Paper Swords

“Laporan, Yang Mulia.”

Wanita bergaun maroon hanya memalingkan wajah sejenak ke arahku.

“Terima kasih. Tolong, taruh saja di situ. Nanti kuperiksa.”

Kemudian, aku kembali jadi tiada. Hanya sekepul udara yang tidak lebih menarik dibanding burung kertas yang dideretkannya di lantai. Yakin, laporan yang kuletakkan di mejanya takkan disentuhnya sama sekali.

Usai pintu ruangannya kututup kembali, bergegas aku menyingkir ke puri pribadiku. Istana utama makin sepi selepas mangkatnya Raja dan negeri kecil ini diambil alih oleh putrinya yang baru datang dari menimba ilmu di negeri seberang. Dua bulan berlalu dengan wanita yang hanya tahu merajut dan mengurus kertas-kertas, menduduki posisi tertinggi.

Tiada diskusi seputar ke mana negeri ini akan diarahkan. Bahkan tiada pula prosesi pergantian hulubalang. Aku masih menteri keuangan yang entah sampai kapan menjabat. Negeri ini benar-benar ada di ujung tanduk, karena mendiang Raja yang meneruskan garis keturunan sama sepertinya: tidak cekatan, tak berdaya.

.

.

.

“Oh, Tuan-tuan. Maaf, sudah menunggu lama.”

Kududuk bersila di sisi puncak meja besar. Bergabung bersama tiga belas menteri lain.

“Tak masalah, Tuan Du. Bagaimana semalam? Masih aman?” Tuan Po, menteri kehutanan, bertanya.

Aku tertawa. “Apa yang kalian takutkan dari gadis kecil yang tidak berbakat memimpin? Tentu saja, dia tidak akan peduli apalagi tahu. Aman.”

Kekehanku menular. Seisi ruangan ikut dihinggapi tawa. Menit-menit berikutnya diisi dengan denting sendok emas bertemu pinggan-pinggan mahal. Dana yang terkucur untuk jamuan makan malam ini tak lebih sedikit dari yang akan kuperoleh nanti. Empat belas menteri sepakat. Posisi kaisar harus diduduki bangsawan berdarah murni yang punya dedikasi pada negara. Itu diriku.

“Tiga bulan.” Ta, Menteri Kesehatan, memecahkan derai tawa yang baru lenyap usai santapan ditandaskan.”Saya pikir itu masa yang cukup bagi kita. Jangan lagi menunggu lebih lama. Langsung hajar saja. Anak kecil itu akan kabur tunggang-langgang.”

Aku mengangguk-angguk. “Jadi, bagaimana, Tuan Ko? Persiapannya matang?”

Menteri Perang yang kutanyai mengangkat wajahnya dari cawan berisi arak yang disesapinya. Kumisnya bergerak-gerik. Suaranya yang aneh karena ramuan yang diminumnya sebulan lalu terdengar kemudian. “Matang. Siap melaksanakan bulan depan.”

Aku tersenyum. Bulan depan. Akan kami datangkan kejayaan bagi negeri ini setelah berpuluh tahun dikuasai pemimpin yang tidak andal dan diwarisi keturunan yang sama tidak berbakatnya pula. Sebulan lagi. Masa yang harus kulalui sebelum menjadi orang nomor satu di negeri ini.
.

.

.

.

“Mana Tuan Ta dan Tuan Ko?”

Ada masalah saat kudeta akan kami gencarkan. Dua menteri belum hadir. Tuan Ko mungkin menyusul. Yang jelas, pasukannya sudah bersiaga, hendak menyerang istana utama. Sementara Menteri Kesehatan tak tahu di mana. Hilang sejak tadi malam.

Kasak-kusuk para menteri berterbangan. Tak lama, jawaban datang begitu saja. Seseorang dari pasukan medis tergopoh memasuki pelataran.

“Tuan! Tuan! Tuan Ta ditang—argh!”

Sebatang anak panah menembusi jantungnya sebelum ia menyelesaikan ucapan. Darah muncrat dari mulutnya. Tubuhnya jatuh ke tanah tanpa bisa bergerak.

Aku panik. Terlebih saat derap kaki kuda mendekat. Pasukan perang yang harusnya ada di pihakku kini memamerkan pedang di hadapan kami.

“Hei! Apa yang—”

“Deret dosamu banyak, Tuan Du.” Suara ini … perempuan itu ….

Dan, Ko—Ko keparat itu, datang tiba-tiba sambil menyeret Ta yang dipaksanya berlutut. Ia datang dalam balutan jubah perang. Melangkah dengan pedang di tangan, menyeret Ta yang terbelit ikatan.

Aku masih kebingungan.

“Perlu kuabsen satu-satu? Meminta Tuan Ta menugaskan tabib untuk meracuniku perlahan. Asal kau tahu, minuman itu tak kusentuh. Idemu berlaku bagi Raja dan Permaisuri sebelumnya, tapi tidak denganku. Mengkorupsi hampir separuh anggaran tahun ini dan tahun-tahun lalu. Menyusun ide kudeta yang tidak totalitas. Coba lihat, siapa Tuan Ko yang kaupercayai ini.”

Kumis tebal keputih-putihan beserta wajah seram itu terkupas dan jatuh ke tanah. Di hadapanku kini berpijaklah perempuan itu. Masih dalam balutan zirah perang yang berat dan tangan menggenggam pedang erat.

“Ko yang asli sudah mati sebulan lalu. Dan, mari kupertontonkan padamu bagaimana seorang putri raja merangkap menteri perang memberikan kematian.”

Pedang di tangannya memantulkan sinar mentari ketika terangkat. Kepala Ta menggelinding ke tanah sesudahnya.

Sebelas menteri lain kocar-kacir. Namun, pasukan perang langsung mengepung kami.

“Sudah kubilang. Dosamu—dosa kalian, terlalu banyak. Sengaja kutabung supaya bisa kusikat sekaligus dengan rasa yang lebih memuaskan.” Suara perempuan itu terdengar lagi. “Pasukan …, eksekusi!”

Usai kubatukkan darah karena rongga perut yang tercabik, masih sempat kulihat beberapa burung kertas terbang di angkasa. Menyergap cahaya dan tenaga dari tubuhku sampai hilang sepenuhnya.


Turut dipublikasikan dalam AstraMagz vol. 24, November 2020.

Tinggalkan komentar