Catherin tak menaruh afeksi pada permintaan Valerina untuk berhenti. Yang ada dalam kepalanya kini hanya pusaran dendam. Dan kecewa. Dan kekesalan. Senyum yang tadi tersungging kini lenyap tanpa sisa. Basa-basi busuk dengan kata-kata manis bagi sosok di depannya hanya membuatnya mual dan muak.
“Itu memang aku, Kak. Kalau Kakak suka, aku masih punya yang lainnya.”
Dua bola mata Valerina membulat dengan horor. Bukan hanya ekspresi sadis juga sorot mata dingin dari Catherin, ataupun mata pisau mengkilap dalam cengkramannya yang membuat takut, tapi juga aura asing yang berkumpar di antara mereka. Aura membunuh yang sangat kuat.
“Cath … rin ….” Valerina bahkan hanya mampu menyeret kakinya untuk mundur perlahan-lahan, karena apa yang membisikinya untuk kabur tidak mencipta respons apapun pada saraf motorik, selain sekujur tubuhnya yang menjadi kaku dan gemetar. Tapi gadis dengan tangan terpancang benda tajam melangkah pasti, tak ada belas kasihan bahkan secuil pun. Dalam pikirannya berbumbung segala macam amarah yang mengarah pada keinginan untuk menghabisi manusia pemicu kesialan di hadapannya.
Sang korban dalam simulasi predasi antarmanusia di malam itu nyaris tidak bisa bernapas ketika punggungnya merasakan sesuatu yang menghentikan pergerakan. Dia telah terperangkap. Ketakutan mengunci rapat lidah dan anggota geraknya. Sementara itu Catherin terus mereduksi jarak, seakan menikmati teror yang dia lancarkan pada perenggut nyawa Dennis; kakaknya.
“Kenapa kau memaksa pergi?” Mata pisau itu kini bersua dengan kulit mengkilap. Digesekkannya mengikuti likuan rahang Valerina yang sepucat kapas, mencipta jejak goresan tipis yang perlahan mencuatkan cairan merah.
“Denis mati gara-gara kau, brengsek!” maki Catherin. Keputusasaan dalam hatinya kini lenyap sudah, didominasi dendam yang menggeliat untuk Valerina.
Bukan ketidakrelaan yang membuat Catherin murka, tapi tawa Valerina. Bagaimana caranya gadis itu masih bisa tertawa dan bercanda-ria setelah merenggut kebahagiaannya.
“Cath … kumohon ….” Valerina tergugu dalam rasa takut. Semua itu memang salahnya. Kematian Dennis memang karena dia. Airmatanya menitik dalam remang, komposit antara gusar akan nasib, rasa bersalah, serta kengerian akan perubahan sikap Catherin yang kontras menyerangnya sekaligus. Namun tangisannya tidak menciptakan arti apapun bagi remaja yang sedang digumuli kesumat yang liat, selain bahwa Valerina ingin dikasihani dan itu membuatnya kian jijik.
Puh! Catherin meludah tepat di depan wajah gadis yang bersulam gamang. Diayunkannya pisau dengan amarah menjadi-jadi.
“KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MATI?!!”
“NOOO!!!”
Jlebb!
guess she gave you thing i didn’t give to you?
I hate to turn up out of the blue
uninvited
but I couldn’t stay away
I couldn’t fight it
I’d hoped you’d see my face
and that you’d be reminded
that for me
it isn’t over
“NOOO!!!”
Empat kepala dalam ruangan refleks menghampiri pasien yang meronta-ronta sambil menjerit histeris di atas ranjang, satu di antaranya menyuntikkan obat penenang ke dalam kulit gadis itu yang kemudian mengatupkan kembali matanya yang terbeliak tanpa fokus.
Ibu Valerina tidak menangis dengan airmata mengguyur pipi. Dia menangis dalam diam sambil mencuatkan spekulasi dalam benak, seputar pertanyaan kenapa Valerina seperti ini malah setelah kematian Dennis sudah berjalan cukup lama. Kenapa putrinya tiba-tiba tumbang, padahal sebelumnya ia sudah mampu tertawa. Kenapa malam itu, Valerina ditemukan oleh Catherin di setapak yang sepi dan mengaku bahwa dirinya membuntuti Valerina yang tampak frustrasi dengan gelagat akan mengakhiri hidupnya sendiri.
“Mrs. Potter.” Dia berkedip, menarik diri dari kontemplasi penuh ‘mengapa’ dalam pikirannya, dan mendapati sosok pria berjas putih menjulang di hadapan.
“Ya, dr. Stevans?”
Dr. Stevans, spesialis kesehatan jiwa di Salvatore Hospital mengempaskan tubuh di kursi samping nyonya Potter. Hidupnya sudah malang-melintang dalam dunia kesehatan psikis selama sekian puluh tahun, dan sudah sering pula menemukan kasus serupa. Tapi yang ini seperti deviasi. Tidak ada apapun yang bisa dijadikan pegangan, karena tokoh utama kini hidup di ambang kesadaran.
Lelaki itu berujar, “Kita perlu mengetahui apa yang menjadi pemicu syok Valerina, tapi rasanya …, untuk sementara ini mustahil kita peroleh bila dia terus seperti itu. Ini sudah enam hari berlalu.”
Ibu Valerina mengangguk setuju. “Ya.” Dia ingin mengatakan hal lainnya, tetapi otaknya kosong-melompong untuk sekedar memikirkan kata-kata yang pas yang bisa mendeskripsikan apa yang terbersit dalam pikirannya. Alih-alih mengungkapkan solusi, dia hanya mengembuskan napas dan bertanya, “Apa ada dokter lainnya yang perlu kita mintai pertolongan?”
Dokter Stevans menghela napas. Memaklumi keputusasaan yang didera wanita itu. Dia mendesah, mengangguk dan menepuk pundak nyonya Potter kemudian berlalu. Meninggalkan wanita itu sendiri, dengan muka tertutup tangkupan jari-jemari.
Sudah enam malam berlalu dengan Valerina yang sama; mengamuk tanpa alasan yang bisa dipahami. Dia hanya akan berteriak ‘tidak’ sembari menyakiti diri sendiri; menjambak rambut, memukul-mukul dada, dan menangis histeris. Pelukan pun tidak mempan membuatnya mereda. Kegaduhan itu hanya akan berakhir dengan suntikan obat penenang.
Maka dari itu hingga sekarang, tidak ada yang bisa dijadikan acuan untuk mencari tahu apa yang terjadi di malam itu, selain uraian kesaksian dari Catherin.
“Bibi.”
Kepala wanita paruh baya itu mendongak, dan sosok Catherin menghampiri dengan senyum seperti biasa. “Oh, Catherin?”
Catherin mendaratkan diri di kursi yang masih hangat, bekas dudukan dokter Stevans. “Aku mau menjenguk Bibi dan Kak Rins. Kubawakan buah-buahan segar.” Sekeranjang buah dalam pangkuan dia acungkan.
“Rins masih begitu saja. Berontak tanpa alasan yang bisa kita tahu.” Kini Ibu Valerina tidak bisa lagi menyembunyikan guratan kesedihan dalam ekspresi juga intonasi suara. Ia nyaris menangis.
“Kalau begitu, aku mau menjenguk Kak Rins dulu, Bi. Sekalian menaruh ini.” Catherin beranjak ke dalam. Ada Ria dan Luca yang duduk di sisi ranjang, berperan sebagai penjaga sang putri tidur.
Catherin mengangguk menyapa, meletakkan keranjang ke atas nakas bersama buah tangan lainnya, sebelum menghampiri sisi ranjang.
“Dia masih seperti itu.” Ria menjelaskan.
Catherin mengangguk, “Bibi sudah cerita.”
Dia harus berusaha untuk menekan rasa puas yang hendak mencuat dalam setiap kata-kata. Malam itu, bukannya Catherin tidak ingin membunuhnya. Dia ingin sekali menghabisi nyawa Valerina yang hanya bisa menangis dan meminta maaf, tapi rasanya tidak adil. Valerina akan mati dan dia akan dipenjara. Semua akan berakhir tanpa menyisakan kesengsaraan bagi Valerina. Oleh karenanya, mata pisau yang semula tertuju pada jantung Valerina berbelok menusuk batang pohon di balik punggung gadis itu, sembari mulutnya melontar hujatan demi hujatan bahwa Valerina adalah pembunuh Kakaknya-Dennis, Valerina-lah yang menyebabkan kematian Dennis dan semua kesialan ini disebabkan oleh Valerina.
Catherin membiarkan Valerina hidup dengan bayang-bayang penyesalan.
Itu sudah cukup membuatnya puas.
(Ini adalah satu keping dari deret tulisan bersambung yang diikutsertakan dalam misi menulis Red String of the Fate, AstraFF, 2017)

bagus
SukaDisukai oleh 1 orang
Terima kasih.
SukaDisukai oleh 1 orang