dan teriakan burung hantu menjadi penguasa keheningan, cewek itu turun dengan perlahan ke bawah. Di tangannya yang beraroma bensin telah ada sebatang korek api yang akan menumbuhkan embrio harapannya; api yang menyala dan akan tumbuh besar, memanggang tubuh dua manusia yang lelap dalam pengaruh obat tidur.
Crass ….
Bara di tangannya akhirnya memantik. Hidup. Tumbuh dan menggelepar ditampar angin. Kemudian berkobar-kobar minta sambaran. Ketika batang kecil dengan kepala yang menyala itu Davy jatuhkan, mereka berlarian ke sekitaran. Tumbuh semakin besar di balik punggung, seiring setiap jarak yang Davina hasilkan ketika menjauh dari sana, bersama mulutnya yang menyiulkan simfoni kematian.
Ketika pagi dijelang, yang bercerita bukan lisan Davina Leslaigh dan bukan pula soal kepergiannya. Melainkan kabar tragis dari kebakaran satu rumah yang menewaskan sepasang pengacara ternama. Lembaga otoritas menutup kasus dengan kesimpulan yang salah: seseorang yang dendam membakar rumah kedua pengacara dan kabur dengan kuda curian. Namun, kisah sebetulnya masih tertimbun jauh di balik reruntuhan, sampai detik di mana pelaku utama menyeberangi dunia.
[]
