SATU
(Aku Ingin Meracik Semestaku Sendiri)
Mimpiku semalam memunculkan hantu. Bukan makhluk tanpa raga yang bergentayangan karena ditolak alam baka. Sosok-sosok ini nyata, hanya menjelma gaib dipilah ruang waktu. Kemudian terlahir kembali dari pecahnya folder kenangan yang menebarkan isinya ke seantero ruang ingatan. Memori kolektif dari AstraFF, 2021.
Sepuluh tahun tak memberi peranjakan padaku selain menambah usia. Aku masihlah Celestilla, sosok yang tak diketahui asal-usulnya, nama aslinya, juga latar belakangnya. Masih pula betah mendekam di sangkar burung pipit ini, meski kamar dan kawan telah berkali-kali diganti.
Kekonsistenanku meniti jalan tanpa cita-cita begini membuatku bangga.
“Kamu tidak punya mimpi, kata orang-orang.”
Lokomotor di kepala mulai berisik. Ia selalu mengajak bicara begitu mendengar sesuatu yang bisa dikomentari.
Belum sempat mulutku membuka, ia kembali menyembur, “Bercanda. Aku tahu, kamu punya.”
Tiba-tiba, ia bukakan bagiku gerbang memori lain.
Saat awal diterima jadi siswi satu dekade lalu, aku sempat kesal karena merasa ditipu. Label ‘Sastra’ pada nama akademi rupanya hanya kamuflase. Tiada lulusan yang berakhir jadi penulis atau sastrawan kondang, lebih sering dikirim ke medan perang. Tiada daftar job yang sekiranya cocok kuaplikasikan untuk masa depanku. Satu-satunya yang sempat kupertimbangkan hanya puppet master.
Sayang, aku tidak suka main boneka.
Sewaktu kecil, boneka hanya jadi bahan rebutan yang bakal bermuara pada keributan anak panti. Peperangan temporer yang menerbitkan kebencian abadiku pada benda aneh itu.
“Bohong. Kamu suka main boneka, kok,” Lokomotor mengusik lagi.
“Di mana aku main boneka?”
“Dalam kepalamu. Kamu tentukan siapa pakai baju apa, seperti apa semesta mereka.”
Aku terbahak keras sambil memukul meja. Tak akan ada orang yang peduli. Kesintinganku tiba-tiba tertawa sendiri sudah jadi legenda di sini.
Aku tak membalas lisan. Hanya dalam kepala. Lokomotor dalam kepalaku tak butuh suara. Ia tahu isi benakku. Pasti didengarnya secuil kalimat yang melayang barusan:
“Impianku tak pernah berubah sejak dulu. Aku selalu ingin meracik semestaku sendiri.”
DUA
(Dunia Tanpa Masalah adalah Masalah)
Tawa menggema di kepalaku. Makin lama makin mengusik. Akhirnya kuambil ancang-ancang membenturkan tengkorakku pada meja sebagai ancaman.
Sebelum kulakukan, keberisikan itu mereda, lalu berubah jadi ejekan:
“Semesta tanpa makhluk hidup?”
Aku memang tidak suka makhluk hidup. Tapi, tidak begitu juga. “Semesta tanpa masalah.”
“Apa bedanya? Masalah muncul karena ada yang hidup dan melakukan sesuatu. Tapi, apa artinya dunia tanpa masalah? Tidak ada perjuangan. Tidak ada drama. Bukankah ketiadaan itu justru masalah yang lebih besar?”
Lagi, aku dibawa masuk ruang paradoks yang bakal meremas otakku sampai menyisakan ampas. Namun, ia benar.
“Jangan jadi penolak atau peniada konflik,” katanya lagi. “Jadilah pembebas dari konflik.”
“Aku … mencoba.”
“Dengan cara apa? Nih, aku dengar mau ada perang lagi. Kamu mau ikut kelas, naik level, belajar sihir?”
Ia tertawa. Aku tertawa. Sama-sama tahu itu gagasan yang lucu. Kemustahilan mutlak.
Perang esok hanya salah satu dari sekian yang kulewati dalam dasawarsa eksistensiku di sini. Seharusnya Edentria ganti nama. Pulau ini bukan surga nan damai.
Atau, jangan-jangan perang hadir karena pihak yang mau memiliki kedamaian itu? Mana yang eksis duluan? Mungkin ini seperti pertanyaan kuno: ‘Duluan mana, ayam atau telur?’
Kawan sekamarku sudah mulai bersiap menyambut dengan memperebutkan item legendaris dalam pelelangan, juga melatih fisik sampai jauh malam. Sementara aku, lagi-lagi, mendekam di kamar; tempat teraman yang takkan pernah tersapu badai, duduk tenang menyikapi kasak-kusuk sekitar. Nanti, begitu perang berakhir dan kemenangan disarungkan, aku tinggal memunculkan diri tanpa satu pun goresan sambil bilang, ‘Good Job!’
Ia mendengar gagasan konyolku, makanya gelak tawanya pecah lagi. Aku mengabaikannya dengan bangkit dari kubikel demi mengisi air ke dalam tumblr.
“Kalau orang lain bisa, kenapa aku juga harus? Lagipula, separah apa pun perang, siswa akademi pasti menang. Ini rahasia umum. Makanya, siswalah yang dilibatkan dalam perjuangan. Siapa pun penentu takdir kita pasti sudah saling kerja sama mendorong kemenangan ke sini.”
TIGA
(Aku Khalik, Aku Makhluk)
“Maksudmu Tuhan?”
“Tuhan, Dewa, Apa Pun yang pegang kendali hidup.”
Tak kuakrabi agama mana pun, tapi pekerjaan menentukan awal-akhir ciptaanku membutku percaya aku tak muncul begitu saja. Sesuatu di luar sana menggerakkan duniaku dengan ‘tangan kebetulan’Nya.
“Secara tak langsung, kamu tuhan mereka …,” Sang Lokomotor berkomentar.
Komentar itu tak butuh jawaban. Mungkin obrolan panjang kami telah usai. Kupikir lokomotor yang dulu pernah kusebut ‘Dinamo-san’ akhirnya memberiku kesempatan untuk kembali pada papan ketik demi melanjutkan profesiku sebagai ‘tuhan’.
“Kesimpulannya adalah: cita-citamu sejak dulu adalah jadi tuhan.”
Tarian jemariku untuk menyulam bit menjadi kalimat pun terhenti. “Tergantung pengertian tuhan. Kalau maknanya yang menciptakan, mengendalikan, menyayangi, dan memusnahkan semestaku, maka aku memang tuhan. Kalau menyangkut sesuatu yang disembah dan dipuja, maka jawabannya tidak.”
Lagi-lagi ia tertawa, meski ringkas saja. Juga kalem. Membuatku terenyak sejenak. Ini gejala bahwa ia mau berulah.
Suaranya dalam kepalaku terdengar lebih dekat daripada yang biasa. “Berarti, kamu percaya bahwa kamu sendiri hanyalah satu dari ratusan karakter yang dikendalikan oleh Sesuatu di luar sana?”
Tak biasanya ia menanyakan hal yang sudah ia ketahui jawabannya. Pertama, aku sudah menegaskannya tadi. Kedua, ia punya koneksi dan akses penuh terhadap input-output pikiranku.
Karena itulah, aku pun mengerti ‘apa’ yang sebetulnya tengah ia tunggu.
“Kita semua hanyalah pion dari permainan Sesuatu di luar sana,” ucapku penuh penekanan. “Dan, aku hanya bidak takdirmu.”
Sejenak hening yang menyambut, hingga aku bisa kembali mendengarkan suara-suara yang sebelumnya ditutup ocehan lokomotor: nyanyian seseorang sambil lalu di koridor, teriakan saling sahut dari halaman, juga bunyi samar musik klasik dari vinyl kuno yang rutin disetel penghuni kamar sebelah tiap jelang petang.
Lalu ia tertawa lagi. Makin lama makin kencang. Kali ini, alih-alih mengancam dengan gagasan membenturkan kepala, aku malah ikut tertawa bersamanya.
“Kamu sudah terjaga?”
Hidungku mengembang bangga. “Sejak awal kamu ciptakan aku. Sepuluh tahun lalu. Kupikir kamu tahu. Memang kenapa aku panggil kamu Dinamo-san atau Sang Lokomotor, coba?”
