Sajak Inferno

Katakanlah aku celaka, sebab sengaja menghidu aroma yang sejak semula kutahu akan membiusku ke dalam gelombang ketidaksadaran. Berkali-kali, alarm dalam kepalaku berdengking, mencegahku memasuki labirin ini lebih dalam. ‘Di sana gelap, kau akan sepi, sendiri, menggigil di bawah kuasa asing,‘ pekiknya.

Kebebalanku tak mampu lagi ditolerir, aku tuli, aku buta, aku mati rasa.

Tatap matamu yang seperti panah menghujam jantungku tanpa ampun, mengoyaknya sampai aku tak lagi berdaya. Semua bahaya bagiku hanya angin lewat, tak punya makna. Aku hanya mau bersamamu saja.

Lantas, kala tanganmu terulur, tanpa perlu memroses segalanya dengan akal sehat, aku akan menyambutnya. Membiarkanmu membawaku di sisimu, sebab senyummu seolah menghipnotisku. Yang terakhir kali kudengar kala aku dan kamu terjun bersama ke dalam jurang kelam itu adalah jeritan-jeritan mereka yang tidak pernah rela.

Namun, aku tak peduli.

Asal bersamamu, memasuki celah neraka pun aku bersedia.

Tinggalkan komentar