Lampu Kamar Seberang

1097 kata

Bagi laki-laki itu, pagi adalah penentu nasib. Gerbang yang memberinya gambaran: bakal lanjut atau berakhir.

Pertama-tama, segalanya berlangsung dalam roda rutinitas biasa. Dimulai dari sinar matahari yang datang mengetuk kelopak matanya untuk membuka. Kedatangan hangat yang tiba-tiba selalu membuatnya menggeliat tak nyaman. Sekalipun ini rutinitas harian yang tak pernah hengkang dari paginya, cahaya yang menyambar pandangan selalu terasa baru; selalu mendadak. Butuh waktu cukup lama untuk matanya berakomodasi, juga untuk dirinya menempatkan diri dalam situasi.

Kemudian, kakinya akan menapak ke lantai yang dingin, tempat di mana tengah berserakan aneka piranti untuk mencari penghidupan: laptop butut yang tertutup rapat, dan kertas-kertas yang tidak jelas mana penting dan mana yang telah menjadi sampah.

Kebutuhan hidupnya tak seberapa mewah. Laki-laki itu hanya memerlukan air untuk minum dan sanitasi, makanan instan sehari dua kali, dan biaya sewa kamar ini—sepetak ruang tidur merangkap ruang kerja plus ruang makan, yang menggandeng kamar kecil di belakang untuk mandi dan buang air. Pembayarannya disetor sebulan sekali, sudah mencakup biaya listrik. Dengan kebutuhan seminim itu, ia bisa menyambung hidup lewat pekerjaannya mengurutkan kalimat sepersuasif mungkin di akun media sosial sebuah instansi swasta.

Ini adalah upayanya demi memenuhi janji pada seorang wanita yang tinggal di seberang kamarnya.

Sampai saat ini, ia tidak tahu siapa nama wanita itu. Wanita itu pun seharusnya tak tahu identitas si lelaki, sebab mulutnya tak pernah menyebutkan nama dalam satu-satunya pertemuan mereka. Pertemuan yang berlangsung pada suatu malam yang telah renta.

Mereka berpapasan di lubang pintu minimarket depan gang yang buka dua puluh empat jam. Lelaki itu menepi dan menunduk, memberi jalan bagi si wanita untuk lewat lebih dahulu. Tak ia sangka, akan ada obrolan di antara keduanya.

“Kamu yang tinggal di kamar empat?” Suara wanita yang serak membuka percakapan.

Si lelaki mengangkat muka. Menjawab dengan anggukan yang rikuh, tak terbiasa pada sapaan, apalagi basa-basi. Interaksi seperti ini haruslah selangka dan semustahil merekahnya bunga matahari di tengah gurun salju—bukan sesuatu yang semestinya ditemuinya, lebih-lebih di penghujung malam.

Selagi benak si laki-laki sibuk merutuki masker kain yang sepertinya gagal menenggelamkannya dalam keterasingan, atensi wanita di hadapannya bergerak-gerak gelisah, lalu menancap pada botol antinyamuk semprot yang menyembul dari kantung kertas dalam pelukan laki-laki itu.

Tak si lelaki sangka, wanita itu tambah mendekatkan diri. Tangan berkuku sewarna safir menyentuh lengannya dalam jeratan yang lemah dan gemetaran. Saat itulah, si lelaki menangkap sembab di kedua mata si wanita—sendu yang membiaskan pantulan remangnya lampu toko.

Namun, yang paling mengejutkannya adalah apa yang berlangsung setelah itu: ucapan yang terbit dari bibir bergincu merah yang menggigil,

“Boleh aku minta bantuanmu? Tolong….  Telepon nomor ini, kalau pukul tujuh pagi, kamu melihat lampu kamarku belum padam.”

Ke dalam telapak tangan si laki-laki, ia jejalkan sehelai kertas yang kusut masai.

Seharusnya si laki-laki mendesis, mendorong tubuh si wanita menjauh, kemudian berderap kabur. Akan tetapi, yang ia lakukan justru mengangguk. Seharusnya pula, laki-laki itu masih bisa meralat pilihan kepalanya yang berkhianat. Tetapi binar yang perlahan terbit dari kuyunya bola mata di hadapan, mencairkan setiap kalimat penolakan yang bersiap di ujung lidah, hingga berbaur dengan saliva yang lantas ditelannya kembali.

“Terima kasih, terima kasih,” tertutur berulang kali dari lisan si wanita. Membuat laki-laki itu batal bersuara lagi, pun batal menyentuh tutup botol antinyamuk semprot malam itu, hingga tujuh puluh malam pun berlalu.

Itulah janji yang membuat si laki-laki menyibak gorden kamarnya yang berdebu, saat jarum jam mejanya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Memasukkannya dalam runitinas harian yang semula telah membuatnya muak. Sembari menyesap secangkir kental manis hangat dan menggigit roti keras yang rasa-rasanya bakal balik menggigiti gigi-giginya, ia daratkan tubuh kurusnya di kursi bobrok dekat jendela. Menontoni lampu yang selalu mati tidak sampai lima belas menit setelahnya. Berikutnya, laki-laki itu akan membersihkan diri, lalu duduk berhadapan dengan monitor, mengetikkan huruf-huruf yang menghidupi saldo rekeningnya.

Namun, tampaknya hari ini bukan bagian dari selalu. Segala alur hariannya mandek di situ. Sebab pukul tujuh kurang lima belas menit terlewatkan, tapi lampu di seberang masih menyala benderang.

Ia celupkan roti pada cairan putih di dalam cangkir, mendadak tak yakin pada independensi ludah dan gigi dalam melumatnya tanpa intervensi pelunak lain.

Tangan waktu masih terus merayap.

Cangkir dan roti diletakkan kembali ke atas kursi yang ia duduki, saat jarum merah hendak memulai putaran terakhirnya, demi mengantarkan jarum panjang pada angka dua belas. Sedang lelaki itu sendiri berdiri menjulang, merapatkan tubuh pada jendela, dengan jantung yang menggedor-gedor rusuknya. Perhatiannya terbagi, antara mengikuti detak jam meja, serta mengawasi bayangan yang tampak dari jendela dan ventilasi kamar seberang.

Begitu jarum merah akan menuntaskan tugasnya, dada lelaki itu berhenti bergerak seiring napasnya yang terjeda.

Tik.

Kaki dan tangan si lelaki terasa seperti baru habis menyentuh permukaan es. Jarum jam telah bergerak melewati batasannya. Napas si lelaki kembali, tapi kali ini membawa serta seguyuran air dingin imajiner ke atas kepalanya, lalu mengalir hingga ujung telapak kaki. Memaku diri seolah tubuhnya telah menjelma es itu sendiri.

Berusaha mengelak, ia menggeleng-gelengkan kepala. Benarkah lampu di seberang tak padam? Atau dirinyalah yang keliru menafsirkan citra yang tertangkap mata?

Ia kerjapkan matanya demi pemastian, sebelum memacangkan atensinya kembali pada jendela kamar di seberang.

Benar. Kamar itu masih benderang.

Dengan tangan yang bergetar, ia meraih ponsel yang tergeletak di meja. Menghubungi sederet nomor yang telah lama tersimpan dalam daftar kontak, tapi baru kali ini dikontaknya langsung. Dalam dua kali nada sambung, panggilan itu terangkat.

“Mama?” Suara lirih milik anak kecil menyapa pendengarannya.

Masih larut dalam kebingungan akan hal yang menjadi deviasi dari rutinitas selama lebih dari dua bulan belakangan ini, si laki-laki mencoba bersuara, “A-anu… “

Ada hening yang menjeda selama beberapa detik.

Lalu, suara anak kecil itu kembali hadir. “Hiks. Mama sudah tidak ada, ya? Mama… Huhu… Mama… “

Isakan di seberang sambungan perlahan terdispersi oleh menjauhnya ponsel dari daun telinga si lelaki. Tubuhnya merosot jatuh, duduk bersandar di bawah jendela. Tenaga yang menopang kakinya sendiri musnah entah ke mana. Pikirannya melompong, bagai cangkang kerang yang isinya telah dicungkili.

Mata sewarna arang terpancang gelisah pada udara di langit-langit kamar. Kehilangan orientasi.

“Setelah ini, apa lagi?”

Pertanyaan itu akhirnya mengudara. Dua bulan sudah ia menjalani hidup demi janji yang tak sengaja terlayangkan. Setelah janji itu ditunaikan, apa lagi yang bisa menahannya dalam garis lurus rutinitas hidupnya?

Perlahan, si lelaki beringsut. Kaki dan tangannya bergantian merayapi lantai, melangkahi berkas-berkas yang entah penting, entah sampah, sama-sama sudah tidak lagi bermakna. Setelah ini, ia sudah tak perlu mencari penghidupan lagi. Tidak ada lagi yang menjerat kakinya untuk tetap bertahan.

Dikuaknya pintu lemari yang miring dari posisi semestinya, lebar-lebar. Dari deret paling bawah, lelaki itu merogoh kantung kertas berwarna cokelat muda yang terakhir disentuhnya dua bulan silam.

Ia memahaminya: pagi ini telah menentukan nasib barunya. Gerbang barunya pun membuka. Kini, ia bisa mengakhiri segalanya.

Tinggalkan komentar