Bloody Valentine

[BL Fawnia | Bloody Valentine | 0(P-W) Davina Leslaigh | 1212 kata]

An AstraFF Friendfiction, 2020

Semua tokoh adalah milik dinamo masing-masing

Warning: OOC! GJ! Fiksi yang bisa membuatmu mual-mual

If only I could, I wanna sleep forever

.

.

.


Di malam Valentine, empat bulan lagi, salju yang jatuh di kaki Goldwin bakal ditumpahi merahnya darah. Fawnia Calandra nggak punya kemampuan meramalkan masa depan, sehingga suatu malam, usai jadwal siarannya berakhir, ia masih bisa mengomeli Lylia yang usil seperti biasa.

“Haduh … nggak! Kamu kok, kerjaannya ngajak bolos melulu, sih?!”

Siluman kucing di hadapannya malah memamerkan cengiran. Nggak berapa lama, diganti dengan manyun manja. “Ayo dong, Kak. Udah lama lho, kita nggak makan bakso aci Bu Elin lagi. Udah …,” Lylia menghitung dengan jari, “lima bulan. Gara-gara huru-hara kiamat itu!” Mendadak, jari Lylia terkepal penuh emosi. Cuma sebentar. Lihat, cengirannya muncul lagi.

Lylia memang ekspresif. Waktu pertama kali ketemu, Fawnia pikir otot wajah Lylia kelewat lentur. Bukan berarti dirinya sendiri nggak bisa berekspresi macam mayoritas penghuni Sqientz atau Thief yang mirip es batu. Fawnia menumpahkan rasa dalam jalinan kata-kata, nyanyian, dan gerak tubuh. Berbeda dengan wajah Lylia yang seolah berisi semesta.

“Ah …, jangan malam ini, dong. Aku belum bikin tugas kelas PA Rav—”

Lilya menyambar, “Nanti tugas untuk kelas Bamake kubantuin, deh, Kak! Janji!” Dua jari teracung di depan mata. Fawnia bisa apa?

Setengah jam kemudian, mereka sudah mendarat di warung kaki lima langganan mereka di Setra. Dua mangkuk bakso aci terhidang di depan mata.

“Kak,” celetuk Lylia, “aku kok penasaran. Gimana ya, rasanya mati?”

Kuah kaldu dalam mulut Fawnia menyembur ke meja. Tukang bakso refleks merapal nama Tuhan. Pengguyur meja buru-buru minta maaf sambil cengengesan.

Usai mengelap meja pakai tisu rol yang mestinya ada di toilet, Fawnia berbisik cemas campur jengkel, “Apa-apaan, tuh? Aduh, Lia, kamu kalau punya masalah, cerita-cerita—”

“Ih, Kakak. Nggak, kok! Bukan berarti aku lagi depresi! Aku murni pengin tahu gimana rasanya mati. Gimana rasanya tidur dan nggak bangun-bangun lagi.”

“Kenapa kamu nggak tanya aja sana ke para hantu?”

Lilya menggeleng lemah. “Aku sudah coba tanya ke beberapa orang.” Jarinya membuka satu-satu. “Kak Pui, Kak Carissa, bahkan Kak Meisha, karena dia tukang cabut nyawa, tapi nggak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku dengan baik.”

“Emang jawaban mereka kayak gimana?”

Cewek Portal mencoba mengorek ingatannya. “Kak Pui bilang, ‘mati itu nggak enak. Enakan hidup lagi setelah mati!’. Kak Carissa bilang, ‘Mati itu sakit.’ Kalau Kak Meisha …” Gadis itu berdecak mengingat si malaikat maut malah mengancam mau cabut nyawanya saat itu juga. Meski tahu kalau itu bercandaan, Lylia keder juga mesti mati secepat itu.

Tawa Fawnia lepas mendengar cerita itu. “Memang kamu maunya jawaban yang kayak gimana, deh?”

“Yang kumau, jawaban yang benar-benar menggambarkan proses kematian secara perlahan. Biar aku tahu, mati itu kayak gimana.”

Fawnia menggeleng nggak habis pikir. “Kenapa sih, terobsesi banget buat mati?!”

“Ya aku kan, penasaran, Kaaak …. Huhuhu ….”

Dua bulan kemudian, Lylia datang pada Fawnia dengan raut ceria. Usai mencomot sebiji kentang goreng dari nampan si gadis blasteran, dari mulutnya terlontar gagasan mengejutkan.

“Kak, aku sudah tahu gimana caranya buat tahu tahapan mati!”

“Hah? Apa? Gimana?”

Lylia menepuk dada. “Aku sendiri yang bakal jadi bahan percobaan!”

Fawnia nggak pernah tahu kalau percobaan itu adalah praktik bunuh diri. Memang, katanya, Lylia nggak masalah ganti ras jadi hantu, tapi tetap saja itu keterlaluan. Namun, bukan Lylia kalau mau dikendalikan. Bahkan sang siluman kucing menulikan diri dari petuah Fawnia yang dianggap sahabat selamanya, meski diancam akan dibenci seumur hidup.

“Kak, ini nggak semengerikan yang dipikir, kok. Aku cuma pengin tahu rasanya mati, huhuhu.”

Jika Lylia adalah tipe yang pantang disetir, maka, bukan Fawnia kalau nggak mengalah di depan Lylia.

Percobaan pertama, 1 Desember, gagal. Arang batu bara di dalam kamar dibuang Ichikawa Yumi sebelum sempat mengisi kamar dengan gas karbon monoksida. Lylia dapat hukuman mendekam di labirin asrama sendirian tiga malam diawasi Connor. Akan tetapi, dia nggak kapok.

Percobaan kedua, 11 Januari, gagal. Sepotong steak berkandungan arsenik yang mau disantap justru diberikan Davina Leslaigh pada kucing yang mau jadi mangsanya. Kucing itu mati. Akibatnya, muka Lylia bonyok kena bogem si likan betina. Entah malang atau untung, Lylia masih belum menyicipi kematian. Baik oleh racun, maupun tangan Davina.

Fawnia pikir insiden yang bikin sang siluman kucing menangis dan memaki teman seasramanya itu memberi efek jera. Ternyata nggak. Lylia berulah lagi sebulan kemudian. Anggapan si cewek Mart kalau percobaan bodoh itu gagal seperti yang sudah-sudah, ternyata nggak terkabul.

Pada malam Valentine, salju yang jatuh di kaki bukit ditumpahi merahnya darah Lylia. Rencana untuk seluncuran berdua berubah jadi insiden di mana Lylia sengaja menjatuhkan diri dari lereng dan kepalanya terbentur batuan keras.

Fawnia yang syok, lekas memanggil bantuan. Ambulans tiba sepuluh menit kemudian, saat napas Lylia mulai memberat. Begitu sampai di bangsal emergensi, Lylia dinyatakan sudah tiada.

Seandainya Fawnia tahu sebelumnya kalau semua ini bakal terjadi, dia nggak akan mengamini rencana untuk ski berdua. Seandainya Fawnia punya gambaran akan masa depan, dia pasti bisa mencegah Lylia untuk bertindak bodoh. Namun, waktu telah berlalu dan nggak akan bisa diputar …

Sebentar. Waktu bisa diputar. Akademi punya kuasa untuk itu. Meninggalkan Lylia yang telah diselubungi kain putih, Fawnia berangkat ke tepi West Beach. Namun, yang dicarinya nihil. Keberadaan Fatima sang pengendali waktu dan minaretnya sama gaibnya dengan masa depan. Nggak ada seorang pun yang tahu, kecuali jika sang pembina akademi sendiri yang menghendaki.

Gadis berdarah separuh Kanada luluh dalam tangisan. Lututnya jatuh ke tanah. Teringat olehnya bagaimana pertemuan mereka dahulu di radio. Lontaran kalimat ejekan yang membawa kekariban. Rentetan ajakan yang lebih mirip pemaksaan.

Kak, ayo temani aku ke sini! Nanti kutraktir makan lobster yang enak banget!’

Turut membayang di pelupuk mata bagaimana sang siluman kucing mengusilinya dan kabur duluan.

‘Sini, kejar, kalau bisa, dong, Kak!’

Perjanjian jari kelingking di bawah tenda bakso aci Bu Elin …

‘Iya dong, Kak! Kita kan, sahabat selamanya!’

Selamanya … kata itu Fawnia lirihkan di tengah tangisan. Ini bahkan belum selama itu. Belum lama …

“Kak …”

“Katamu kita sahabat selamanya. Mana buktinya?”

“Kak?”

“Bahkan, saat ini aja aku masih ingat gimana suaramu yang cempreng manggil-manggil aku, tahu …”

“Kak Fawnia!”

Sentuhan yang mendarat di pundak membuat Fawnia terlonjak. Tubuhnya lemas mendadak, sewaktu menyaksikan Lylia di depannya, dengan kepala terbebat perban dan napas terengah, memandangnya cemas.

“H-h-hantu? Kamu udah jadi … hantu?”

Wajah di depannya malah cengengesan. “Sayangnya, nggak. Kucing, kan, punya sembilan nyawa!”

Selama beberapa detik, Fawnia coba mencerna segalanya. Tangannya terulur merabai wajah dan tubuh Lylia. Padat. Benar, Lylia belum ganti ras. “Hah? Kok?”

“Aku sudah tahu rasanya mati, Kak.” Lylia meringis. “Benar kata Kak Carissa, mati itu sakit. Kak Pui juga benar. Mati itu nggak enak. Enakan hidup lagi sesudah mati. Rasanya jadi kayak lahir bar—”

Kata-katanya terjeda ketika tubuh itu direngkuh Fawnia.

“Ya ampuuun! Aku khawatir banget, tahu? Kupikir kamu bakal ninggalin aku!”

Hanya terdengar kekehan samar sebagai jawaban. Fawnia melerai pelukan, demi menemukan Lylia yang tertawa.

“Ini nggak lucu, ih! Jangan diulangi lagi! Jangan mau mati lagi! Kalau kamu ninggalin aku karena mati konyol lagi, kubunuh kamu dua kali! Nggak ada lagi sahabat selamanya!”

Tawa Lylia malah tambah lebar.

“Eh, malah ngakak!”

“Kalau marah, Kakak kayak emak-emak bawel!” Sebelah tangan si cewek Portal melingkari bahu sahabatnya. Menepuk-nepuknya lembut. “Tenang, Kak. Aku masih punya …” Ia menghitung dengan jari. ” … delapan nyawa lagi!”

“HEH! Kok malah nagih?!”

Tawa yang nyaring itu terlepas lagi, sebebas butiran salju yang perlahan jatuh dari angkasa. Kenyataannya, nggak diperlukan kemampuan untuk mengulang waktu, jika kita mau menggenggam kesempatan yang kita miliki, dan mengisinya dengan kehangatan. Sebab hangat persahabatan yang dijaga, bakal lebih kekal dalam memori ketimbang nyala api.

[]

Tinggalkan komentar