Euphoria

๐“šEDATANGANNYA MAMPU MENDESIRKAN sensor-sensor yang terbuka. Kemudian, pada akhirnya, ia terasa nyata di dalamku. Selapis getar tipis; gelombang yang menjalar melalui dendrit dan akson. Masuk menghipnotis pikiran dalam letupan yang memicu senyum. Juga: tawa.

Ia tak terlihat. Pemicunya tiba dalam durasi cepat. Seperti renyah gelak anak-anak yang bermain di pekarangan. Seperti aroma buku baru yang kuhidu untuk membangkitkan memori menentramkan. Seperti rasa manis yang memelintir papila dari cokelat, kukis, atau seaduk cairan teh. Seperti peluk dan kecup dari ia yang tersayang. Seperti kata-kata cinta yang akhirnya tersembur dari pribadi yang disuka. Dan, hal-hal kecil lainnya, yang tak sadar memiliki daya pikat. Namun, efeknya sarat.

Sebab, ada kelopak-kelopak neurotransmiter yang tersentuh, dan menebar serbuk sarinya untuk menari dalam senyawa. ๐ท๐‘œ๐‘๐‘Ž๐‘š๐‘–๐‘›. ๐‘†๐‘’๐‘Ÿ๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘›๐‘–๐‘›. ๐‘‚๐‘˜๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘œ๐‘ ๐‘–๐‘›. ๐ธ๐‘›๐‘‘๐‘œ๐‘Ÿ๐‘“๐‘–๐‘›. Alkimia menguar lantas membaur dengan aliran darahku. Menjelma keberuntungan di level kuantum, yang keberadaannya hanya pasti saat aku memilih untuk percaya.

Maka, aku percaya. Pada tawa yang rekah dari paru-paruku tanpa permisi. Pada matahari yang tampak lebih benderang daripada sebelumnya. Pada warna-warni alam yang dinaikkan saturasinya, hingga terlihat lebih cerah dibanding semestinya di retina. Pada kelegaan yang meruap di dadaku, tanpa diminta. Seperti gigitan pertama pada roti hangat yang kukira biasa saja, tetapi ternyata istimewa. Layaknya kehangatan kopi pertama yang mengecup lidah, atau suara jangkrik yang tak pernah lelah mengisahkan malam kepada yang mau mendengarkan.

Ia selalu bersembunyi di lipatan kecil semesta, di saku-saku dunia yang sering luput kuperiksa, dan hanya akan muncul di waktu-waktu tak biasa. Bukan sesuatu yang akan mencuat kala sengaja kujemput. Melainkan datang mengetuk di momentum tertentu yang sendiri ia catut. Ia akan menyembulkan diri, hanya di kala aku berhenti menuntut.

Terkadang, aku bertanya, apakah mungkin ia hanya seberkas ilusi? Sebuah konstruksi kognitif yang dilahirkan oleh rahim bias optimisme? Akan tetapi, seperti ๐‘๐‘™๐‘Ž๐‘๐‘’๐‘๐‘œ yang ternyata lebih pekat daripada racikan-racikan farmasi, kuputuskan untuk tidak peduli. Aku memilih larut. Persetanlah jika ia tipuan. Biarlah andai ia rekaan.

Asal aku masih bisa merasakannya, itu sudah cukup.

Sebab, kumengerti benar. Eksistensinya tidak pernah abadi. Ia berdansa dengan waktu, beralih dari satu momen ke momen berikutnya. Di belakangnya, barangkali ada bayang-bayang inversi, dalam potensi untuk menjungkirbalikkanku dari kecemerlangan ke kemalangan, dari suka ke duka, yang selalu mengintili kapan pun, dan sama sepertinya; berpotensi mencuat sewaktu-waktu.

Sekali lagi, bukankah di situlah letak magisnya? Maka, akan kunikmati kemunculannya, seinstan apa pun ia bertandang. Di kala seluruh semesta terasa lebih terang, lebih berwarna, lebih bernyawa. Bahkan, paradoks yang dikandungnya pun tak pernah lagi terasa menyakitkan. Ia memang mungkin datang untuk pergi. Akan tetapi, justru potensi perginya hanya membuatku kian menghargai kehadirannya.

Kini, kutanamkan dalam diri ini: ia tidak pernah boleh kujadikan tujuan akhir. Selaksana semburat warna dalam lukisan hidup, eksistensinya tak pernah dimaksudkan untuk memenuhi kanvas. Serpihan kecil itu ada dalam kebercukupan; cukup untuk menghadirkan harmoni dalam Kesemestaan.

Sebab, kebahagiaan, sejatinya adalah aku sendiri. Aku, yang akhirnya berhenti mencari-cari alasan, hanya untuk bisa tertawa lagi.

โ”€โ”€ .โœฆ

Tinggalkan komentar