[ #songfict2021 | Berkubang | Charlie Puth – Cheating on You | 0(Me-H) Han Ga-eul | 1192 kata]
“Lagi?”
Tahun kesekian, wanita kesekian, kali kesekian, dan hasilnya aku masih gagal. Juno tentu muak menerima kabar yang sama berkali-kali. Namun, aku lebih muak pada diriku sendiri.
“Benar-benar! Kadar kegamonanmu sudah taraf akut. Seharusnya kamu sudah masuk ICU! Atau … itu cuma alasanmu saja? Jangan-jangan sebenarnya kamu sudah homo?” Tiba-tiba dia bergidik jijik, beringsut sekian senti dan menyilangkan lengan di dada dengan defensif.
Kupandangi ia dengan tatapan malas. Remang lampu bar setidaknya membuatku sedikit tenang. Atau mungkin minuman yang kutenggaklah penyebabnya. Padahal, tadinya aku benar-benar sudah putus asa memikirkan nasib percintaan yang mengenaskan.
“Ayolah … ibu mertua sudah mewanti-wanti. Katanya, kalau setahun lagi kamu tidak kunjung menikah, lebih baik dia pindah ke gunung dan jadi pertapa tua di sana. Kamu tidak kasihan?”
“Itu tidak memotivasi sama sekali,” sindirku. “Bukan kehendakku kalau setiap berhubungan dengan wanita lain aku selalu merasa seperti sedang sel—”
“Konyol. Itu kehendakmu. Kamu belum melupakannya. Itu masalahnya.” Juno membuang napasnya, sepertinya tertular stres. “Hei, ini sudah sembilan tahun kalian berakhir!”
“Delapan,” ralatku. “Aku hanya berpikir perempuan-perempuan itu bisa mendapatkan yang lebih baik.”
Telunjuknya mengarah ke hidungku. “Itu. Lalu kamu tidak berhak mendapatkan masa depanmu karena lebih memilih berkubang dalam kenangan masa lalu?”
Sekakmat.
***
Sudah menjadi pengetahuan umum, acara reuni merupakan sarana terbaik untuk pamer pencapaian dan kepo akan urusan orang. Itulah sebabnya aku selalu bersikeras untuk tidak menghadiri ajang ini atas nama apa pun.
Bukan karena pencapaianku tak semegah itu. Akan tetapi, manusia di sekeliling selalu gatal mengorek kekurangan. Sekalipun telah kududuki jabatan Manajer Umum di perusahaan yang lumayan besar dengan pendapatan yang membuatku layak diawasi kantor pajak, orang-orang itu takkan puas. Aku tahu apa yang akan mereka usik dari kehidupan mapanku saat ini.
Pendamping hidup.
Cukuplah panas kupingku hanya berlangsung saat acara keluarga. Lebih baik tidak kuhadiri sekalian ajang komparasi pencapaian semacam reuni-reuni ria.
“Yakin? Hani sudah mengonfirmasi akan datang, lho.”
Minumanku muncrat ke jas sebelum mengguyur kerongkongan. Juno di hadapanku terkikik pelan dengan mata memancarkan ejekan, sementara tangannya menyodorkan sehelai tisu. Kupakai benda itu sebagai dalih kesibukan agar tidak mengatakan apa pun.
“Setelah bertahun-tahun hilang kabar, dia datang, lho.”
Dalam visualisasiku, mencuatlah dua tanduk di puncak kepala Juno. Ayah satu anak itu nyengir, barangkali telah menangkap gelagat bahwa aku mampu dia goyahkan.
“Siapa tahu kamu gagal move on karena penasaran akan kabarnya. Lalu begitu melihat kondisinya, kamu akhirnya bisa move on.”
Sialan. Kuakui, aku memang penasaran akan kabar Hani. Sembilan tahun sejak lulus dan delapan tahun sudah kami putus, dia tidak pernah muncul lagi. Sempat ada gosip gadis itu sudah meninggal. Yang lainnya bilang, dia sudah menikah dengan orang konglomerat dan punya seorang putra. Tiada yang tahu isu mana yang benar karena yang dibahas tidak pernah muncul mengonfirmasi. Di tengah dunia digital serbacanggih ini, kabar Kim Hani justru tidak bisa dideteksi.
Jadi sudah jelas, kemunculan kabarnya otomatis membuat kehebohan. Kupikir itu cuma akal-akalan Juno, tetapi begitu nekat memutuskan sehingga aku dimasukkan ke obrolan grup alumni yang selama ini kutolak, kutemukan nama Kim Hani di sana. Kehadirannya diwarnai kehebohan sebab ditanyai kabar ini dan kabar itu.
Yang ditanya hanya membalas sungkan, “Kalian akan tahu jawabannya nanti, kalau kita sudah ketemu.”
***
Akibatnya, jauh-jauh hari, aku dipusingkan oleh keputusan akan pakai baju apa. Juno, sahabat sekaligus adik iparku itu berkali-kali meledek.
“Sepertinya reuni kali ini bakal spesial. Dua manusia gua akhirnya memutuskan datang. Jadi, pakai baju yang keren, ya.” Tawa lahaknya tersembur.
Akan tetapi, baru semenit aku duduk di antara belasan orang dari masa lalu, aku sudah menyesali keputusanku dan merasakan tanda-tanda kejenuhan.
Hani belum menampakkan batang hidung. Maka praktis, akulah yang jadi sasaran interogasi paling renyah.
“Gajimu sebulan berapa?”
“Jadi, calon istrimu orang mana?”
Aku mendelik gusar. Pertanyaan yang kuantisipasi sejak lama mencuat juga. Semua orang di sekeliling meja langsung menghentikan gerakan, seolah pantang membuat suara yang mengusik ceritaku. Sayangnya tidak semudah itu aku akan memuaskan rasa haus mereka. Aku memilih bungkam.
Juno mencoba menyelamatkanku. “Pacarnya sangat menjaga privasi. Nanti, tunggu saja undangannya tiba di rumah kalian.”
Namun, itu tidak membantu.
“Jangan-jangan pacarnya idol?”
“Atau anak presiden?”
Lagi-lagi aku membungkam mulut sendiri, kali ini dengan bantuan setenggak minuman, agar kata-kata kasarku tidak tersembur keluar.
***
Baru sepuluh menit, tapi rasa gerah ini membuat waktu seperti sudah melaju sepuluh jam. Tepat sesaat sebelum mulutku sudah mau berpamitan dengan pura-pura membaca pesan penting, perhatian sekeliling meja tertuju ke arah pintu.
“Itu Kim Hani, bukan?”
“Hani! Kim Hani datang!”
Kepalaku berputar cepat. Terlalu cepat, mendahului sorak-sorai di sekitar. Melarutkan rencana pamit ke dalam saliva yang kutelan.
Sosoknya berbeda dari apa yang kukenal dahulu. Wajah yang dulu polos kini dipoles riasan. Tubuhnya jadi lebih bengkak sedikit. Dia berpelukan dengan beberapa orang, kemudian duduk di salah satu kursi kosong yang agak jauh dari tempatku.
Ketika mata kami saling bersitatap, dia menyunggingkan senyum akrab.
Dadaku berdesir. Meski tubuh dan penampilannya berbeda, senyum yang terkembang masih sama. Senyum yang mengingatkanku pada senyum bertahun-tahun lalu saat aku menyatakan perasaan dan memintanya jadi pacarku. Senyum yang mengingatkanku pada senyum saat kami berduaan di atas sofa rumahnya, dan bibirnya kukecup dengan kecupan awam yang polos dan lugu, sebelum dia menggerakkan bibir dan mendominasi permainan. Tidak ada ciuman yang rasanya sama seperti miliknya bahkan setelah aku menyesapi bermacam-macam rasa bibir. Tidak ada.
Sodokan di ujung sepatu menghentakku kembali dari gelombang nostalgia yang salah jalan. Juno melotot padaku, menegur. Aku mengerjap-ngerjapkan mata mengusir linglung. Kenangan keparat.
“Kamu misterius amat, sih. Benar-benar hilang kabar. Jadi sekarang bagaimana kehidupanmu?” tanya seseorang pada Hani.
Aku menajamkan pendengaran, tanpa sadar menahan napas, sementara mataku tertambat pada isi gelas yang separuh kosong.
Terdengar suara tawa renyah. “Ah, iya. Aku pindah ke San Fransisco, ikut suami. Karena satu dan lain hal, aku baru bisa pulang tahun ini.”
Ada yang retak di dalam dadaku. Ujungnya tajam dan menyayat ulu hati. Meski begitu, aku merasa perlu mendengar lebih. Mungkin Juno benar, mendengarkan kenyataan ini mampu membuatku jatuh untuk bangkit lebih tinggi esok hari.
Suara riuh berkumandang lagi.
“Wah, ternyata benar sudah menikah. Syukurlah. Pekerjaan suamimu apa?”
“Tahu tidak, saking tidak adanya kabar darimu, sempat ada desas-desus kalau kamu bahkan sudah meninggal.”
Hani tertawa lagi, lebih keras. “Suamiku pengusaha di San Fransisco. Iya, kabar itu separuh benar. Aku memang hampir meninggal saat melahirkan anak keempatku.”
Retakan di dalam semakin parah. Hani sudah punya empat anak. Bayangan wanita itu bermesraan dengan laki-laki lain dan betapa romantisnya mereka sampai bisa membuahkan empat anak, tiba-tiba saja tergambar di benakku dan menciptakan gelembung emosi. Aku tidak terima pada kenyataan ini. Di saat aku selalu gagal merajut tali kasih karena dirinya, dia justru bersenang-senang dengan pria lain.
Kutenggak minumanku lagi. Rasa sakitnya lama-lama semakin tidak bisa kutahan. Tanpa melihat, bisa kurasakan tatapan iba Juno atasku.
“Oh, kalau kamu, bagaimana? Sekarang sedang menjalin hubungan dengan siapa?”
Aku tidak tahu pertanyaan Hani ditujukan padaku sebelum namaku disebut dan kakiku disodok Juno, lagi. Kuangkat muka, menatap perempuan itu dingin, hanya supaya patah hatiku tidak dia ketahui.
“Tunggu saja undangannya sampai ke rumahmu.”
Benar. Tunggu saja. Entah setahun atau sepuluh tahun lagi. Entah dengan perempuan yang kutemui atau yang ditunjuk ibuku nanti. Atau tidak sama sekali dan aku menjadi perjaka tua mabuk kerja, sedang ibuku berakhir jadi pertapa di gunung sana. Yang pasti, aku sudah bertekad untuk tidak lagi berkubang dalam rasa bersalah yang salah, sementara yang membuatku sedemikian tenggelam justru sibuk berterbangan.

Mantaaaaap jiwa!!! Cuma sayang tone-nya masih kurang lakik
SukaDisukai oleh 1 orang