Lima Puluh Tangkai Mawar

Krisan kuning, mawar putih, tulip ungu, berhimpun dalam karangan mewah di tangan Kaola. Aroma kembang-kembang tak henti mengetuk-ngetuk sensor di hidung, menghela bibirnya, agar turut mengembangkan senyum yang tidak kalah rekah.

“Ini kertasnya, Kaola.”

Meri, sahabatnya, rekan sesama pengelola toko menyodorkan kertas manila dengan aroma manis dan desain ciamik. Duduklah ia di hadapan Kaola, mengambil alih tugas dekorasi bunga selagi Kaola mengukir tinta.

Bergembiralah dalam kemurnian hidupmu untuk menjemput kesempurnaan. Tiada kini atau nanti. Yang ada hanyalah abadi.

Kertas manila terlipat, tersodorkan pada tangan Meri yang kembali menjembanya. Manik karamel bergerak merunut susunan kata. “Suka sekaliii. Baiklah. Mari kita kirimkan.”

Kaola menimpali dengan senyum secerah mentari, selagi Meri dan dua rekan lain mengemas bebunga untuk kemudian dikirimkan pada titik tuju. Dalam kesibukan kecil yang rutin itu, ia melemparkan atensi pada mobil pick up yang terparkir di luar dinding kaca.

Menyediakan, mengemas, menulis catatan manis,dan mengirim bunga sudah lama jadi hidup itu sendiri bagi Kaola. Betapa kelopak warna-warni dan serbuk sari mampu mencerahkan hidupnya kembali, usai tragedi lima belas tahun silam melenyapkan kendali kemampuan pita suara. Bunga-bunga memiliki bahasanya sendiri, menerabas limitasi yang didatangkan disabilitas fisiknya.

Jemarinya baru saja hendak menyentuh sisa tangkai berduri di meja kayu, ketika derap langkah Meri kembali. Ia tak sendiri. Besertanya, ada Lana, bekerja keras menjinjing sebuah kardus besar.

“Kaola!” Meri menyeru dengan senyum lebar, menyodorkan kertas beramplop merah padanya. “Ini untukmu!”

Adalah sebuah anomali. Kaola mengernyitkan dahi. Ia yang biasanya menulis dan mengirim, kini malah dikirimi tulisan.

Amplop itu berbau harum mawar. Kertasnya juga. Begitu lipatannya dikuak jemari, Kaola mulai memahami bahwa ini adalah sebuah balasan dari seseorang. Pesannya singkat dan sederhana, tak seperti ukuran kemasan yang menyertai. Duplikasi dari apa yang pernah ia terakan dalam lembar lain, tanggal 14 Februari. Tepat sebulan silam.

Mawar ini merah, seperti rasaku yang bersemu olehmu.

Oh, ada pula kata ‘terima kasih’, ‘aku menyukai surat yang kautulis dan bunga yang kaukemas’ beserta titik dua buka kurung sebagai respons di bawahnya. Ditulis dengan kuas, dan tinta hitam kemerahan yang mengental pada beberapa titik.

Masih segar di ingatan Kaola. Lima puluh tangkai mawar merah yang ia rangkai atas permintaan gadis pirang yang datang tergesa, dikirimkan pada pemuda bernama Han. Barangkali inilah balasan dari Han. Kendati tiada instruksi untuk meneruskannya pada pengirim sesungguhnya.

“Paketnya mau dibuka dulu?” Meri bertanya di sisi kardus berukuran televisi empat puluh dua inci. Mengundang langkah Kaola untuk mendekat, setelah kepalanya mengangguk. Di tahun kedua belas toko ini beroperasi, baru kali ini Kaola memperoleh respons langsung dari penerima bunganya.

Pita-pita perekat pun dilepaskan. Kaola menanti dengan jantung yang berdebar memukul rusuknya, sebab rasa penasaran yang terunggah.

Namun, ketika tepian kardus paling akhir terbuka, debar jantungnya berhenti sampai tak lagi terasa.

Meri menjerit. Lana terlonjak. Kaola sendiri ambruk karena sendi yang menopang tubuhnya terasa lenyap.

Di hadapan mereka, ada kardus berisikan karangan mawar merah yang telah layu dan menghitam, beserta kepala seorang wanita yang telah membiru, meski tak menguarkan bau busuk. Kepala berambut pirang, milik si pengirim lima puluh tangkai mawar untuk lelaki bernama Han.


Diikutsertakan dalam Battle Fiksi AstraFF 14 Maret 2021 dan kalah dengan memalukan.

Tinggalkan komentar