Menunggu Esok

Esok akan tiba membawa harapan baru, tapi ia was-was sebab esoknya akan tiba dengan masalah baru. Berlapis-lapis selaput jelaga berkelindan dalam dunianya. Belum juga lenyap disapu bayu, lapisan lainnya akan lagi tiba, menambah pekat kabut yang melungsurkan mimpi-mimpi.

Ada kalanya ia ingin memutus habis temali yang menjadi penghubung jiwanya dengan kehidupan, tapi bocah dalam raupan aroma tubuhnya masih tak cukup kuat untuk ditinggal sendiri dalam kelamnya dunia. Bayi lelaki itu tak berdosa, ia pun tak merasa pernah berlaku nista, tapi kenapa Hidup tak pernah berpihak padanya? Mungkin Tuhan–kalaupun memang ada–menganggapnya hanya sampah di antara manusia-manusia jelita, perkasa, berjaya, dan kaya-raya. Makanya, tak pernah sekali pun ia diizinkan menyesap kebahagiaan.

Lamat-lamat dari seberang, terdengar ayam berkokok, pertanda fajar telah mulai tersingkap. Wanita berbalut kebaya lusuh hanya berdiam di dalam gubuk reyotnya, memeluk erat bayi lelaki yang baru saja keluar ke dunia beberapa hari lalu.

Menanti, masalah apa lagi yang akan mengenainya.

Tinggalkan komentar