Pergi

Pada mulanya, dirinya sama sekali tak pernah berpikir kalau semuanya bakal jadi serumit ini. Dia kira semua yang tidak masuk dalam zona hidup matinya pasti tak akan bertahan lama, dan dulu dia berani menjaminnya. Dahulu ialah yang jumawa menepuk dada sambil berucap, “Semuanya kecil.” Bukan begitu?

Tetapi segalanya berubah begitu kau datang ke dalam hidupnya. Dia pertamanya cuma bercanda, memainkan lakon sebagai seorang yang tengah kasmaran padamu, tanpa tahu bahwa hal itu lambat-laun sungguhan menggerogoti jantungnya, membuatnya bersirobok dengan ribuan kupu-kupu yang seakan membawanya terbang ketika tengah menghadapimu.

Pesonamu memang memukau. Tak heran bila kau jadi idola bagi semua yang ceritanya hidup di dunia itu. Mulai dari perempuan sampai laki-laki. Dari gadis belia sampai wanita-wanita dewasa. Baik mereka-mereka yang urakan gila, hingga golongan lainnya yang hanya bisa mengagumi dalam diam. Pesonamu menebas habis semuanya. Menyapurata rasa kagum mereka, hingga ketidakberadaanmu di sekeliling selalu jadi tanda tanya besar yang lumrah terjadi.

Sungguh pun, dia pada mulanya hanya memerankan lakon sebagai orang yang tengah kasmaran padamu. Tuntutan. Permintaan sekaligus penawaran dari para fans-mu yang acapkali suka melihat interaksi kalian. Kamu yang dingin-dingin beku, dan dia yang hangat-hangat lembut. Persis balok-balok es batu di atas sirup cocopandan. Paduan yang manis.

Tapi siapa menyangka kalau bermula dari keisengan belaka, sebuah romansa yang sungguhan bisa hadir di antara kalian? Paling tidak, hanya seorang yang tertusuk panah cupid. Dan pada kasus kali ini, dia. Dia baper. Baper. B-a-p-e-r. Lantas, kalau sudah begini salah siapa?

Jangan salahkan siapa pun. Bukan salahnya bila ia jadi sungguhan suka padamu. Jadi apa yang mendasari kau untuk kabur dari tempat kau jadi pujaan? Takut terlalu larut dalam permainan? Ingin mengubah jalan hidupmu di sudut dunia yang lain? Ataukah, benar-benar karena dia? Karena kau membencinya. Karena kau membenci perasaannya?

Gedung kecil yang setiap hari sibuk oleh suara mesin pencetak kini terasa sunyi di telinganya. Tanpa suaramu yang biasa menyahut sapaan pendek-pendek. Tanpa kehadiranmu. Tanpa aroma parfummu.

Di dalam hati, dia ambruk. Hidup yang dipenuhi dengan tuntutan dari segala arah membuatnya lebih suka mengucilkan diri dan menelusup mencari kebahagiaan kecil di sana. Bersama kalian semua. Bersamamu. Berjam-jam menggeluti pekerjaan yang memusingkan tak akan menjadi derita, selagi ada kamu. Namun kini, semua berbeda.

Begitu dirimu beranjak, dia harus berusaha menggapai-gapai mencari pegangan baru untuk membuatnya tetap bertahan. Mencari kekuatan yang bisa senantiasa menyunggingkan senyum di rautnya, agar semua orang tahu bahwa ia baik-baik saja. Walau sejatinya ia tidak.

Kini, ketika sudah berlalu semusim usai kau pergi, ia masih sering mempertanyakan ketidakberadaanmu. Para fansmu yang lain sudah lama tidak peduli. Tapi dia, meski terus berupaya melanjutkan hidupnya dengan terus memasang kedok senyum manis, jauh di lubuk hatinya, ia masih menjerit. Memanggilmu.

Tinggalkan komentar