Phantasmagoria (2)

[BL Serisa Ki | Phantasmagoria | 0(P-W) Davina Leslaigh | 899 kata]

An AstraFF Friendfiction, 2020

OOC! AU!

.

.

.


‘Tribal’, menurutku aliansi paling absurd sedunia. Trio bebal panjangannya. Terdiri dari diriku sendiri, bersama dua pengawalku yang karakternya amat kontras. Ada Eior, cowok keras kepala yang sering adu umpatan denganku. Personil ketiga justru anomali. Cowok macam Sean too good to be true. Dia hidup saleh kayak biarawan. Nggak pernah naik pitam apalagi melontar makian. Bersuara merdu dan rupawan. Jika aku dan Eior sudah tukar amukan, Sean bakal ngeteh sambil mengutip ayat Bible, “Kemarahan mengusir berkat Tuhan …” Dia bebal justru dalam ketenangan.

Aku memang putri, tetapi kuperlakukan dua pengawalku layaknya kawan karib, seolah nggak ada hierarki di antara kami. Kendati sering emosi kalau sudah beda pandangan dengan Eior, aku nggak pernah bisa atau ingin memecatnya. Kami sudah saling kenal sejak kecil. Kalau bukan karena Eior, aku sudah mati dalam pemberontakan yang menewaskan ibu dan ayahku sepuluh tahun silam.

Namun, alasan utama mengapa aku nggak pernah mau jauh darinya bukan itu. Melainkan karena aku suka dia. Suka dalam makna romantis, yang bikin pipiku bersemu.

Ssst …. Jangan bilang soal ini pada siapa pun. Yang tahu soal perasaanku cuma Ratu Arusa–kakakku. Pautan usia kami nggak jauh beda, hanya dua jam. Benar, dia saudari kembarku. Kuceritakan padanya seminggu lalu. Sejak kematian orang tua kami, dia yang naik takhta jadi penguasa. Tenang, nggak akan ada perebutan kekuasaan antara kami. Aku nggak punya minat jadi ratu; memusingkan diri dalam birorkrasi berbelit. Lagipula, aku juga tahu diri. Sebagai gadis yang sakit-sakitan, aku nggak berhak mengklaim kuasa.

Walau sakit-sakitan yang nggak kuketahui namanya apa sejak kematian kedua orang tuaku, aku bahagia bisa hidup seperti ini. Nyaman, tentram, aman, dan yang pasti, aku bisa mendapatkan apa pun yang kumau. Dilindungi dua pengawal tampan sudah cukup bagiku. Hidupku persis tokoh fiksi yang berkalang keistimewaan.

Namun, Tribal tetaplah aliansi nan absurd. Lihat saja bagaimana kami terbelenggu dalam ruang bernuansa putih ini, gara-gara keributan kecil yang kutimbulkan tadi pagi. Kuminta mereka mengambilkan kandang burung puyuh di pohon belakang rumah, tetapi nggak ada yang becus melakukannya. Maka kupanjati sendiri, lalu sukses jatuh menimpa mereka.

“Gara-gara si Putri, kita juga mesti nginap di sini,” Eior yang duduk di kursi, menggerutu. Tangannya sibuk mengupas kulit mangga.

“Berisik!” Aku tahu ini salahku, tetapi bukan berarti aku mau disalahkan. Eior brengsek.

Sementara Eior mencibiri omonganku, Sean bangkit dengan kaki pincang, mendekati ranjang tempatku rebah, dan menyuapkan sepotong jeruk untukku.

Lihat, Sean benar-benar cowok idaman; jenis laki-laki yang talk less do more. Coba kalau yang kusukai itu dia, aku tentu nggak bakalan merasa capek. Sayangnya, dia bukan tipeku. Aku nggak suka cowok kelewat baik dan nirmala. Aku doyan yang bisa bikin bangga kalau kutaklukkan. Seperti Eior.

Namun, kalau kupikir-pikir, aku sama sekali nggak tahu bagaimana perasaan Eior padaku. Meski agak nakal, dia nggak kelihatan pernah jalan dengan cewek selain aku. Hal ini mendorongku bertanya, “Hei, kalian pada nggak punya pacar?”

Detik berikut diisi dengan ringisan. Eior mengiris jarinya sendiri. Sepotong jeruk tergelincir dari tangan Sean.

Tingkah aneh mereka malah membuatku makin heran. Terbitlah konklusi sendiri dalam benakku. “Sudah punya?!” Tanpa sadar, nada suaraku meninggi.

“Belum, kok ….”

“Nggak usah ngaco! Kepo amat!”

Yang membentak, tentu saja Eior. Aku kepingin bilang, ‘tentu saja aku pengin tahu!’. Namun, melihatnya yang tampak emosi, yang kulontarkan malah, “Aku kan, cuma nanya. Jawab yang bener kayak Sean, coba! Kalau udah, ya bilang udah. Kalau belum, bilang belum. Repot amat!”

Eior hanya mendengkus. Kelihatan sekali dia betulan emosi. Respons yang membuatku jadi cemas sendiri. Apa itu berarti, dia betulan sudah punya kekasih hati?

Kusibak selimut putih. “Aku mau ke toilet!” Melangkah terseret ke kamar mandi dalam kamar itu. Mendinginkan diri dengan basuhan air di muka.

Begitu keluar kamar mandi, kudengar samar-samar obrolan kedua pengawalku. Sean yang menenangkan Eior, dan Eior yang ogah ditenangkan. Karena nggak habis pikir kenapa pertanyaan ini bisa bikin Eior emosi sampai segitunya, aku pun menguping diam-diam.

“Kenapa kamu bilang kamu belum punya pacar?”

“Karena aku nggak bisa mengaku, Eior. Masa aku harus bilang di depan Putri kalau–”

“Ya bilang aja! Memangnya kenapa? Takut dipecat? Dia nggak bakal bisa mecat kita!”

“Bukan gitu, Eior,” jawab Sean tenang. “Kamu tahu, ‘kan, kalau Putri Allsha suka sama kamu? Kalau kubilang punya, dia pasti bakal tanya, siapa. Kalau kujawab kamu, bisa-bisa dia patah hati dan kumat lagi.”

“HAH?!”

Kusumpal mulutku sendiri dengan telapak tangan sewaktu dua pasang mata menoleh padaku sambil membelalak syok. Tanpa peduli kalau aku sudah ketahuan menguping, aku larut dalam kekacauanku sendiri. Ini nggak benar. Masa … Eior dan Sean …?

“Nggak—ini nggak benar … masa kalian …?”

Sean menghampiriku. “Putri Allsha …”

“Jangan dekat-dekat!” Aku menolak didatangi siapa pun. Kutarik apa saja yang bisa jadi senjata dan kulemparkan pada mereka sambil menjerit, “Jangan mendekat!”

Pintu kamar di balik punggungku terbuka. Dua orang berseragam putih menahan lenganku, dan kurasakan lenganku disengat sesuatu. Seperti gigitan semut besar. Sensasi yang familier. Tenagaku lindap seolah setiap belulangku dicerabut, lalu aku ambruk ditahan mereka. Sebelum pandanganku redup oleh rasa kantuk yang nggak tertahankan, lamat-lamat kutangkap kehadiran kakakku yang wajahnya bergumul kecemasan.

“Dia nggak apa-apa, Dok?” Itu suara Ratu Arusa.

“Agak parah, tapi nggak apa-apa. Sudah diberi obat penenang. Dia sudah kambuh sejak kapan?”

“Sudah semingguan. Dia ngobrol sendiri, manggil-manggil aku Ratu, manggil-manggil tokoh karangannya waktu masih jadi penulis dulu, Tribal, Sean, dan Eior—apalah. Dia bahkan bilang, sudah jatuh hati pada …”

Aduh, sialan. Suara kakakku mulai hilang. Mataku nggak kuat lagi. Di mana Sean dan Eior? Mestinya mereka juga mendekat ke sini. Sebelum sempat menemukan wajah keduanya, segala cahaya dalam pandanganku terisap; disumbat oleh kegelapan yang pekat.

[]

Kugabungkan dua prompt:

{Don’t say I’m not your type, just say I’m not your prefered sexual orientation}

dan

{Kamu memang tidak tercela. Orang sebaik kamu cuma ada dalam karya fiksi}

hingga terwujudlah absurditas ini.

Tinggalkan komentar