Cum Dulcฤ“dine (With The Sweetness)

I.tumpah harummu ialah lembutyang meraup eksistensi kabutmenyebar lekat di udara yang kusutpantang pula ditelan angin ributpadahal, jendela t'lah kukuak lebar-lebar aroma itu merayapi hidung,menggoyahkan iman di tepian lidah,hingga leburlah ia di tenggorokanmanis tak mencolokmengendap macam rahasia malamyang memilih melelapkan eksistensinyadi dasar gelas kaca yang bercahayapadahal, ia nyaris diretakkan panas yang membakar pasalnya, engkau yang bertandang … Lanjutkan membaca Cum Dulcฤ“dine (With The Sweetness)

Ronggamu Memamah Isi Semesta

๐‘น๐‘ถ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฎ๐‘จ๐‘ด๐‘ผ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘ด๐‘จ๐‘ฏ ๐‘ฐ๐‘บ๐‘ฐ Semesta. Engkau menelan tanpa perlu lidah, mereguk walau tak berbibir, menenggak tanpa peristaltik. Segenap materi yang berkelindan di udara: serpihan luka, debu-debu pengelana, serapah yang dilontarkan saliva, doa-doa merana di penghujung asa, napas yang terputus di ambang rasa ... kauserap ke dalammu pula. Engkaulah gravitasi yang mengisap segala. Meniadakan perbedaan yang lumrah … Lanjutkan membaca Ronggamu Memamah Isi Semesta

Takut Mati

๐‘ฒ๐‘ถ๐‘ป๐‘จ ๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฐ ๐‘น๐‘จ๐‘บ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘ถ๐‘ณ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘ผ๐‘น. Bahkan sewaktu lampu-lampu padam serentak, bayangannya masih bergerak sendiri. Merayapi dinding-dinding menjulang. Menempel di atap, menjelma orkestra bersama decak cecak dan kerik jangkrik. Jalanan dipenuhi kursi-kursi tanpa pemilik. Beberapanya berdiri tegak di atas genangan air. Sebagian terbalik dengan kaki menuding langit. Tidak ada yang mau mendudukinya. Tidak pula aku. Kesannya, … Lanjutkan membaca Takut Mati