Belajar Sihir

Pressord, 150 km Utara Salvatore

Pressord, sebuah daerah di ketinggian 950 km dari permukaan laut, dikaruniai udara yang begitu dingin di musim gugur dan bagai pemukiman eskimo kala tiba salju. Kendati masih berada dalam lingkar kota yang sama, ia berbanding seratus delapan puluh derajat dari tetangga di sebelah selatan: Salvatore. Bila Salvatore adalah ruang tamu, maka Pressord adalah tempat sampahnya. Mirip pemukiman kumuh di tepi kali yang bersanding secara ironis dengan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Dengan kata lain, tempat ini seperti sebuah daerah tertinggal di pelosok nusantara. Tidak ada listrik. Tidak ada sinyal telepon apalagi internet. Penduduknya bisa dihitung dengan jari, jarak antarrumah di Pressord dipenuhi pepohonan rimbun. Di musim seperti ini, yang tampak adalah pohon-pohon gundul dengan dedaunan kering yang menghampar seperti permadani emas.

Pressord adalah suatu eponim. Konon, ia adalah nama seorang lelaki dari pusat Edentria yang dikutuk dan kabur ke mari.

Lantas, apa yang dilakukan Il di tempat seperti ini?

Si puan mendengar kabar soal Pressord dari nenek penjual ikan di pasar tradisional Setra–entah mengapa informan berharga baginya selalu berasal dari area sejenis. Katanya, Pressord Sphynx adalah nama seorang jago sihir yang hidup ribuan tahun lalu, dan memiliki seorang keturunan. Il berasumsi Pressord merupakan salah seorang dari anggota sihir terlarang yang berhasil melarikan diri, insyaf, dan hidup dengan membuka lembaran baru. Orang yang begitu sinting sampai rela meninggalkan peradaban dan perkembangan zaman untuk berdiam diri di lokasi terpencil seperti ini, dan di sisi lain, orang yang harus dipintanya untuk mengajarinya sihir.

Matahari sudah tenggelam saat Il mendatangi lokasi ini. Semburat kemerahannya mulai dilahap gelap. Gelap yang membuat perasaannya sedikit tidak enak. Di matanya, angin musim gugur yang melambaikan reranting kering tampak bagai siluet makhluk gaib dari antah berantah yang mengajaknya duel. Sebagai makhluk yang tidak pernah takut manusia tetapi mati kutu kalau berhadapan dengan penghuni dunia lain karena tahu diri tidak punya cukup iman dan tidak menghafal doa-doa khusus, Il kagok. Namun, gemetar tubuhnya ia tepis jauh-jauh. Keharusannya untuk mempelajari sihir lebih mendalam dan rasa penasarannya mengalirkan adrenalin yang membuatnya nekat. Dan kenekatannya harus selalu terpenuhi.

Cahaya flashlight ponsel dalam genggaman menyoroti jalanan yang dipenuhi daun kering dan lengang. Sebagian permukaan aspal sudah tergerus dan di beberapa sisi menampilkan bolong-bolong yang tidak estetik. Tiada satu pun mobil bahkan orang selain dirinya yang lalu-lalang. Jangan sampai ada makhluk gaib yang nongol tiba-tiba dan mengejutkanya sebagai ucapan selamat datang. Hiiii.

Il merapatkan mantel sewarna langit malam, menghalau dingin yang mensuk tulang secara luar-biasa. Sebagai manusia yang terbiasa dengan iklim tropis, dingin Pressord di musim gugur bisa membuatnya menggigil. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya nanti bila musim dingin datang dan salju bertandang. Bisa-bisa ia mati kedinginan.

Rumah keturunan Pressord tidak sulit ditelusuri. Dari petunjuk yang dikantunginya, pastilah rumah yang mencolok di hadapannya ini. Ia adalah hunian paling tidak pantas yang pernah Il temui langsung. Warnanya dekil. Pintunya kusam dengan beberapa titik bolong dimakan rayap. Atapnya rompal.

Mirip kandang babi.

Sungguh memprihatinkan. Kalau Il gajian nanti, mungkin dia bakal berinfak untuk perbaikan rumah ini.

“Permisi.”

Ucapan salamnya diakhiri dengan getaran karena bibirnya bergemetar. Tuhan, musim gugur saja sedingin ini, bagaimana nanti kalau sudah turun salju? Darahnya bisa-bisa membeku.

“Permisi! Halo! Hola! Spada! Assalamu’alaikum, Juragan! Shalom! Monyonghaseo!” Il mengulang sapa sebab tiada jawaban. Baru saja wanita itu mau mengulang untuk ketiga kalinya, pintu reput itu berderit, dan pelan-pelan terbuka dengan sorot berkas cahaya jingga dari dalam rumah. Mungkin perapian–entahlah.

Sesosok tua dan bungkuk menyembul. Rambutnya nyaris botak seluruhnya, hanya menyisakan beberapa jumput berwarna kelabu yang saking samarnya cuma tampak bagai bulu halus kucing penyakitan. Di matanya tergantung kacamata bulan model kuno dengan rantai yang menjuntai. “Ya, siapa mencari siapa?”

Il berdeham. “Ehm. Halo, Pak Sphynx, ya? Saya Il, pengajar baru di AstraFF. Ada sedikit keperluan dengan Bapak.”

Ada kilatan aneh yang memancar dari mata si Pak Tua begitu mendengar kata ‘AstraFF‘. “Suruhan Runako?”

Il mengangguk–ragu. Kenyataannya, dirinya memang anak buah Pak Kepala, tapi kedatangannya hari ini bukan atas perintah Runako. Belum sempat ia memikirkan kalimat yang cukup bagus untuk menjelaskan, Pak Tua sudah berancang-ancang menutup pintu.

Kesopanannya lindap sudah. Ditahannya pintu dengan tangan, tubuh dan kakinya, tidak lagi merasa khawatir pintu reyot itu bakalan remuk atau jeblos ke dalam. “Bentar, Pak! Bentaaar!!! Saya teh cuma mau ketemu Bapak. Mau belajar sihiiir!”

Pak Tua masih enggan mengalah. “Cuih. Minta sana pada Runako!”

“Saya mohon dong, Pak. Saya manusia biasa, pengin cepat bisa sihir … Huhuhu … Awalnya iseng mendaftar, tapi nggak taunya malah diterima. Saya tuh stress mau ngajar apa. Kalau sama Padu–eh, Pak Kepala Runako yang datang dan pergi nggak bilang-bilang, bisa-bisa saya nggak ngajar sampai anak level lima pada lulus….” Curhat panjang Il yang berurai airmata hanya mencipta reaksi desis dari Sphynx tua. Namun tak disangka genggaman eratnya pada daun pintu yang telah reyot karena dilahap masa mulai mengendur.


Lentera di dinding telah dinyalakan, sebagai penyokong cahaya bagi perapian. Kue entah apa–berwarna cokelat dengan bentuk tidak keruan–telah tersuguhkan di atas meja.

Il mengamati hunian yang–serius, bila dilihat dari luar tidak seluas ini. Asumsinya semula kini terpatahkan sudah. Ini bukan kandang babi. Ini rumah sederhana dengan … errrh … dipenuhi beberapa benda abnormal: mereka akan menghampiri Sphynx tua sewaktu-waktu hingga Il menduga semua benda itu datang karena telekinesis.

Lelaki itu menuang sejenis cairan hijau yang mendidih dan terlihat kental ke dalam cawan porselen yang kemudian terbang ke arahnya. Il menelan ludah. Antara takjub dan geli, pasalnya cairan itu mirip jus alpukat. Minuman yang paling ia benci seumur hidup.

Sekilas Il sangsi. Apa benar si Tua ini keturunan Pressord, si jago sihir yang jadi residivis jaman dahulu kala? Matanya memindai lelaki tua yang kini sibuk menyorok kayu bakar di perapian agar nyalanya lebih ideal.

“Itu bukan jus alpukat. Itu Yillick–ramuan penghangat. Rasanya manis. Aromanya seperti pandan. Kamu tidak akan mati kalau minum itu.” Kini lelaki tua itu dihampiri oleh sebuah kursi goyang yang nampak elastis, lalu duduk di atasnya. Satu cawan dengan isi yang sama dengan yang disuguhkan pada Il pun ikut menyambangi dan langsung diteguk olehnya.

Demi kesopanan dan yakin bahwa minuman itu bukan racun karena ditenggak juga oleh si tuan rumah, si wanita eks polisi meraih cawannya yang sedari tadi bergerak-gerak seolah minta diambil, dan mencecap isinya. Benar. Aromanya seperti pandan. Rasanya manis dan sedikit mirip wedang jahe, setelah disesapnya minuman itu dua-tiga kali teguk, hangat cairannya menyebar ke sekujur tubuh dan sensasi dingin yang menempel di kulitnya lenyap entah ke mana.

Sphynx terkekeh. Dan sampai di sini Il mulai khawatir, jangan-jangan, lelaki lusuh dan gaek di depannya ini bisa membaca pikirannya. Kalau benar, mohon izinkan ia mengenakan jubah salah satu asrama Hogwarts dengan topi seleksi menari di atas kepalanya dan menyambut dirinya sendiri di depan pintu reput si tua Pressord sambil bernyanyi, ‘Selamat datang di dunia Potterland, Ilma~‘ Setelah bertemu dengan kepala sekolah yang ternyata vampire, wakil kepala sekolah yang merupakan hantu pendiam dan kelihatan bengis, juga guru-guru lain yang mirip ninja berjilbab lebar, wanita bule nudis dan ekshibisionis, serta alien dari planet dan galaksi lain, Il sudah tiga kali pingsan. Dan, kali ini kayaknya tubuhnya sudah bosan dan menolak buat pingsan lagi.

“Jadi …,” suara Sphynx terdengar kembali, menyentakkan dirinya ke dunia nyata selagi dua buah buku tebal dengan tali pembatas buku yang lantas berubah jadi tongkat sinar tersuguhkan di depannya, “apa yang mau kamu pelajari?”

Tinggalkan komentar