2025 kata
PAGI tiba. Sulur-sulur sinar mentari terbias oleh setetes embun yang jatuh ke atas sepucuk daun. Tak kuasa menampung beban massa air yang dipikul, sang daun terusik dan kembali menjatuhkan tetesan air ke bawah, mengetuk sekuntum bunga yang masih terkatup di awal hari.
Perlahan namun pasti, kelopak bunga itu membuka. Menampilkan sosok mungil bersayap kecil yang menggeliat di dasarnya. Satu per satu kelopak lainnya menyusul, dan sekoloni makhluk serupa yang baru saja dibangkitkan dari lelap berangsur mencipta keriuhan.
“Uhm …, nyam …, nyaaammm …, tambahkan lagi madunyaaa~”
Salah satu sosok masih betah berbaring kendati kelopak bunga yang berfungsi sebagai atap telah tersingkap. Sibuk terbuai dalam igauan, tanpa menyadari ada entitas lain yang tengah menatapnya bengis.
Lalu …
BYURRR
“KYAAA~ MADUNYA! MADUNYA … Madunya … Mad―” Ia tercengang begitu menyadari kondisinya kini. Basah kuyup dan lengket oleh air, dengan tetua famili tengah menjulang di atasnya, mendekap kulit hazelnut di depan dada. Ekspresi tetua membuatnya bergidik.
“Madunya tidak ada, Evelyn …” Suara itu terdengar mencekam. “Sekarang kau pilih mau pergi bekerja, atau kuguyur lagi sampai kau mati dengan sayap sobek di dalam situ.”
Tentu Evelyn memilih opsi pertama. Selepas meringis meminta maaf atas ketidakdisiplinannya, ia susah-payah mengepakkan sayap hijaunya yang kuyup untuk keluar dari kelopak bunganya, berbaur bersama rekan sekoloni yang sibuk bekerja.
Setiap pagi menjelang, para peri bertugas menyemai daun-daun di perkebunan, serta membacakan mantra-mantra khusus demi memusnahkan gulma dan hama yang berpotensi mengganggu kualitas flora.
Evelyn membantu sang kakak yang tengah berupaya mengaktifkan klorofil. Mantra terapal dari bibir mungilnya, lalu muncullah serbuk-serbuk hijau keemasan dari kuasanya, yang lantas membuat daun-daun hijau tampak berkilauan.
“Kak,” desisnya di sela – sela pekerjaan, “setelah ini, daun teh akan dibawa oleh manusia, ‘kan?”
Sang kakak, Ellena, menyahut tanpa menoleh, “Hm.”
Evelyn tercenung sejenak, ragu akan gagasan yang mencuat di dalam kepala. Melihat adiknya termangu, Ellena bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Hehehe …, Tidak.”
Mereka kembali larut dalam proyek yang digeluti. Pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, sampai lelah menyambangi dan mentari telah naik sepenggalahan, membuat bayangan pepohonan yang jatuh ke tanah lebih pendek dari semestinya.
Evelyn memilih beristirahat dengan menepi di bawah pohon rindang. Menatap teman-temannya yang asik bercengkrama dan bergunjing. Selagi atensi sewarna zamrudnya teralih ke angkasa di balik rerimbunan pohon, fokusnya melayang jauh. Pada sebuah gagasan yang takut-takut ia kemukakan.
Sudah lama ia ingin keluar dari sini. Mengentaskan rasa penasarannya akan dunia manusia; dunia di luar dunia mereka— Aleia. Bukan hanya sekali ia berusaha mengamat-amati pergerakan para homo sapiens yang bekerja di perkebunan itu, dan bukan cuma sekali pula ingin terbang mengikuti mereka. Namun, larangan untuk mengikutcampuri urusan manusia di luar ruang lingkup perkebunan telah tercantum dengan jelas pada sumpah para peri belia. Dan sanksinya berat: dikebiri—penghilangan sayap peri pembangkang. Peri belia tanpa sayap akan menjadi cela yang teramat nista. Ia akan dikucilkan seluruh koloninya.
Ia menopangkan dagu pada lutut. Menggaris-gariskan jemari kecilnya pada tanah tempatnya terduduk, membentuk pola-pola acak, demi menghibur hatinya yang ringsek.
Sesosok peri bersayap kuning yang terbang melewati tempatnya bermuram durja melihatnya, lalu melayang menghampiri.
“Hei, Eve, apa yang kau lakukan? Mengapa kau bersedih? Mentari hari ini terlalu cerah untuk wajah yang murung~” Ia ikut duduk di sisi Evelyn.
Yang ditegur hanya menoleh sejenak sembari menyunggingkan seulas senyum malas. “Aku sedang sedih, Candy. Cita-citaku terhalang oleh realita yang keji,” timpalnya dramatis.
Kerut di dahi Candy—nama si peri besayap kuning—kian dalam. Pertanda bahwa dirinya masih belum paham. “Memangnya apa yang kau cita-citakan? Apakah kau ingin menjadi ratu peri?” terkanya.
Evelyn menggeleng. “Cita-citaku … teramat sangat hina …”
Candy kian merapatkan diri kepadanya, mendengar nada suara sang teman yang tersirat kerahasia-rahasiaan.
“Apa?”
Ragu, peri hijau mengaku. “Aku ingin membuntuti manusia.”
Bola mata Candy melebar, dan secara impulsif, ia menjauhkan dirinya secepat kilat, terbang berputar-putar dengan syok.
Khawatir rahasianya terkuak kian lebar, Evelyn yang menyesal karena membeberkan keinginannya mencoba menenangkan Candy. Semenit kemudian, Candy kembali duduk di depannya dengan ketakutan masih terpancar jelas di raut ranumnya.
“Demi Ratu Minerva, Eve!”
“Aku tahu impian ini teramat hina, tetapi, jujur aku mengakuinya. Bayangkan bila hal ini sampai bocor ke telinga peri lainnya, aku akan mampus,” jelas Evelyn, pasrah dan penuh kenelangsaan.
Candy menatapnya lekat. Belalak matanya sirna, berganti sorot mata iba dan pengertian. “Hmmm … Aku tahu. Tapi …, antara kita saja, Eve, sebenarnya aku pun sudah lama mendamba hal yang sama.”
Kali ini giliran Evelyn yang terbelalak ngeri. Minus gerakan syok berputar-putar di udara. Ia berbisik, “Jadi, kau juga?”
Peri bersyapa kuning mengangguk lemah dan mendesah pelan.
Tak disangka, roman cerah justru menghinggapi muka Evelyn. Penuh semangat, ia berbisik, “Hei. Bukankah hal itu sangat baik? Kita berdua bisa merencanakan kepergian kita dengan amat hati-hati. Dua kepala lebih baik daripada satu, ‘kan?”
Napas Candy tertahan. “Tunggu, jangan bilang kau—”
“Tidak apa, Candy. Tidak apa. Kalau kita bersama, kita pasti bisa,” ucap Evelyn penuh ambisi dengan mata berkilat-kilat.
Segenap pekerjaan telah terselesaikan kala siang benar-benar datang. Sewaktu peri-peri muda lainnya memutuskan mengaso dengan menghirup nektar bunga atau mencuri madu dari sarang lebah, kedua entitas belia tampak mengendap-endap di sela-sela batang pohon. Agar tak terlihat oleh siapa pun, mereka menghindari terbang dan memilih menyelinap di balik dedaunan rimbun agar tidak terlihat dari atas sana.
“Hei,” bisik Candy sambil mengekori langkah Evelyn dengan penuh kehati-hatian.
“Ssst ….” Evelyn mendelik tidak suka, dengan telunjuk tertempel di bibir. Isyarat agar peri bersayap kuning tak bersuara. “Apa pun yang mau kau katakan, nanti saja.”
Mereka terus melangkah sembari berusaha menyamarkan diri di bawah rerimbunan. Sesekali berhenti dan bersembunyi ketika nyaris bersua dengan peri lainnya. Sesekali menahan jeritan panik saat hampir terlihat oleh peri yang sedang berterbangan atau berpijak di atas dedaunan. Sesekali terduduk lelah sambil tetap menyelimpat. Sesekali bergantian memijit kaki masing-masing.
Semuanya berjalan mulus hingga petang hampir sampai dan keduanya hampir tiba di penghujung Aleia.
Langkah Evelyn terhenti seketika. Napasnya tertahan.
Bola matanya melebar.
Candy di balik punggungnya, otomatis bertanya, “Ada apa?”
Dalam jarak sepuluh meter dari hadapan mereka, sebarisan peri penjaga berbadan kekar dan bertampang ganas tengah berdiri tegap. Tombak dan perisai di tangan, sigap menerjang siapa pun yang berani melewati batas. Tatapan mata mereka nampak bengis, memindai sekeliling dengan awas.
“Oh, astaga!” desis Candy. Kekalutan Evelyn menular padanya sekarang.
Rupanya mereka terlalu larut dalam rasa girang dan semangat yang gegabah sampah melupakan eksistensi pasukan peri penjaga di batas-batas area kota peri!
Kedua peri mungil itu terdiam dengan horor selama beberapa saat. Bimbang. Masing-masing menyesali keputusannya bergerak tanpa mempersiapkan rencana lebih matang lagi. Saat ini, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berdiam di tempat. Maju kena, mundur pun sama.
Evelyn menggigit bibir. Wajahnya pucat-pasi.
Jingga sudah menginvasi angkasa raya. Warga Aleia masih asyik bermain-main di sekitaran, mencoba mengisi waktu untuk menanti tibanya malam.
Sementara itu, di bawah sebatang pohon akasia yang rimbun, Candy dan Evelyn bermuram durja. Menyembunyikan raga di balik dedaunan sembari menyesali diri dan memikirkan langkah yang harus diambil berikutnya.
“Kita akan mati.” Candy membenamkan wajah dalam lipatan tangan di atas topangan lutut. Kalut oleh penyesalan yang meraja.
Evelyn menatapnya murung. Rasa bersalah menggelayut di kalbunya, sebab sudah melibatkan temannya dalam kondisi seperti ini. “Maafkan aku ….” Ia menggigit bibir. Bagaimanapun, ia harus memikirkan apa langkah yang harus mereka ambil dalam situasi ini.
Suara gemuruh dari atas kepala menginterupsi tingkah kedua peri belia. Dan tatkala mereka mendongak ke atas, kedua pasang mata itu membelalak. Kendati terhalangi dedaunan, mereka bisa tahu bahwa itu adalah bunyi kepakan sayap sekoloni peri yang terbang melintasi langit.
“Oh, tidak. Jangan bilang kalau mereka sudah menyadari kita tidak ada di tempat masing-masing.” Peri bersayap hijau disergap panik.
Candy gemetaran. “Tidak~ tidak~ aku tidak mau dikebiri! “Bola matanya seolah mau terlepas keluar dari tempat semestinya, saking ganarnya ia melotot.
“Candy, Candy …, apa kau bisa tenang sedikit?” Tak bisa dipungkiri, Evelyn gusar. Untuk meredakan kemelut sendiri saja ia tak kuasa, apalagi mesti menenangkan orang lain yang histeris?
Namun, pemikiran bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan peri kuning menyertainya di sini, menelusup. Meredam semua emosinya. Menggantinya dengan rasa bersalah yang mendalam. Evelyn menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan semua kecamuk dalam kalbu yang membikin ia mual juga mulas. Ia mengatupkan mata.
Fokus. Aku harus berpusat pada solusi yang mesti ditempuh ….
Kepakan sayap terdengar semakin jelas. Sayup-sayup ia menangkap derap langkah yang mendekat.
Fokus. Itu hanya halusinasi. Mereka tidak bisa menemukan keberadaan kita ….
Dentum jantungnya berpacu cepat. Tangannya dingin, napasnya memburu. Suara derap langkah dan kibasan sayap semakin keras.
Candy Yellow menjerit. “TIDAAAK!!!”
Lalu hening.
Dan gelap.
“Kalian tahu hukuman apa yang harus kalian terima karena kebengalan kalian?”
Kalau boleh bersumpah—sungguh—demi Dewi Demeter, kedua peri muda yang terduduk di kursi terdakwa tidak ingin mendengar nada suara yang dingin itu dari Yang Mulia Ratu Minerva. Manik amethyst-nya berpendar penuh amarah, sorot kekecewaan dan kebencian yang bercampur aduk menghunus mereka tanpa ampun. Hal yang sama pun ditampakkan oleh tetua suku famili Yellow dan Green, serta kedua orangtua yang menuding mereka telah mencemarkan nama baik keluarga.
Hanya airmata yang mampu menggambarkan betapa menyesalnya kedua entitas pembangkang. Lemas, kepala keduanya mengangguk demi menjawab pertanyaan Baginda Ratu. “Ya, Yang Mulia.”
Minerva mencebik bengis. “Kalian akan dikenai kutukan penghilangan sayap. Sungguh menjijikkan.”
Tak mereka sangka, Ratu Aleia yang selama ini dianggap sebagai titisan Dewi Athena di muka bumi mampu bersikap sedemikian rupa kepada mereka. Seberapa hinanyakah dosa mereka? Tentu amat nista.
Airmata terus mengucur, isak tangis penyesalan tidak kunjung bisa dihentikan. Terlebih kala tongkat ungu milik Minerva diayunkan, serta bibir sang Ratu merapal mantra sakral yang tidak pernah didengar …
“Circumsiderus Plausidus!”
Rasa sakit yang tidak mampu diungkapkan mendera punggung Evelyn dan Candy, seolah kulit pungkur keduanya dikelupas perlahan-lahan. Erangan dan rintihan kian kencang, airmata semakin menderas, namun tak ada siapa pun yang bisa menolong. Orangtua mereka hanya memalingkan muka, jijik dan kecewa. Sakit dan perih semakin pekat … lampu-lampu buyar … wajah-wajah pudar
….
Seberkas cahaya merasuki kegelapan yang lekap, lalu hilang. Lalu muncul kembali, lalu hilang lagi. Lalu muncul kembali dalam biasan yang lebih banyak, seiring semakin besarnya tekad Evelyn Green untuk membuka mata.
Kedua bola mata sewarna emerald berkedip-kedip, menyesuaikan retina dengan intensitas cahaya yang masuk.
“Kalian sudah sadar?”
Suara yang dalam dan sarat keanggunan itu terdengar, menjadi penjerap pertama atensi Evelyn di bilik asing. Wanita bersayap ungu dengan berkas sinar di sekelilingnya tersenyum tenang. Bola mata Evelyn melebar. Wanita ini …?
“Ratu Minerva.”
Fokus Evelyn beralih sejenak ke arah Ellena—sang kakak—yang berdiri di samping kiri Ratu. Baru pada saat itulah, ia menyadari bahwa tempat ia berada kini—yang disinyalir sebagai kelopak bunga lily cassablanca dari aroma yang menguar—dipenuhi oleh beberapa orang yang dikenali. Beberapa tetua Green dan Yellow berdiri di balik punggung Ratu Minerva. Di samping Evelyn kini, ada Candy yang juga sedang mencerna situasi, sama seperti dirinya.
“Ma-maafkan aku,” ujar Candy penuh sesal. “Maksudku, maafkan kami …, kami mengaku salah. Jangan hukum kami.”
Evelyn menunduk. Bibirnya digigit menahan getir malu yang melanda diri. “Ampuni kami, Baginda Ratu. Cukup sudah bagi kami menderita sakit yang sangat perih di punggung kami … Cukup sudah kami kehilangan sayap kami … Kami sungguhan memohon ampun.” Isak tangisnya menderu lagi.
Di luar dugaan, Ratu, tetua kedua famili serta semua keluarga malah tersenyum geli. Minerva mendekat, menepuk pundak kedua peri belia dengan lembut.
“Coba kalian lihat punggung masing-masing.”
Evelyn mengerjap tidak mengerti. Namun Candy sudah melontar jawaban, “Lho, Eve, itu sayapmu masih ada!”
Keduanya kebingungan lantaran menjadi saksi bahwa sayap masing-masing masih terlekat aman di kedua punggung. “Punyamu juga … Lalu ini—” Evelyn mendongak, memandang para peri dewasa yang tersenyum penuh arti dengan bingung, “—apa maksudnya?”
Ratu Minerva berujar penuh ketenangan, “Setelah menuruti desakan keinginan untuk keluar dari Aleia dan mengalami mimpi pengebirian sayap, dengan ini saya menyatakan bahwa Evelyn dari famili Green dan Candy dari famili Yellow telah berhasil menjadi dewasa.”
“Jadi, hukuman pengebirian itu hanya berlangsung dalam mimpi?” Candy yang syok, pada akhirnya meminta konfirmasi jawaban.
“Benar sekali.” Ratu menjawab. “Mitos itu sesungguhnya hanya dibuat-buat. Keinginan untuk mengikuti manusia, mimpi pengebirian, semuanya hanya ujian kalian yang telah menjadi dewasa.” Senyumnya terkembang, “Selamat.”
Tak bisa dijelaskan betapa girangnya kedua peri muda yang kini dibaptis telah dewasa oleh Sang Ratu. Keduanya menangis dalam buncahan kegembiraan yang meluap-luap.
“Tetapi ini adalah rahasia para peri dewasa,” terang Minerva. “Apakah kalian sebagai peri dewasa, bersedia menjaga rahasia ini dari teman-teman kalian yang masih belia?”
Candy dan Evelyn bertatapan sejenak, lantas serempak menjawab dengan sigap selagi mata mereka berkaca-kaca, “Ya. Kami bersedia!”
