Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Don’t Judge a Book by it’s Cover

Kaki Pi berpacu, napasnya berantakan. Udara dingin langsung menyembur ke wajahnya setelah pintu kaca terdorong, dan kakinya melangkah masuk. Denting instrumental dan obrolan samar ikut menyapanya kemudian.

Sembari membenahi napas yang terbata, dia mengedarkan pandangan. Mencari satu wajah familier di antara lautan orang asing.

Hanya ada sedikit orang yang memiliki kemampuan untuk mencungkil seorang Pi dari cangkang kamar indekosnya pada sore hari akhir pekan. Gemma salah satunya. Itu pun dengan alasan, orang yang menemukan ponselnya mengajak bertemu langsung. Gemma kehilangan alat komunikasi itu kemarin lusa, saat menghadiri pertemuan komunitas dunia mayanya yang tidak pernah Pi mengerti.

“Pi!” Suara Gemma dari sudut ruangan mengundang pandangannya menuju, lalu kakinya kemudian. Gadis berambut ikal itu tengah duduk berhadapan dengan seorang pemuda berkacamata yang sedikit kikuk menoleh pada kedatangannya.

“Maaf, terlambat. Tadi kasih makan kucing liar dulu.” Pi berbasa-basi. Meletakkan ponsel dalam genggamannya ke atas meja. Tubuhnya menyusul duduk di sebelah Gemma. Sebentar, dia mengamati pemuda yang kini juga resmi berhadapan dengannya.

Pipi sedikit berjerawat. Lensa kacamata yang Pi sinyalir tebalnya sebelas dua belas dengan tebal dosa Pi. Rambut lurus disisir menyamping dengan gel berlebih. Pundak melorot seolah tidak pernah mengenal kata olahraga. Dalam satu menit pengamatan, Pi mendapat prakonklusi bahwa si penemu ponsel Gemma masuk golongan makhluk cupu, yang tak memiliki cukup keberanian untuk menyembunyikan para gadis.

Tangan Pi tersodor ke depan. Kali ini, kalimat dan ekspresinya diaturnya jadi lebih ramah. “Pi. Teman dunia nyata Gemma sejak dua ribu lima belas. Kamu?”

Pemuda itu mengerjap sebentar. Pi mampu melihat semburat merah menyebar ke pipi, lalu keseluruhan wajahnya, ketika dia menyambut salam.

“Feri.” Bahkan suaranya pun didominasi malu-malu. Lebih mirip cicitan daripada suara manusia berbicara normal.

Gemma menempelkan mulutnya di telinga Pi. Berbisik dengan nada senang dan menang, “Bagaimana? Tidak seperti yang kamu pikirkan, ‘kan?”

Mau tidak mau, Pi mendesah. Dia topangkan punggung pada sandaran kursi, melipat tangan di dada, dan mengangguk-angguk samar dengan tatapan lurus pada Feri. “Oke. Kamu lolos seleksi.”

Pemuda itu mengerjap bingung. “Seleksi … apa?”

“Ahaha … tidak ada.” Gemma mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. “Anggap saja Pi ini bodyguard-ku yang bertugas mengusir nyamuk-nyamuk brengsek yang mau mendekatiku.” Dia menambahkan, “Aku cukup terkenal di kalangan cowok-cowok, kamu tahu?”

Pi melotot pada sahabatnya. “Sembarangan!”

Feri ikut tertawa, meski Pi ragu pemuda itu mengerti apa yang sedang dibicarakan Gemma. Pi memang menawarkan diri menyertai pertemuan antara Gemma dan teman dunia mayanya yang kemudian Pi tahu bernama Feri. Ada beberapa kasus gadis hilang belakangan ini di kota sebelah. Pi tahu persis karena ayahnya polisi di sana.

Pi cuma mewaspadai kemungkinan terburuk. Sebab, dia mengerti, Gemma bukan orang yang suka memberi limitasi dalam relasi pertemanan. Sahabatnya punya semacam kepercayaan kalau manusia selalu baik. Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Pi yang pesimistis.

“Jadi, ponselmu bagaimana?” Pi bertanya.

“Ta-da!” Gemma memamerkan benda kesayangannya yang tidak berbeda dengan yang Pi kenali selama ini. “Kembali dengan selamat dan sehat wal afiat.”

Pi mengangguk-angguk. “Oh, baguslah.” Ditatapnya Feri yang sementara menyeruput minuman. “Terima kasih, Feri. Tidak banyak orang yang mau mengembalikan handphone yang ditemukan, dewasa ini.”

Semburat merah di pipi satu-satunya pemuda dalam lingkaran itu muncul lagi. Kali ini melebar sampai telinga. “Aku hanya melakukan hal yang seharusnya kulakukan.”

Gemma menepuk tangannya tiba-tiba. “Ngobrolnya sambil makan saja, yuk. Lapar, nih. Kita menunggu kamu datang dulu, tahu, Pi. Tuh, punyamu sudah kupesankan.”

Di hadapan Pi memang sudah terhidang satu porsi nasi, ayam goreng tepung, dan segelas soda es. Gadis itu mengembuskan napasnya, terdengar pasrah, padahal sebenarnya lega. Lambungnya juga belum terisi apa pun sejak menghadiri kuliah pagi tadi.

Sebagaimana kebiasaannya, tangan Pi cekatan menguliti ayam dan memindahkan kulitnya ke piring Gemma.

Gadis berambut ikal menyambutnya dengan gembira. Seolah yang barusan terjadi adalah Yesus yang menyerahkan roti perjamuan kepadanya. “Terpujilah Pi dan sikap antipatinya pada kulit ayam Kepci,” cetusnya khidmat.

Kalimat itu rupanya mengusik Feri. Dia mengangkat muka, memandang lewat kacamatanya yang sedikit melorot. “Kenapa?”

Pi menyetel suaranya sejijik yang dia bisa. “Tidak sehat.”

Gemma menyerbu dengan informasi yang Pi rasa tidak penting. “Pi ini calon dokter yang cukup strict. Dia tidak akan mengerti betapa nikmatnya beberapa makanan, karena terlalu khawatir pada kolesterol dan lain-lain.”

“Ah …,” Feri menggumam. Selama beberapa menit, pemuda itu terenyak memandangi gerak-gerik Pi.

Pi yang menyadarinya mendadak diselubungi aura aneh dan rasa risi. Dia menegur, “Makan, Feri.”

Ketiganya makan sambil sesekali bertukar candaan dan cerita ringan. Tentang komunitas gamer daring yang menaungi Gemma dan Feri, atau suasana perkuliahan Gemma dan Pi yang berbeda jurusan. Feri lebih banyak bungkam. Hanya bersuara kalau ditanya. Selebihnya dia menunduk, memerhatikan piring, dan sibuk makan dengan tempo lambat.

Bahkan saat kedua gadis sudah menandaskan semua, Feri masih punya separuh porsi makanannya.

“Astaga,” Pi berdecak. “Kamu makan kayak siput.”

Feri tersenyum lebar. Kulitnya memerah lagi sampai telinga.

Karena tidak menerima timpalan berupa suara dari pemuda itu, Pi memindahkan atensinya pada sahabatnya. “Gem, langsung pulang, ya? Aku masih ada segudang tugas yang harus kuurusi.”

Gemma mengiakan. Pamitanlah dia pada Feri yang masih berjuang menandaskan santapan. “Fer, kami duluan, ya. Sampai jumpa lagi.”


Tidak ada. Tidak ada. Ponselnya tidak ada di mana-mana.

Pi menatap meja yang dia berantaki dalam usaha pencarian alat komunikasinya. Namun, atensinya jauh menembus segala benda berwujud yang tersebar di hadapannya, sibuk memindai dan memilah informasi dari memori yang dia punya.

Kapan terakhir kali dia menggunakan telepon genggamnya?

Samar, sekilas gambaran tertayang dalam ruang ingatannya. Kalau tidak salah, Pi tidak menyentuh benda itu sejak dirinya bercokol di kamar demi tujuh lembar folio bergaris yang kini terisi tulisan tangannya.

Pi bergegas membuka ransel. Mengobrak-abrik isinya. Kamarnya makin berantakan oleh berbagai macam benda ekstra, tapi tidak dia temukan juga apa yang tengah dicarinya. Kakinya bergerak gelisah seiring dia memundurkan ingatan. Pi bahkan tidak ingat apakah dia membawa benda itu ketika berpisah dengan Gemma.

Ah! Gemma. Nama sahabatnya mendadak memberinya secercah harapan. Dia menyelip dan meloncati berbagai macam barang yang tersebar, keluar dari kamar indekosnya.

Begitu berhadapan dengan pintu kamar sebelah, Pi menyeru, “Gem! Gemma!”

Akhirnya, pintu itu terbuka dan menampilkan Gemma dalam balutan piyama dan rambut ikalnya yang tambah berantakan. Bonus kuapan lebar sebelum dia menyahut, “Apa?”

“Lihat hapeku, tidak?”

Kerut di dahi Gemma menyembul. “Tidak. Memang hilang?”

Sekepul napas kecewa Pi lontarkan ke udara. “Astaga… di mana, sih?”

Gemma memamerkan cengiran. “Kok, berentet, sih. Punyaku ketemu, punyamu yang hilang.” Pi tidak membalas cengiran dan malah memasang muka jengkel, memaksa Gemma membenahi ekspresi. “Kita misscall saja.”

Setelah Gemma mengambil telepon genggamnya dan memadamkan musik dari sana, Pi mendahului sahabatnya ke kamar. Nyaris saja Gemma terjerembab karena terantuk tumpukan buku di depan pintu, dan sepintas Pi terhibur oleh makian sahabatnya yang meletus sadis.

Selagi Gemma mendaratkan tubuh di atas kasur Pi yang tidak beranjang, ponselnya menempeli telinga Pi yang fokus menanti. Tapi, tiada suara-suara yang terdengar. Nada dering, getar, atau apa pun, tidak kunjung mereka temukan dari segala penjuru kamarnya.

“Tapi, aktif, ‘kan?” Gemma bertanya. “Coba telepon sekali lagi.”

Pi meredial. Nada tunggu yang monoton kembali menyambar pendengarannya. “Aktif. Cuma, tidak ada yang …” Kalimatnya terhenti begitu panggilannya terangkat. “Halo?”

Alis Gemma menukik. “Diangkat?”

Pi tidak menjawab. Ia fokus menunggui sapaan siapa pun yang memegang ponselnya dari seberang.

Setelah kasak-kusuk yang cukup memusingkan kepala, akhirnya ada suara manusia yang menyembul dari lubang suara. “Halo… “

Sejenak, Pi terenyak. Dia mengenali suara ini. “Feri, ya?”

Hening sejenak, sebelum suara Feri yang lebih lantang terdengar. “Ini… Pi? Nama kontaknya—”

Tak sabar, Pi memotong, “Oh, syukurlah ada di kamu.” Dia mengembuskan napas. Lega begitu tahu alat komunikasinya ada di tangan orang yang bisa dipercaya. Mungkin saja tadi, benda itu tertinggal selagi dia dan Gemma bertolak duluan.

Tubuhnya terbanting di sisi kasur, tepat di sebelah Gemma. “Aku menelepon lewat HP Gemma. Namanya memang ‘Gemash’ di daftar kontak.” Dia menoleh pada sahabatnya, mengucapkan nama Feri tanpa suara untuk menurunkan kembali kedua alis Gemma yang terangkat penasaran.

“Oh. Kalau butuh sekali, boleh ambil sekarang,” kata Feri dari seberang.

“Sekarang?” Jelas Pi keberatan. Ini sudah pukul setengah dua belas malam. “Sudah larut kali, Fer.”

“Tidak apa, kok. Aku bisa keluar malam ini. Ketemu di samping Indojuni saja.”

Benak Pi sibuk mengkalkulasi. Menimbang-nimbang faktor keamanan dan kenyamanan. “Besok pagi saja, bagaimana?”

Suara Feri menyambar lebih cepat dari yang dia sangka. “Tidak bisa. Besok aku sudah pulang ke kota sebelah. Kalau kamu memang butuh handphone-mu, ambil sekarang.”

Aneh. Selintas, Pi merasa aneh. Dalam kalimat pemuda di seberang sambungan ada tekanan yang sedikit menuntut.

Dia menoleh pada Gemma sebentar. Lagi-lagi, mengkalkulasi. Lagi-lagi, menimbang faktor keamanan dan kenyamanan, bonus untung dan rugi. Kalau tidak malam ini, Pi terancam tidak bisa bertemu ponselnya kembali. “Oke.” putusnya. “Di Indojuni, ‘kan?”


Indojuni hanya satu dari segelintir tempat yang masih menampakkan denyut kehidupan pada tengah malam. Kota ini bukan metropolitan yang tidak pernah tidur. Hanya ada beberapa orang merokok yang bertengger di depan gang kecil begitu Gemma mematikan mobil di tepi jalan utama.

Pi bersyukur dia masih bisa berpikir untuk menggunakan jaket, masker, dan hoodie, serta membujuk Gemma turut membungkus diri pula. Setidaknya, keterasingan mampu membawa mereka menembus gerombolan penggila asap nikotin tanpa di-catcall atau bahkan lebih buruk lagi.

Mereka menunggu tepat di pintu masuk toko swalayan itu. Mencoba mencuri secercah pencahayaan dan keamanan dari sana.

“Mana Feri, sih?” Gemma mengeluh. Mengeluarkan yang mau dikeluarkan Pi, sambil menurunkan masker yang menyita waktunya sepersekian detik untuk usaha menarik kadar udara ke dalam paru-paru.

“Coba telepon lagi, Gem.”

Perintah itu disanggupi Gemma. Dihubunginya kembali nomor Pi dengan mengaktifkan pelantang suara. Namun, yang menyambut malah suara operator yang khas, ‘Nomor yang Anda tuju …’ Gemma membungkam mulut operator itu sebelum menyelesaikan kalimatnya dengan sekali sentuh.

“Aneh,” Pi menggumam. Kejengkelannya menumpuk makin tebal. Menciptakan kegerahan. Membuatnya ikut menurunkan makser dan menyibak tudung jaket. “Maksudnya apa sih, menyuruh orang datang tengah malam tapi malah dibeginikan?”

“Anu … Maaf, aku beli minum dulu, tadi.”

Suara Feri yang canggung menarik kepala kedua gadis di sana untuk menoleh. Pemuda berkacamata rupanya baru menapak keluar dari minimarket yang sementara mereka punggungi. Di depan tubuhnya, terpeluk sekantung entah apa.

“Sejak kapan ada di situ?” tanya Pi. Sejenak lupa pada kekesalannya yang tengah memuncak.

Feri terkekeh tanpa dosa. “Baru saja keluar.” Ia menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk. “Maaf, sudah membuat kalian menunggu. Mari, kuantar ke kontrakanku.”

Kayuhan kaki Pi berhenti mendadak. Membuat Gemma di belakangnya menubruk punggung dan kepala belakangnya. Umpatan Gemma terdengar samar, tapi Pi tak peduli. “Kontrakan?”

Feri menunduk. Tidak berkata-kata. Hanya kepalanya yang mengangguk persis burung terantuk-antuk.

Pi mendengkus. Kekesalannya naik lagi. “Yang benar saja?”

Masih menunduk, Feri menjelaskan, “Ponselmu kehabisan baterai. Jadi, aku mengisi dayanya dulu …”

Itu mungkin menjawab mengapa telepon paling akhir tidak menemui sambutan. Namun, kesabaran Pi sudah menemui gentas. Dia menyalak, garang, “Aku tidak menyuruhmu mengisi daya ponselku!”

Feri terhentak, lagi-lagi, masih sambil menunduk. Mengeratkan pelukannya pada kantung putih yang menimbulkan suara gemerisik yang berisik. Tubuhnya mengkerut, tampak makin lunyai. Membuat Pi iba, sekaligus mengembalikan Pi pada penilaiannya akan Feri secara keseluruhan. Pemuda itu kelewat ceking untuk seseorang yang bisa melawan Pi, yang setidaknya, pernah mempelajari taekwondo meski berhenti di sabuk hijau.

Pi mendesah sekali lagi. Menyerah pada perjalanan panjang pencariannya malam ini. “Oke. Ke kontrakanmu sekarang.” Demi ponselnya dan segudang data penting di dalam sana. Dan demi tidur lelapnya malam ini sebelum kembali jadi zombie besok pagi.

Ketiganya menyisiri gang yang mulutnya dipenuhi para perokok tadi. Nyatanya, alih-alih mencegat, para pemuda yang kelihatan tidak bersusila malah membuka jalan begitu Feri suarakan kata permisi dengan lembut.

Mendadak Pi sadar. Mungkin kepalanya sudah telanjur penuh oleh pesimisme terhadap manusia, sehingga yang ada dalam kepalanya hanya skenario buruk sekelas drama thriller murahan.

Kesadaran itu membuatnya melapangkan dada. Dia melangkah menyusuri lorong yang gelap dengan perasaan yang lebih tenang. Meski kegelapan ini tetap saja mencekamnya.

“Tidak bisa nyalakan lampu ya, Fer? Gem, nyalakan senter, dong.”

Sahutan Gemma tidak terdengar, apalagi cahaya yang ditunggu-tunggu Pi. Kakinya berhenti menjejak begitu menyadari ketiadaan suara gemerisik langkah di balik punggungnya. Selapis hawa dingin menyelimutinya seketika.

Pi berbalik hanya untuk melihat udara di belakang punggungnya dan cahaya dari jalan raya. Bahkan, siluet gerombolan orang yang merokok di mulut gang pun musnah.

Jantungnya terasa seolah kehilangan detak. “Gemma? Fer, Gemma mana?”

“Gemma tidak kubutuhkan, sih,” sahut Feri tiba-tiba. Nada suaranya yang asing menghela pandangan Pi kembali padanya. “Dia bukan orang yang kumau. Tapi, syukurlah dia memperkenalkanmu padaku. Sejak awal melihatmu, aku sudah merasa kamu sangat cocok melengkapi koleksiku.”

Otak Pi mencernanya dengan lambat. Namun, ada alarm di kepalanya yang menyerukan pertanda bahaya di sini. Perlahan, kakinya melangkah mundur. Selangkah, demi selangkah. “Maksudmu… apa?”

Di hadapannya, Feri mengikuti ritme mundurnya. “Kamu cantik. Penyayang binatang. Cerdas. Sehat. Aku suka.”

Srak.

Pi tahu, itu bebunyian yang timbul dari kantung yang terjun ke tanah begitu saja. Feri membiarkan segalanya hilang untuk mendapatkan—

“Argh!” Pi menjerit ketika kepalanya terhentak ke belakang oleh tarikan rambut yang tiba-tiba. Ada bunyi ‘krak’ dan sakit luar biasa yang melandas leher bagian belakangnya. Ngilu yang memaksanya menggapai-gapai apa pun yang bisa dia sergapi.

Tapi, yang ada hanyalah udara. Ketika tangannya menyentuh sesuatu yang dia yakini adalah bagian lengan atau pundak Feri, sesuatu yang lembut keburu menempeli hidungnya. Membawakannya aroma yang memusingkan kepala. Yang lainnya menyekat kedua lengannya dalam satu kuncian yang kukuh di belakang tubuh.

Pi memberontak semampunya. Menggerakkan segala anggota tubuh yang masih ada dalam kuasa geraknya. Melakukannya sambil membagi fokus untuk menahan napas adalah hal yang amat sulit. Bagaimanapun, dia tidak boleh menghirup apa pun yang ada tepat di depan lubang pernapasannya. Alarm di kepalanya mewanti-wanti dengan peringatan itu.

Kakinya menendang sesuatu yang keras, yang akhirnya dia tahu sebagai bagian tubuh Feri yang lain. Mungkin kaki. Mungkin betis, lutut, atau tulang kering. Yang jelas, hal itu melahirkan umpatan samar pemuda itu.

“Kurang ajar!”

Pi berpikir cengkeraman di hidung dan lengannya akan mengendur dengan hadirnya umpatan tadi. Kenyataannya, belitan di tangannya malah terdorong ke samping tubuhnya. Memaksanya turut mencondongkan tubuh ke sisi samping, agar tiada lagi sendi yang patah kecuali tulang lehernya yang malang.

Akan tetapi, percobaannya untuk beradaptasi dengan serangan yang datang memberinya ketidakmampuan untuk mengantisipasi hal lain. Begitu persendian kaki belakangnya turut menerima sodokan yang memaksanya jatuh berlutut, Pi tidak memiliki pengendalian diri yang cukup untuk menahan napas lebih lama lagi.

Dia tersentak. Apa pun yang menempeli lubang hidungnya terhirup sudah.

Sengit. Menyengat. Menembus sampai ke mata dan telinga, mengacaukan sisa indra.

Sialan. Ini kloroform. Sudah Pi duga. Uap dari cairan itu melemaskan otot-otot tubuhnya. Membawakannya pandangan yang buram, tulang yang lunglai, dan kesadaran yang tersengguk-sengguk oleh kekosongan pikiran. Membuatnya menghirup lebih banyak zat yang mengacaukan segalanya. Ke hadapannya, tersodorkanlah kegelapan, setelah siluet gelap di atasnya mengekeh senang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: