šku melihatmu,
…, wahai, jiwa yang melalui keterjagaan lebih panjang daripada semestinya, lantaran masih tak kunjung diperjumpakan pada kedamaian. Engkau yang rela meniti lorong gelap, karena hanya itulah yang tersisa, di hamparan dunia yang dijanjikan bertaburkan gemerlap. Yang tak gentar pada lolong serigala, malah mengakrabi hingga menjadikannya pengantar lelap. Yang melulu memainkan alunan melankolia, berulang-ulang, lantas berjuang menghidupkan setiap sendu nan melagu, karena cuma itulah yang ada; satu-satunya pembeda antara dirimu dengan batu.
Aku menyaksikanmu,
…, wahai, jiwa yang seringkali melatih senyum dan tawa di hadapan cermin, demi menjaga kenyamanan orang lain, sekalipun di dalammu sendiri terperangkap sejuta badai. Engkau yang memerangi malam dan mencipta pagi tunggalmu demi bisa bangkit berdiri, kendati jauh di lubuk terpendam, ada gemetar yang memaksa kayuhanmu goyah dan melunglai.
Aku mengawasimu,
…, wahai pribadi-pribadi indah nan senantiasa meletakkan harapan pada bahagia, walau realita tak selamanya memakbulkan. Pejuang yang masih menyemai kasih, di tengah arus dunia yang menuju kedurjanaan tak bertepi. Engkau indah bahkan hanya oleh segala hasratmu untuk terus merasa, untuk selalu tertawa, dalam penerimaanmu akan segenap dinamika kehidupan yang telah dibentang Semesta.
Aku melihatmu, Sayang. Dan, sudah saatnya kaulihat dirimu sendiri sebagaimana kulihat engkau. Engkau yang lebih dari sekadar apa. Engkau yang lebih dari semata ada. Ketahuilah, kedalamanmu bukanlah penghalang bahagia, melainkan penguatnya. Dan, mulailah perjalanan ini dari sepeluk pemahaman, yang berani kauberi untuk dirimu sendiri.
Dunia barangkali belum mengulurkan sukacita atasmu. Namun, aku melihatmu, karena di sana pula sanggup kusaksikan duplikasi diriku. Kita, satu. Maka, sekalipun kita berdiri sendirian di masing-masing titian, aku menyertaimu, secara spiritual.
