Amuk

Ada badai yang mengamuk dalam heningnya malam. Saat semua mata memilih pejam untuk beristirahat, badai itu menjerat satu entitas dalam sekarat yang makin lama makin berkarat.

Kepadanya, terbanglah undangan bertengkar, melalui pikiran-pikiran; melandaskan teriakan-teriakan yang ia sendiri tak tahu asalnya dari mana. Mungkin dari kepalanya sendiri yang selalu berbisik berisik selagi mulutnya sibuk membungkam.

Bising itu meneriakkan luka. Kadang pula menyuarakan nelangsa. Mendiktator hingga nyaris kalap matanya. Mendiktenya untuk bergabung dalam pusaran mereka, sebelum lebur, lalu hancur bersama-sama. Beberapa pasang mata abstrak dari kemelut kabut melihatnya miris. Tertawa sampai menangis-nangis. Membuat mentalnya makin teriris-iris.

Bingar itu abadi; duduk di pelupuk matanya, menetap di rongga telinganya, mengendap di lubang hidungnya, bercokol di tempurung tengkoraknya, dan menggedor-gedor ketidakwarasan. Mengambil alih atensi, setiap sepi menelan geliat hidupnya.

Tinggalkan komentar