Fiksi Magang Security AstraFF 2017
Disclaimer: Selain Illama Han, semua karakter bukan milik hamba
Seulas kurva epsilon terlukis di rautnya yang sendu, selagi ia memaku atensi pada langit yang guram. Tidak ada keping-keping bintang yang bercempara. Tidak ada sinar perak bulan yang biasanya mengiringi setiap jejak langkah ketika sang hawa dengan kepala berbalut kerudung mengitari akademi. Semua terhalang oleh keberadaan mega-mega suram yang menyelimuti bumantara.
Setiap kali Illama Han berpatroli, lirih senandungnya akan menemani. Sesekali diselingi sapaan ramah pada beberapa sosok yang dikenali, sesekali menggumam pelan mengomentari cuaca, atau suara aneh, atau malah dersik angin yang menampar wajahnya. Atau barangkali, ia akan membungkuk, memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitar setapak, lalu melontarkannya ke dalam tempat sampah terdekat.
Lain halnya apabila ia mencatutkan diri untuk hanya berjaga di Bodyguard Center. Sembari menanti kedatangan sosok lain yang akan menyertainya, sembari mengamati tingkah-polah seisi akademi yang tertangkap kamera, segelas teh hijau dirasanya sudah cukup menjadi teman.
Eksistensi Illama Han sudah terlekat dengan rutinitasnya yang berputar kukuh pada hal yang itu-itu saja.
Dan kini—jujur—penyakit mudah-bosannya sudah mulai kumat.
Suara gemerisik terdengar, disusul suara pemuda kitsune dari asrama Zydic yang melapor, “Di sini Kou. Asrama Blossom, perpustakaan dan Zydic aman. Ganti.”
“Laporan diterima.” Suara sang hawa terdengar di seberang sambungan. Langkahnya kembali terkayuh, melewati asrama para ahli medis yang bercat putih bersih.
Ada kalanya Illama ingin menepi sebentar, mencari sesuatu yang baru dari rutinitasnya yang bagi orang lain akan terasa membosankan dan memuakkan. Ada kalanya pula, ia ingin jadi makhluk nomaden, bergerak bebas tanpa arah, lepas tanpa keterikatan atau kungkungan apapun. Tiada yang dicarinya selain kepuasan batin. Namun sayang, kenyataan yang keji suka menghempaskan angan-angan dan mimpinya ke pelipir asa.
Pada akhirnya, selepas ia menarik diri dari palung kontemplasinya, Illama mendekatkan handy talky dalam genggaman ke area mulut.
“Asrama Medicy dan Medical Center, aman.”
Pukul dua belas malam. Gerimis jatuh tepat ketika langkah sang hawa tiba di pelataran asrama hunian. Illama lantas berderap ke gedung Bodyguard Center, agar tidak banyak tetesan hujan yang membasahi tubuhnya. Langkahnya terhenti kala ditangkapnya sosok-sosok rekan yang semestinya tidak mendapatkan giliran berjaga malam itu. Beserta pemilik sektor magang, Kepala Akademi.
“Kalian boleh makan dulu. Saya tunggu kalian di ruang pertemuan—“, Lelaki hemofagus melirik arloji di pergelangan tangan,”—lima belas menit lagi. Kita adakan pertemuan akhir bulan.” Lantas, sosok sang petinggi akademi tertelan di balik pintu ruang pertemuan yang mengatup.
“Ayo, makan.” Reshma Jung, Kapten Security, mendekati meja makan terlebih dahulu, disusul para anggota lainnya. Illama memutuskan ke kamar mandi sebentar. Mencuci tangan, sekaligus mengukuhkan tekad pada keputusan yang akan diambilnya.
Tepat jam dua belas lebih dua puluh menit, kesemua anggota telah melingkari meja. Rapat akhir bulan akan membahas hasil rekapitulasi kehadiran selama sebulan, serta mempertanyakan sosok yang ingin bertahan dalam satuan pada periode selanjutnya.
“Saya berhenti, PaduKA.” Illama berujar dalam langgam tenang. “Saya punya rencana untuk pulang kampung sebentar.”
“Kenapa? Ada yang sakit di daerah asal?” Kou Sosuke, pemuda kitsune asrama Zydic melontarkan tanya.
“Tidak. Saya cuma kangen kampung, kok. Nanti pasti balik lagi.”
“Balik lagi itu … maksudnya bakal magang di sini lagi?” Kali ini Ryuhime Han, gadis dari asrama Mart lah yang membuka suaranya.
Sang hawa Blossom hanya menyunggingkan senyum tenang, seraya berujar, “Siapa tahu? Saya orangnya enggak pasti, sih.”
Sang pemimpin rapat mengalihkan atensi. “Ada lagi yang ingin resign?” maka, ketika yang ditangkapnya hanya hening, akhirnya pertemuan itu ditutup.
Illama Han memilih bertahan malam itu di dalam gedung sampai pagi menjemput. Demi meresapi aroma yang akan ia rindukan nanti. Demi merekam jelas-jelas posisi benda-benda di dalam yang sudah kenyang ia akrabi saban hari. Demi bermain-main bersama monster-monster kesayangan, untuk malam ini saja.
Hingga ketika pagi awal bulan menjelang, ia sudah tidak lagi punya hak untuk bertandang ke mari.
