Ruang Kosong

Gradasi khas senja telah menyelimuti bumantara, disela kepakan sayap burung yang membelah udara. Hari telah hampir usai, namun dirimu masih setia di sini. Sudah berlalu satu jam kau bertahan dalam posisi yang sama, memandangi nisan bertuliskan namaku, lurus-lurus.

Percuma kugerakkan tanganku mengusapmu. Aku hanya ruang kosong yang kehadirannya tak kau ketahui. Kendatipun kuseru namamu berulang kali, hal itu tak akan sampai ke telingamu, karena aku…, tiada.

Kusaksikan airmatamu mengalir deras dari kedua kelopakmu yang memejam. Dan detik berikutnya, kau terisak.

“Aku merindukanmu,” bisikmu. Namun angin membawanya ke telingaku hingga mampu kudengar jelas. Beserta isakmu yang kembali terdengar sesudahnya. Juga suaramu yang meracaukan namaku beberapa kali.

Aku juga… Ingin sekali kuucapkan kalimat itu, kepadamu. Namun dunia kita kini telah berbeda. Kau tak bisa mendengat suaraku, melihat wujudku, atau menyadari eksistensiku. Kali ini, aku hanya perlu tahu bahwa kau baik-baik saja. Dan aku akan melangkah ke arah cahaya.

Aku akan selalu merindukanmu, tuturku. Kukecup ruang kosong, sebab wujudmu tak lagi mampu terjamah olehku. Kuharap kau akan baik-baik saja, walau aku tiada.

Tinggalkan komentar