[Dibuat untuk BL Misadayo | Dualisme | 0(Ma-H) Celestilla]
(Warning ⚠⚠⚠ 1590 kata dan gaje. Mbuhlah aku nulis apaan. Semoga para pembaca kuat menjalani musibah ini, aamiin.)
SATU
Hidup tak ubahnya permainan hegemoni dualisme beserta lapisan spektrumnya yang saling bergantian menaiki jungkat-jungkit. Gelap dan terang, malam dan siang, adalah konstruksi keberadaan. Tanpa salah satunya, mustahil hidup ini berjalan.
Di Bumi 69, harga keseimbangan jauh melampaui teori itu. Ia adalah apa yang dipuja, menjadi satu-satunya negeri, bangsa, agama, dan basis idiologi yang berkerak sepanjang peradabannya. Bendera yin yang hitam putih berkibar di mana-mana. Legenda terwujudnya dunia itu menjadi dongeng perdana yang diperdengarkan kepada anak-anak mereka.
Konon, ada sepasang Dewa-dewi yang menguasai bumi. Manifestasi kegelapan dan cahaya dari jagad semesta yang kemudian mewujud jadi pemilik siang serta malam. Mereka memberi nama: Sunders si penguasa siang, simbol dari kegagahan sisi maskulinitas Semesta, dan Moonaliza sang dewi malam, ikon keanggunan sisi feminimitas jagad raya.
Berabad hidup berjalan damai sebagaimana mestinya. Di siang hari mereka menyembah mentari, dan saat malam datang rembulanlah yang dipuja.
Akan tetapi, selalu ada chaos dalam tatanan serapi apa pun.
Ilmu pengetahuan dan teknologi mendatangkan kemajuan peradaban seiring waktu berlalu. Mata yang semula terpincing sebagian perlahan mulai terbuka. Beberapa kalangan pun menyadari, kendati diistilahkan dengan keseimbangan, penyembahan ini tak sepenuhnya setimbang. Intensitas kemunculan rembulan tidak setara dengan sang matahari. Malam selalu datang setiap hari, tetapi tak selamanya ia memajang penguasanya di angkasa. Ada kalanya malam begitu dingin dan gelap, memberi kesempatan bagi butir gemintang untuk saling adu luminositas; sesuatu yang akan kalah jika ada penjelmaan Sang Dewi di dekat mereka.
Ribuan riset digalang demi mencari tahu rahasia di balik ketidakmunculan rembulan. Ratusan percobaan menyusul berikutnya dengan harapan mampu menyetarakan. Puluhan shaman dan ahli nujum pun diajak serta mengerahkan kemampuan metafisis dalam ritual persembahan yang lebih gencar dibanding biasanya. Tak terhitung lagi berapa dana yang terkucur demi proyek ini, juga berapa nyawa yang akhirnya luruh menjadi tumbalnya.
Tahun 2100, Badan Riset Semesta gempar. Penantian ratusan tahun akhirnya menjumpai titik terang dan angin segar.
***
Akan tetapi,
“Ada sesuatu yang gelap. Sesuatu yang gaib. Berbahaya. Menjauhlah. Hentikan. Ada sesuatu yang mengerikan.”
Kepala shaman menuturkan berkali-kali, sebelum ia kembali larut dalam lonjakan histeria. Bola matanya berputar tak tentu arah. Siapa pun yang melihat akan berpikir kewarasannya telah menghilang. Sejak turun dari pertapaan sepekan lalu di Gunung Agung, puncak tertinggi Bumi 69 itu, ia menjelma seseorang yang berbeda. Tiada lagi kharisma dan ketenangan yang biasa terpancar darinya. Segalanya lesap, menyisakan tubuh yang kurus dan pucat, seakan hanya berupa tulang yang dibungkus kulit semata.
Namun, tidak seorang pun tahu apa yang terjadi. Para shaman berteori bahwa pemimpin mereka telah melihat sesuatu yang mengerikan dalam pertapaannya. Mereka mendesak para cendikiawan menghentikan proyek ini sebelum terjadi bencana.
Kalangan ilmuwan mencebik. Dari mereka, dikemukakanlah alasan yang lebih praktis dan logis: lelaki tua itu terkena delirium akut akibat hipotermia di tengah udara dingin. Jika pun racauannya benar, kegelapan yang disebut-sebut itu justru akan menjadi penemuan menarik dalam peradaban ini. Semakin kuat larangan datang, semakin besarlah keinginan melanjutkan.
Pertama dalam sejarah, kedua aliran besar yang dihormati dan hidup berdampingan di Bumi 69 terpecah kubu.
***
Beberapa tahun kemudian, peristiwa itu tenggelam oleh hiruk-pikuk modernisasi. Hanya kalangan shaman yang ingat akan ucapan seseorang yang amat mereka hormati, yang begitu karib pada Langit, sehingga mereka memutuskan undur diri dari sorotan publik. Gunung-gunung menjadi tempat mereka berdoa lebih giat, siang malam, tanpa henti. Mengantisipasi kegelapan, bahaya, yang gaib, apa pun itu yang pernah diwasiatkan mendiang Sang Guru.
Berbanding terbalik dengan itu, pihak cendekiawan justru makin disorot. Dengan senyum secerah Mentari itu sendiri, ketua Badan Riset Semesta maju ke hadapan awak media.
“Kita siap. Teknologi kita yang paling anyar sudah mampu membuka gerbang menuju pengetahuan baru. Kita akan menyelaraskan kehidupan ini, sesuatu yang sudah begitu lama kita nanti-nantikan.”
Tembakan radiasi dan pulsar bertegangan tinggi akan menahan Sang Dewi Malam agar punya kedudukan yang setara dengan Dewa Siang. Miliaran masyarakat diperbolehkan ikut menyaksikan dan mengabadikan.
Tanggal 21 Desember 2112 menjadi hari libur nasional. Sepekan sebelumnya, angkasa penuh oleh siraman cahaya yang ditembakkan dari Bumi 69. Observatorium berubah fungsi jadi kamar hotel yang di-booking jauh-jauh hari.
Akan tetapi, sehari sebelum hari H, seisi kantor pusat Badan Riset Semesta geger.
Seseorang di depan layar membelalakkan matanya, lalu menyeru terbata pada sekeliling, “Gawat! Posisi Bulan bergeser drastis! Ia menuju Posisi Matahari!”
DUA
Ia merasa berputar untuk entah berapa lama. Waktu tak bisa dihitung saat ini.
Kemudian, sesuatu yang kuat menariknya, Membangkitkan sesuatu yang sudah lama terpendam di dasar keinginan oleh sumpah yang pernah ia lontarkan demi memelihara kehidupan. Kepala dan dadanya penuh oleh buncahan rasa, seperti gelembung-gelembung yang lantas meniadakan daya pikirnya.
‘Aku Selena.’ Itu yang pertama terbersit dalam kesadaran setelahnya.
‘Aku adalah penguasa malam’. Keterangan itu menyusul berikutnya, memecahkan gelembung-gelembung yang sejak tadi bercokol. Semburan aroma, citra, dan suara-suara menamparnya dari pecahan-pecahan itu. Dingin. Ia perlu hangat. Ia perlu bara. Sesuatu yang menyala. Di manakah ‘ia’ berada?
‘Ia’ di sana. Lama tidak berjumpa, Kekasihku.
Kakinya menjejak perlahan, selangkah, dua langkah.
“Tidak.” Gemuruh terdengar. Letupan api menjilati sekeliling dari tepian-tepian bola merah yang merekah. “Tetap di tempatmu, Selena.”
Ia menggeleng perlahan. Selubung yang melingkupinya meleleh dan luruh ketika ia semakin mendekati sumber cahaya.
“Ini bukan dirimu. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau mendekat. Kau akan melahapku—”
“Aku tidak peduli, Helios, Kekasihku. Selama kita bersama dan menjadi satu entitas tunggal kembali seperti masa sebelum semua ini ada, aku tidak peduli.”
Direngkuhnya cahaya itu. Cahayanya. Yang menahun hanya bisa ia tangkup sebagian. Kini, mereka akan bersatu. Tidak perlu ada lagi jarak di antara mereka.
***
Kegelapan total menganeksasi angkasa di Bumi 69. Padahal, ini belum waktunya malam tiba.
Tanpa perlu memikirkan lebih dalam tentang segala teori dan proposisi yang telah dikunyahnya berkali-kali sampai membaur dengan otaknya sendiri, ketua Badan Riset Semesta sudah tahu, ini masalah gawat. Keseimbangan dunia ini sepertinya telah mereka usik entah bagaimana dan entah pada bagian mana.
Suara-suara kepanikan dari sekeliling, dengking alarm pertanda bahaya, teriakan-teriakan pegawainya … semua itu hanya terdengar samar-samar. Menjadi latar belakang dari suara dalam kepalanya sendiri yang menggemakan racauan seseorang sinting yang sudah lama dimakan cacing di perut bumi:
“Ada sesuatu yang gelap. Sesuatu yang gaib. Berbahaya. Menjauhlah. Hentikan. Ada sesuatu yang mengerikan.”
Tidak disangka, butuh sekian tahun baginya untuk bisa membuktikan kalimat-kalimat yang dahulu tidak bermakna baginya. Atau, justru karena itu terlalu bermakna, sehingga tidak bisa dicerna otaknya yang menyingkirkan makna dan mempertebal tujuan?
Gerhana. Itu salah satu teorema yang pernah ia baca dari buku. Sebuah dunia lain, bumi lain, peradaban lain, mengistilahkannya demikian. Peristiwa kala bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus sehingga tubuh bulan menghalangi cahaya matahari untuk sementara waktu.
Tentu ia bisa tenang jika hanya ada satu saja dalil yang perlu ia buktikan. Masalahnya, ada lagi yang lain, teorema dari dunia kesekian lagi, yang mengalami hal dengan gejala serupa, tetapi nyatanya adalah peristiwa di mana rembulan melahap matahari karena sisi gelapnya yang terbangkitkan. Yang mana yang bisa ia percaya? Itu pertanyaan pertama. Langkah apa yang harus ia ambil? Itu pertanyaan selanjutnya. Keduanya hanya disahuti oleh kekosongan dalam kepalanya, sebelum ia kembali digempur suara-suara yang sempat hilang.
Suara teriakan. Suara alarm. Suara tubrukan. Suara sesuatu yang jatuh. Suara ringisan. Suara kepanikan.
“Gelap! Semuanya gelap!”
“Ketua! Di mana Anda? Apa yang harus kami lakukan dalam kegelapan ini? Ketua!”
Duduknya menegak. Sudah berapa lama semua ini berlangsung? Semua penunjuk waktu kacau-balau. Angkanya teracak, jarumnya berputar tanpa arah.
Kemudian timbul lagi suara lain. Suara teriakan. Suara tubrukan. Suara sesuatu jatuh. Suara ringisan. Suara erangan. Kali ini, semua itu dihasilkan oleh dirinya sendiri.
***
Kegelapan dijemput dari ketiadaan solar. Semakin lama ia memeluk, semakin banyak pula endapan kalor yang terserap. Tak cukup banyak jumlah persediaan untuk menandingi kecepatan terkurasnya.
Hanya dalam kurun waktu singkat, yang entah berapa lama karena hari dan pekan sudah tidak bisa lagi dikalkulasi, Bumi 69 berubah jadi bongkah dingin yang beku. Kehidupan musnah sudah, dimulai dari binasanya rantai makanan paling dasar yang tak bisa lagi berfotosintesis, hingga merambat pada akhir hierarki ini. Tiada yang bisa hidup dalam kondisi nihilnya pangan dan suhu mematikan.
“Menyedihkan. Tragis sekali dunia itu,” Dewa dari Bumi lain mengomentari.
“Mereka menuai apa yang mereka semai.”
Entitas yang menyahut jelas pemimpin mereka. Ia mendiami singgasana paling cemerlang di antara ratusan kursi-kursi mungil.
“Tidakkah kita perlu menghukum Selena? Ia sudah melanggar perjanjian di antara kalian,” seseorang menghasut.
Sang Pemimpin, yang terkenal dengan begitu banyak nama hingga tak bisa lagi dipanggil dengan hanya satu nama, mengangguk samar. “Ia memang perlu Kuhukum.”
Dibawalah sosok pengacau itu ke hadapan persidangan. Melangkah anggun di antara taburan gemintang. Dari sekujur tubuhnya, teepancarlah sinar yang teredam. Beberapa hadirin mencemooh, jelas itu cahaya curian dari Helios.
“Kau sudah berjanji untuk tidak menampakkan sisi gelapmu apa pun yang terjadi,” Sang Pemimpin menghakimi.
Tidak ada pembenaran apa pun yang keluar dari Selena. Sejak lama, ia sudah tahu tubuhnya sendiri pun menyimpan dualitas itu: cahaya dan kegelapan. Dualitas yang membuatnya ringkih dan tidak stabil. Itulah mengapa sisi gelapnya selalu tersembunyi dari Bumi 69. Sekali terbuka, ia kehilangan kendali. Namun, demi bisa bersanding dengan pujaan hati, ia menerima beban untuk menjadi salah satu penguasa Bumi 69.
“Karena itu, kau akan dihukum, Selena. Kau akan dibuang ke sebuah dunia dan jadi avatara mati di sana. Kau akan menjalani hidupmu seperti manusia, bersusah payah seperti mereka.”
Selena tersentak. “Bagaimana dengan Helios?”
“Ia akan Kujadikan Dewa di bumi lain.”
“Tanpaku, dia tidak bisa—”
“Tanpamu, dia bisa. Mungkin kamu lupa. Malam tidak datang karena kemunculanmu. Ia datang karena ketiadaan cahaya. Helios bisa mengaturnya sendiri. Sama sepertimu, semua makhluk-Ku punya dualisme itu, hanya saja mereka tidak selabil dirimu.”
Menjadi avatara adalah hukuman hina di kalangan Dewata. Menjadi avatara mati adalah hukuman paling hina. Namun, sudah tertanam dalam sistem penciptaan mereka, untuk tidak banyak membantah. Semua itu konsekuensi yang harus Selena terima dari ketidakmampuannya menguasai semua sisi dari diri sendiri.

Satu respons untuk “Dualisme”