Without Me

Babak Satu

Pintu yang terbuka langsung menghantarkan gedebuk familier akibat benturan sesuatu pada lantai, ke gendang telingaku. Kehebohan itu disusul jeritan yang tidak pernah absen mengiringinya.

Setiap dihadapkan dengan momen ini, aku selalu berharap dinding kamar ini kedap suara, atau lebih baik aku saja yang tuli sejenak; benar-benar tuli, bukannya sengaja menulikan diri seperti yang senantiasa kuterapkan. Sebab seberapa keras pun aku mencoba tak mendengar dengan menyumpalkan earphone ke lubang kuping,  ketidaknyamananku bakal tetap bercokol di sini. Pintu yang tak lagi punya kunci dan selau menderit setiap digerakkan itu akan terbuka, dan tempat keributan pun pindah kemari.

“Brak!”

Lihat? Pintu itu benar-benar terkuak. Ibu jatuh ke dekat kakiku. Menangis. Menjerit. Meminta ampun. Kemudian berputar ke belakangku dan meraup kakiku, seolah memohon tanpa kata, biar aku melindunginya dari lelaki yang menjulang dengan tampang garang dan ganas di depan kami, seperti sebelum-sebelumnya.

“Minggir kamu, Tara! Ibumu ini perlu dipukuli, digampar, dikasih pelajaran!”

Tidak akan. Aku bergeming. Alih-alih, malah kupasang badan sambil memelototi lelaki itu. Sudah waktunya dia sadar, dia bukan yang terhebat di dunia.

Berkat kelancanganku, ia semakin geram. Tangannya ia ayunkan ke pipiku.

Plak!

“Kubilang, minggir!”

Wajahku panas. Juga, perih. Namun, aku kembali memandangnya nanar, masih sanggup pura-pura kuat. Berdiri tegar menghalanginya dari tubuh Ibu. Sakit itu kutahan dalam diam. Kutahan suara apa pun untuk kulisankan, sekalipun cuma kata “aduh” atau “ah”. Bibirku kugigit agar rasa sakitnya pindah.

Sebagai gantinya, kudorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga, agar sosoknya keluar pintu. Pada momen inilah kusyukuri langkahnya yang jadi pincang pasca kebakaran di rumah kami dua tahun yang lalu. Peristiwa itu yang membuatnya kehilangan pekerjaan sebagai bankir dan menganggur di rumah sampai kewarasannya dilahap stres. Tulang punggung pun pindah takhta pada pundak wanita yang kini rebah sambil terisak di kakiku.

Saat peristiwa kebakaran rumah kami dua tahun silam itu berlangsung, aku tengah bersantai di kolam renang yang tidak jauh dari rumah. Baru setelah seorang teman sekelas yang juga anak tetangga berlari menghampiri dan mengumumkan padaku kabar itu dengan panik, kupacu derap kakiku pulang, masih berbalutkan baju kaus dan celana pendek yang kuyup dan tanpa alas kaki.

Kobaran api yang melahap separuh bagian depan yang merupakan kamar orang tuaku adalah apa yang kutemukan kemudian. Aku tercengang untuk beberapa jenak. Otakku melompong. Waktu tangisan histeris Ibu yang ada dalam dekapan istri seorang tetangga menyobek kekosongan itu, aku baru tersadar, ayahku masih ada di dalam rumah kami, tertidur lelap dalam pengaruh alkohol sehabis pesta-pesta dengan rekan kerjanya semalam.

Petugas pemadam belum pula datang. Warga lain yang mengelilingi hanya menjadi penonton kaku, terlalu pengecut untuk menghadang neraka. Akulah yang kemudian menuruti semangat remajaku yang konyol, mengguyur diri lagi dengan seember air yang kurebut dari tangan seorang tetangga, menyambar helm orang dari motor yang sudah dipindahkan agak jauh, dan berlari menerabas api.

Asap menghalangi penglihatanku. Bau terbakar perlahan tercium samar dari balik helm yang kukenakan. Hawa di sekeliling mendidihkan basah dari permukaan tubuhku dan menguapkannya dengan cepat. Secepat itu pula kuloncati kayu-kayu jatuh demi menemui kamar orang tuaku.

Brak!

Kutendangi pintu kayu yang terbakar. Pintu itu menganga, dan kutemukan lelaki yang kucari menjerit dan mengerang sebegitu pilunya; matanya memancarkan rasa sakit luar biasa, ketakutan, syok, juga syak. Sebab kakinya kini ditindih lemari yang separuh membara.

Kuhela dirinya sekuat tenaga dari lengan yang tak terbakar, memadamkan api di celananya dengan menendangnya, dan jeritannya semakin melolong. Bau daging terbakar mulai tercium di antara bau pembakaran benda lainnya. Kubawa tubuh yang beratnya dua setengah kali berat badanku itu ke punggung, dan berusaha mempetahankan kekuatan kaki juga punggungku demi mencari jalan keluar, sebelum kesadaranku lindap.

Dahulu aku bersyukur sudah menyelamatkannya. Kuanggap peristiwa itu sebagai momen berharga di mana aku–anak perempuan berusia lima belas tahun, bertindak superheroik di antara lautan orang dewasa tak berguna, sebagaimana yang ramai diberitakan di televisi dan berita daring untuk sepekan. Itu sebelum kemudian aku tahu, bahwa peristiwa itu bakal menginvers hidupku, hingga yang ada hanyalah penyesalan.

Sebab penyelamatnku adalah langkah salah. Tindakan heroikku membuat Ayah hidup sebagai lelaki tidak berguna yang mencari pelampiasan dengan memukul Ibu, mengubah Ibu jadi perempuan tolol yang enggan memisahkan kehidupannya dari Ayah lantaran rasa iba, dan aku sebagai orang yang setiap hari melihat peperangan mereka.

Babak Dua

Seperti yang kubilang, rentetan peperangan itu sudah jadi rutinitas hingga tak lagi terasa aneh atau ajaib. Keesokan harinya pun keributan itu tak lungsur dari kehidupanku.

Akan tetapi, barangkali titik jenuhku sudah mentok kini, hingga rasanya, aku sudah sangat-sangat muak.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, tidak kubiarkan tangan laki-laki itu mendarat di pipiku. Tidak kubiarkan ia bersikap superior seolah ialah pemegang kuasa akan tubuhku dan Ibu; seolah punya hak untuk menyakiti kami. Kepalaku dialiri darah, gairah, dan adrenalin yang melimpah, hingga aku hilang arah.

Kutangkap lengannya dengan geram. Kakiku terangkat, kemudian menyodok perutnya kuat-kuat sampai ia ambruk ke lantai karena kuda-kudanya yang memang tak pernah lagi kukuh.

Bukan hanya ia yang syok dan mengangakan mulutnya. Ibu pun tercengang. Sedang diriku, seiring kesadaran yang pelan-pelan kembali dari balik adrenalin yang menyurut, mulai merasa bersalah dan gemetar ketakutan; mengantisipasi setiap omelan. Untuk beberapa jenak, kami saling diam dicekam suasana.

Yang merobek keheningan itu adalah gelegar bentakan dari ayahku: “Anak sialan!”

Dan yang membuatku terkejut dari segalanya, sekaligus melesakkan rasa kecewa ke dalam dada hingga ulu hatiku perih, adalah tamparan dari ibuku, yang tidak pernah kusangka-sangka. Ia malah jadi lebih murka. Sama sekali tiada gurat di wajah dan gerak tubuhnya, bahwa ia berterima kasih karena aku sudah melindungi dan membelanya selama ini.

“Apa-apaan kamu?! Itu ayahmu! Jangan jadi anak kurang ajar! Lekas, minta maaf!”

Saat itu, dengan napas yang berantakan, mataku memburam. Kini kusadari satu hal. Tak cuma aksi heroikku menyelamatkan Ayah yang salah, tetapi juga tindakanku membela dan melindungi Ibu. Ibuku ternyata tidak kurang bodoh dari suaminya. Rupanya aku hidup bersama manusia-manusia tolol. Seharusnya, kubiarkan saja mereka semua mati karena ketiadaan otak.

Kesadaran itu membangkitkan rasa lelahku. Aku sungguhan muak harus hidup dalam lingkaran seperti ini. Yang satu kelewat tolol karena meratapi nasib dan melampiaskannya pada kelakuan tolol yang lain, yang satu lagi begitu tololnya bertahan demi perasaan tolol yang ia sebut cinta. Dan, aku; manusia yang muncul dari hasil tindak tolol kedua orang itu adalah yang paling tolol di sini, karena telah menyelamatkan mereka dan menceburkan diriku dalam jurang ini.

Sungguh, jika ditanya apa yang paling kusesali seumur hidup, maka aku bakal menjawab dengan lantang: menyelamatkan orang tuaku.

“Minta maaf!”

“Ogah!” sergahku, tidak sanggup lagi menahan diri. “Kenapa harus aku yang minta maaf?! Yang salah laki-laki bajingan it–”

Plak!

Sebelah pipiku kena tamparan lagi. Kali ini, rasa panas dan sakitnya menyengat sampai ke batang tenggorokan, membuat mulutku masam dan kering. Napasku kian berantakan. Sesuatu dari mata tumpah ruah membasahi pipi.

“Anak durhaka! Aku menyesal sudah melahirkanmu! Lebih baik kamu nggak pernah ada di dunia ini! Nggak berguna!”

Emosiku meletup dalam wujud semburan kalimat: “Kata-kata itu harusnya ibu kasih ke laki-laki itu! Memangnya dia berguna?”

“Dia ayahmu!”

Napasku semakin memburu karena kesal sekali. Kuusap pipi dan kularikan bola mataku bolak balik pada laki-laki yang sengaja pasang muka memelas, juga pada ibuku yang entah mengapa tampak begitu superior di depanku, padahal selalu menciut jika dipukuli suaminya.

Kini aku sadar, selain tolol, selama ini aku juga tengah hidup di tengah manusia-manusia munafik. Inilah lumbung dari ironi dunia.

Muak dan jijik dengan semua ini, aku berderap keluar, sesudah memastikan kalimatku didengar oleh mereka, “Oke, aku juga nggak mau hidup sama kalian! Orang-orang tua tolol! Mati saja kalian!”

Kubawa kakiku yang telanjang menembusi kerumunan tetangga yang selalu kepo tanpa pernah sudi membantu. Mengabaikan setiap cemooh yang sempat menyambangi kuping, aku berlari, berlari, berlari, benar- benar ingin enyah. Isakku keluar. Tak kupedulikan langkah ini bakal berlabuh ke mana. Kulewati pelataran perumahan tetangga yang penuh lintangan kabel, deeret setapak berkanopi rimbun, juga trotoar penuh pedagang kaki lima.

Derapku baru berhenti ketika timbunan asam laktat di kaki menjerit. Saat terjatuh di pedestrian sepi yang terhalangi rerangka besi, aku baru menyadari hari sudah petang. Langit merah dan di bawah kakiku, ada lubang besar menganga. Rupanya aku berlabuh di atas jembatan.

Genangan air di lubang itu terlihat gulita karena tidak dapat jatah siraman mentari senja. Bayangan gedung tinggi menghalanginya. Kegelapan di bawah sana justru seolah memanggilku. Melambaikan tangan, mengajakku menjemput keabadian.

Bukankah orang tuaku sudah tidak mau bertemu? Lantas, bukankah sebaiknya mereka hidup tanpaku saja? Akan kuawasi mereka dari surga, atau neraka pun tak apa sebab telah kucecapi trialnya semasa di dunia. Akan kusaksikan apa jadinya wanita itu tanpaku yang melindunginya, dan apa jadinya lelaki itu tanpaku yang memasak untuknya.

Maka: aku meloncat.

Dan kegelapan pun merengkuhku.

Dekap.

Lekap.

Aku ingin menghilang selamanya.

Babak Tiga

Tidak.

Aku masih bisa melihat cahaya itu datang dalam wujud segaris tipis. Tambah lama tambah lebar. Dan, ada juga suara yang datang, perlahan samar, kemudian makin keras terdengar, hingga kukenali sebagai dering bekerku.

Secara impulsif, aku mengulurkan tangan, membungkam jerit alarm. Namun, berkat itulah kesadaran menghentak kepalaku dan membuatku membuka mata lekas-lekas.

Aku masih hidup. Masih bernapas. Masih ada di rumahku, yang—

Sebentar.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Ibu mencuat dari sana, dibalut apron sewarna arang yang beberapa bagiannya ternodai tepung. Wajahnya sarat akan murka.

“Kenapa masih tidur? Katanya mau berenang bersama?!” serunya sambil bercakak pinggang.

Aku tercengang. Sudah sangat lama, tidak kusaksikan dirinya dalam busana rumahan di pagi hari. Sejak suaminya tidak bekerja lagi, Ibu selalu berangkat pagi dan pulang sore dengan setelan rapi dan riasan tebal. Ini sudah dua tahun berla–

Sebentar, sebentar.

“Ibu bilang—apa tadi? Berenang?”

“Lho, kok kamu jadi lupa? Tadi juga ada telepon dari temanmu, tuh, minta buat ngingetin kamu. Ayo, cepat, bangun! Jangan kayak ayahmu, masih ngebo, mabuk-mabukan semalam.”

Aku bangkit walau masih tercengang. Apakah ini mimpi? Ingatan terakhirku adalah momen di mana aku meloncat ke sungai karena bosan hidup. Mengapa aku tiba-tiba saja dibawa ke memori yang paling kusesali seumur hidup?

Kucubit tanganku. Sakit. Maka, ini bukan mimpi.

Ataukah mungkin, ketika aku meloncat, aku telah membentur sebuah portal yang membawaku melintasi ruang juga waktu?

Konyol. Aku tidak percaya pada hal-hal demikian. Akan lebih mudah menerima jika aku baru saja terbangun dari mimpi panjang. Mungkin peristiwa buruk yang kualami bertahun-tahun hanya deret pengalaman di alam mimpi dalam semalam. Mungkin …? Apa pun itu, setidaknya, aku bisa hidup pada momen di mana segalanya masih baik-baik saja.

Aku berangkat ke kolam renang tempat aku dan beberapa teman sekelas akan menghabiskan waktu di akhir pekan ini. Mencelupkan diri dalam air dan bersenang-senang, sebelum seruan itu benar-benar datang, mengabarkan satu hal: rumahku terbakar.

Ini pengulangan. Ini de javu. Ini misteri. Ini mimpi. Aku tidak tahu mana yang benar. Aku tidak tahu apa yang sesungguhnya telah dan tengah berlangsung, apa yang nyata dan mana yang mimpi, serta mengapa segalanya berlangsung seperti ini kembali. Namun, ada hal yang kuyakini. Aku tidak harus pergi ke rumahku. Aku tidak harus menyelamatkan ayahku. Aku tidak harus viral di berita karena aksi heroik. Dengan begitu, Ibu dan aku tidak lagi hidup tersiksa.

Kupatahkan pernyataan pertama. Aku ingin memastikan hal itu berjalan sempurna. Kuangkat tubuh dari permukaan air. Untuk membedakan saat ini dengan apa yang terekam ingatan, kali ini aku sempatkan diri membungkus tubuh dengan mantel dan mengenakan sandal.

Begitu aku tiba, api telah menyala nyalang. Lidahnya melahap separuh bagian depan. Ibu menangis histeris dalam pelukan tetangga. Dan, tidak ada satu pun yang berani menyelamatkan ayahku dari dalam sana.

Tidak juga aku.

Aku hanya mematung. Menatap kobaran merah yang makin ganas itu dengan nanar dari posisiku, bersama perasaan senang dan menang.

Matilah kau.

Yang tidak kuprediksikan kemudian adalah, ibuku yang merangsek ke arahku, menyambar kerah mantelku yang separuh basah, dan menyalak padaku, murka, “Kenapa kamu nggak pergi menyelamatkannya?!”

Babak Empat

Kupikir hidup ini akan pulih; ganti jadi baik dan layak. Faktanya, tiada satu pun yang naik dari kurva nasibku.

Piring nasi, sayur kangkung, dan sup tahu kutaruh di hadapan Ibu. Wanita itu tidak juga sudi bicara satu kata pun usai kasus tragis itu. Tatapannya kosong, diarahkan pada udara. Wajahnya jauh dari raut halus. Tak ada tanda bahwa ia sadar akan kondisi dan jalan hidupnya kini.

Akulah yang basuh tubuhnya dan ganti pakaiannya saban hari, lantaran ia tidak bisa apa-apa dan pantang sisihkan diri dari posisi duduknya kini, layaknya orang gila, atau patung yang tidak lagi dirasuk nyawa. Ia bukan lagi Ibu yang kutahu. Akal warasnya sudah hilang.

“Bu, ini sarapan buat hari ini. Kita nggak punya apa-apa lagi. Tapi aku bakal cari uang buat nanti, kok,” kataku.

Tidak ada sahutan. Kutarik napas. Kutahu, Ibu tidak bisa balas kata-kataku.

Tdak ada warisan yang ditinggalkan untuk aku dan Ibu. Yang ada hanya asuransi yang itu pun tidak banyak. Akulah yang harus tanggung apa pun: jadi tulang punggung, urus apa saja yang dibutuhkan hidupku juga ibu, juga pintar-pintar atur uang.

Kusangka, hidup usai ayah kubiarkan hangus dililit kobaran api, tidak akan buahkan hal buruk. Faktanya, yang kudapatkan hanya hari-hari yang kosong dan datar. Ibuku, rupanya sungguhan cinta pada ayahku hingga tak bisa hidup tanpanya dan jadi hilang akal. Ironisnya, aku yang ingin bahagia justru tidak punya harapan untuk bisa bahagia, lantaran dihinggapi tanggung jawab tunggal yang cukup banyak.

Salahkah langkahku? Toh, aku hanya ingin aku dan ibu hidup tanpa laki-laki itu dan kans baginya untuk sakiti wanita tolol itu. Salahku di bagian apanya?

Aku tidak langsung angkat kaki untuk sambangi kantor. Langkahku ditahan satu hal. Kupandangi pigura foto ayahku yang gagah dibalut jas abu-abu. Itu foto waktu ia diangkat jadi ka-cabang dari banknya. Foto waktu hidup baik-baik saja. Kini, tak ada lagi yang disisakan usai wafatnya. Tidak juga suaranya untuk bisa sahuti apa pun yang kutanyakan. Tidak juga ia yang suka lukai kami. Hanya sisa luka itu saja yang kurasakan.

Jariku kularikan pada ukiran huruf dan kurasakan konturnya:

M.E.

Kini aku tahu, akulah orang paling tolol di dunia ini.

[]

Tinggalkan komentar