Hitam itu legam, hitam itu malam. Ada rasa iri yang menahun bercokol, terbenam, lalu timbul lagi hanya karena kebiasaan membandingkan penderitaan dan keberuntungan. Aku tahu, semua orang dilahirkan dengan jalan masing-masing. Punya rezeki masing-masing. Mungkin aku melihat kesempurnaan dari orang lain, hanya karena mereka menyembunyikan kecacatan di balik sepuhan.
Hitam itu kelam, hitam itu balam. Ada rasa dengki yang tersangkut, kadang terangkut, manakala kulihat tawa dan senyum selebar itu di dekatku, sementara aku sendiri menggelantung tak berdaya di jurang, menanti uluran tangan, tapi seolah tak kelihatan siapa-siapa.
Hitam itu guram, hitam itu suram. Hanya dengan melihat keponakan-keponakanku tumbuh dengan baik dalam perlindungan orang tua mereka, ada bocah di dalam diri ini yang kulitnya tersayat-sayat. Betapa kami tumbuh bersama, begitu lekat, begitu erat, tapi ada jurang yang memisahkan nasib hanya karena kami tidak datang dari rahim yang sama. Mungkin mereka tidak seberuntung diriku yang punya kemauan keras untuk berjuang. Tapi, aku pun ingin seberuntung itu untuk tak perlu berjuang begitu keras hanya demi berlari mengejar ketertinggalan. Mereka tak perlu didera hantaman sapu lidi di betis dan punggung hanya karena berulah. Mereka tidak perlu menutup kuping dengan headset yang mendendangkan musik rock dalam volume keras hanya untuk tak mendengarkan pertengkaran orang tua. Mereka tak perlu bekerja sebegitu giat dan mengirit pemasukan hanya karena orang tua mereka berlepas tangan atas nasib mereka setamat SMA. Mereka tak perlu menabung untuk biaya kuliah. Mereka tak perlu bangun pagi karena amukan dan omelan ibu mereka kalau bangun pagi tak ada yang mengurus rumah. Mereka tak perlu digempur kebun binatang dan alat kelamin setiap ayah mereka naik pitam. Mereka tak perlu was-was tiap pagi datang hanya karena mengantisipasi doa buruk apa lagi yang bakalan meluncur dari lisani ibu mereka hanya gara-gara luput cuci piring atau bangun kesiangan. Mereka tak perlu dikatai ‘paksa dewasa’ karena mengemukakan pendapat, lalu dihujani tatapan sinis dan ucapan yang sama sinisnya, ‘anak kecil tahu apa?’. Mereka tak perlu dididik seperti bocah saat remaja, lalu dibuang bagai bangkai begitu menginjak dewasa.
Hitam itu muram, hitam itu buram. Sering pula aku kesal pada saudara-saudaraku, pada orang tuaku. Apa yang mereka larang mati-matian untuk kulakukan pada masa lalu, lantas jadi sesuatu yang biasa saja untuk anak-anak mereka. Lalu mereka tertawa riang, seolah tak pernah menorehkan apa pun terhadapku.
Hitam itu padam, hitam itu karam. Dipeluk kegelapan. Kematian. Direnggutnya cahaya dari kehidupan. Kupikir aku memang sebaiknya lenyap, bukan dalam urusan menjemput kematian, melainkan dalam aspek tak perlu terlahirkan, atau menghilang begitu saja dari dunia dan ingatan-ingatan.
