Membunuh

Ia tidak pernah menduga bahwa kebenciannya kepada makhluk Tuhan akan sebegini kentalnya mengontaminasi perasaan. Setiap kali sosok itu melewati area tangkapan matanya, ia merasakan kemarahan; dorongan kuat untuk menghabisi—membunuh dengan tangan sendiri. Tidak peduli bahwa kemurkaan yang besar yang memicu keinginan untuk membunuh sesama merupakan salah satu dari tujuh dosa terbesar manusia.

Tapi untuk kali ini, ia bersumpah demi apa pun, bahwa ia sudah tidak tahan lagi. Kebencian yang melanda hati kini sudah berada di puncak titik didih, dan ia harus benar-benar melancarkan aksinya kendatipun harus menanggung dosa.

“Maafkan aku, Tuhan,” lirih hati nuraninya.

Maka, tatkala obyek incaran sudah di depan mata, melewati lokasi peredaran seperti biasanya, pendaran murka berwujud api yang berkobar nampak jelas di kedua matanya. Ia mendekati sosok yang tengah asyik sendiri itu dengan mengendap-endap, dan dalam sekali sentakan, senjatanya ia layangkan—

—PLAKKK!

Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa puas ia, betapa lapang dan lega hatinya, ketika menyaksikan sosok yang dibenci kini terkapar tidak berdaya oleh aksi tangan sendiri.

Di luar dugaan, sama sekali tidak ada penyesalan di dalam hatinya. Dengan rasa jijik, ia menatap nyalang objek yang meronta lalu seketika tidak lagi bergerak, kemudian mendesis bengis, “Mampus kau! kecoa sialan!”

Tinggalkan komentar