(Pernah dipublikasikan di blog Ikatan Kata dan diikutsertakan dalam Kontes Menulis Dream Job Storial 2020, lalu kalah dengan memalukan)
Dua September. Selama mentari bertengger di angkasa, hari itu mutlak milik Hermine tanpa gangguan apa pun. Tiada seorang pun boleh dan berani menyelami, dalamnya lautan yang tersimpan dalam diri wanita, yang kini tengah duduk sendirian di atas tumpukan batu setinggi lutut orang dewasa.
Tidak juga seorang Childebert yang memiliki segalanya.
Koreksi. Childebert mungkin memiliki segalanya, kecuali hati sang istri. Masa dua dasawarsa bersanding di atas singgasana yang sama, belum mampu membuatnya menaklukkan permaisurinya dengan pusaran cinta. Kejayaan dan kekayaan yang tumpah-ruah di sisinya tak sanggup membeli perasaan seorang wanita, sekalipun Childebert telah sah memilikinya.
Hari ini adalah satu yang tak bisa ditawar lelaki itu pada istrinya. Sejak pernikahan mereka dua puluh tahun silam, dua September selalu menjadi hari pribadi Hermine, di mana raut wanita itu turut membatu, seolah menyaru dengan apa yang didudukinya. Ia menjauh dari halai-balai kehidupan sampai mentari lengser dari angkasa. Mengenakan gaun hitam dan duduk bungkam, memandang jauh ke kedalaman hutan. Kemudian larut dalam kecamuk sendiri. Menciptakan selubung pribadi yang tak bisa disibak Childebert sekalipun ingin.
Childebert ingin, sayang dia tidak sanggup melakukannya. Permintaan Hermine memang aneh. Satu hari—hanya satu hari saja yang wanita itu pintakan untuk bisa terlepas dari segenap kemelut istana, termasuk Childebert sendiri. Mulanya Childebert bertanya-tanya, apa gerangan istimewanya Dua September. Adakah suatu hal yang krusial dari hari itu? Namun, Hermine menolak menjawabnya dengan rahang mengatup tegas.
“Maafkan aku, Yang Mulia. Aku tidak akan mengungkapkannya, sekalipun engkau mungkin murka dan memasungku berhari-hari lamanya. Aku hanya meminta satu dari tiga ratus enam puluh hari baktiku padamu. Kuharap, Engkau berkenan mengabulkannya untukku.”
Childebert tak punya pilihan lain kecuali memberi perkenannya.
Dia tahu kapan Ayah Hermine meninggal dunia, dan Dua September bukanlah harinya. Telah dia titahkan hulubalangnya mencari tahu diam-diam, tetapi konsekuensinya sungguh mengerikan. Hermine mengancam bunuh diri dengan mengguratkan pecahan porselen Cina pada batang tenggorokannya.
“Yang Mulia, cukuplah sudah hidup ini jika Engkau tak memercayaiku lagi. Dua September jelas bukan sesuatu yang penting ketimbang negeri ini bagimu, tetapi kerahasiaannya bagiku jelas sesuatu yang lebih berharga dibanding mayat ibuku.”
Pada akhirnya, Childebert harus berusaha percaya. Lagipula, dia pun menikmatinya. Hanya hari itu saja; hanya dalam posisi di mana istrinya menyendiri itulah, Childebert bisa melihat Hermine sebagai sosok manusia, bukannya titisan Dewi yang keras hati dan penuh ambisi.
***
Mentari mulai menanjak naik. Dari sela dedaunan yang mulai menguning, sinarnya menyusup, jatuh mengenai wajah Hermine. Namun, wanita itu masih bergeming. Netranya terlekap pada udara kosong. Hanya sesekali ia mengedip.
Bagaimanapun juga, dia harus memanfaatkan baik-baik, satu-satunya kesempatan dalam setahun demi menyendiri, mengenang pertemuan dan perpisahan dengan seseorang yang hanya berlangsung dalam dua hari. Perlahan ia bawa dirinya terisap dalam pusaran ingatan yang menembusi ruang dan waktu.
Wanita itu masih ingat kala kerumunan pasar membelah, sekian dekade silam. Memberi jalan bagi derap seekor kuda cokelat tua yang ia tunggangi, usai pekikannya sendiri mencuat dalam mezosopran yang sarat kegarangan, “Minggir, semuanya!”
Dengan balutan jubah abu-abu khas proletar, tudung penutup kepala, dan cadar sewarna arang, tiada yang tahu ia seorang Archambault. Satu-satunya ciri bahwa pemilik suara bukan orang sembarangan hanyalah dua bola mata biru yang berpijar tanpa gentar.
Hermine Isaline Archambault memang lebih senang tampil dalam penyamaran. Menyaru dengan lingkungan. Menciptakan sosok yang sama sekali berbeda dari sekadar aristokrat ternama yang terkurung dalam puri megah. Ia bukan lagi wanita yang cuma tahu ritual minum teh, pesta dansa, atau menyulam dengan benang emas. Ia sudah jadi sosok berpenutup wajah yang bakal merisak kedamaian hidup para bangsawan sesat.
Biasanya aksinya selalu berhasil. Sudah berkali-kali dia menyelesaikan segalanya tanpa ada satu pun kecacatan. Selepas berulah, dia tinggal menanti kabar kekacauan yang menimpa beberapa sasarannya.
Sayang, kali ini Dewi Fortuna enggan memihakinya lagi. Hermine luput menghitung kemungkinan. Ketika ia sedang beraksi mengutil persediaan dari gudang anggur milik bangsawan Delacour untuk kemudian ia jual ke pasar dengan harga amat murah, seorang prajurit bayaran yang berjaga di sana melihatnya.
Untuk pertama kali dalam hidup, Hermine lengah akan kemungkinan penjagaan oleh prajurit bayaran selepas persediaan yang menipis secara misterius. Akhirnya, alih-alih membawa pulang barang curian, Archambault muda malah harus menodong seekor kuda yang tengah menikmati rumput yang tersisa di musim gugur, entah kepunyaan siapa. Kemudian tanpa henti memecut kuda curian dari kejaran pasukan berseragam.
Adrenalinnya mengalir deras selagi gaduh derap pasukan memburu di balik punggung, serta riuh masyarakat mengaduh kian bising. Yang bisa ia lakukan hanyalah memecut dan memecut. Meloncati kepala-kepala, menubruki kereta-kereta, dan membuat sayur-mayur serta buah-buahan yang dijajakan tumpah ke jalanan. Dalam hati, Hermine bersumpah untuk membayar ganti rugi pada para korbannya. Nanti. Saat ini, prioritasnya hanya kabur.
Hermine tak takut tertangkap. Yang Hermine takutkan bukanlah kemungkinan akan tubuhnya direbus dalam air mendidih, atau kepalanya dipancang guillotine di tengah jutaan pasang mata yang melihat. Hermine hanya mengkhawatirkan hal sesepele identitasnya terbongkar. Mustahil ia tertangkap tanpa ketahuan.
Kendati kenekatannya memang sudah tak bisa lagi ditakar, ia masih cukup waras untuk tahu bahwa nasibnya akan tuntas jika sampai terkejar. Nama Archambault yang memang sudah luntur selepas ayahnya mangkat akan semakin tercoreng. Dan, ia akan diasingkan ke belahan bumi yang lain.
Hermine menolak kemungkinan terburuk itu.
Kuda yang ia tunggangi berbelok ke arah stepa. Ilalang yang meninggi dan pucuk-pucuknya mulai menguning pada akhir musim panas menyapanya bagai lambaian pasukan penyelamat. Di sana tengah diselenggarakan ajang pacuan kuda. Cara terbaik untuk menyembunyikan daun adalah di tengah hutan. Dengan metode kamuflase yang sama, Hermine berharap ia tidak sampai jatuh ke tangan pengawal yang memburunya.
Sesekali di tengah pelariannya, gadis itu menengok ke belakang. Ketika akhirnya ia berbelok ke arah lembah perbukitan, pasukan pemburu tak lagi terlihat bulu topinya.
Dalam tempo singkat, perempuan bercadar hitam mengubah keputusannya. Selagi kudanya berderap cepat menuju area lomba, Hermine meremas ujung jubah murahan yang sebelumnya ia tukar dengan dua keping emas. Atensi sewarna lautan kini tak lagi terfokus ke depan, melainkan terpancang pada padang ilalang rendah di bawah kaki.
Kepalanya sibuk menghitung.
Lima … Masih belum ada tanda-tanda kemunculan pemburu.
Empat …
Tiga … Kuda tunggangannya masih berderap.
Dua … Hermine mengangkat jubahnya.
Satu ….
Loncat!
Kuda masih berlari, tetapi Hermine sudah menggelindingkan dirinya. Ia berguling dan berguling, kian jatuh sepanjang permukaan tanah yang miring. Pucuk-pucuk ilalang yang tajam menusuk permukaan kulit, dan Hermine harus berusaha lebih gesit untuk melindungi wajahnya. Itu prioritasnya. Karena parasnyalah yang pertama kali akan menjadi perhatian ibunya ketika mereka bersua nanti.
Tubuhnya berhenti berguling dalam kondisi telungkup, ketika ia tiba pada permukaan tanah yang lebih rendah. Hermine berusaha untuk duduk. Menghalau nyeri pada tubuhnya serta rasa pusing yang hinggap di kepalanya.
Ketika akhirnya ia bisa menguasai diri, gadis delapan belas tahun itu tersadar akan eksistensi beberapa helai rumput dan daun kering menempeli pipi. Ia merutuk pelan mendapati cadar dan kerudung yang terbuat dari kain tipis sudah koyak separuh.
Dengan jengkel, ia tanggalkan dan campakkan lembar kain yang sudah tidak lagi berguna itu ke sisi tubuh. Menyingkapkan dirinya. Menampakkan surai sewarna madu yang mengkilap diterpa sinar matahari, serta wajah pucat khas aristorkrat sejati.
Mulutnya yang masih sibuk berserapah pelan, akhirnya terjeda oleh bibir yang mengatup. Ia mengerjap ketika tatapannya bertumbukan dengan iris milik seorang pemuda yang tengah duduk sendirian. Entah cokelat cerah atau hijau. Yang pasti sepasang lingkar asing itu tengah mengamatinya terang-terangan. Dan, kontak mata itu mampu melahirkan keheningan nan ganjil …
DRAP DRAP DRAP
… yang kemudian dipecahkan oleh suara derap pasukan berkuda di atas sana.
Dengan gesit, Hermine meraup kembali cadar dan kerudungnya, melesakkannya ke dalam jubah murahan yang ia kenakan. Membagi atensinya, perempuan itu memelototi pemuda yang masih memerangkapnya dengan pandangan.
“Lihat apa kau?!” bentak Hermine, ketika akhirnya pasukan berkuda sudah berlalu menuju arah yang keliru.
Tak ada kekagetan. Hanya rasa geli yang terpancar dalam riak wajah pemuda asing. “Kau?”
Hermine murka. “Lancang!”
“Apa ada aturan yang tidak memperbolehkanku melihatmu?” Sang pemuda mengangkat bahunya ringan. “Tidak ada sejenis tulisan, ‘Dilarang melihat. Atau kau akan dikenai hukuman gantung!’ di jidatmu.”
Sang gadis menggertakkan giginya. Jika saja pemuda dalam jarak dua meter darinya itu tahu siapa Hermine, tentu ia akan sadar bahwa hukuman gantung kelewat murah hati untuknya.
Sebelum Hermine sempat mencetuskan kata-kata balasan, derap kaki kuda kembali mengusik ilalang. Kali ini suaranya mendekat. Rupanya, dua petugas berseragam dengan bulu topi yang menjijikkan, mampir ke tempat mereka. Salah satu di antaranya bahkan sampai menghentikan kudanya, yang kemudian disusul rekanannya.
Orang istana, batin Hermine gugup. Setengah mati ia berusaha mempertahankan ketenangannya.
“Hei,” panggil petugas yang menghentikan kuda pertama kali, “kau lihat wanita bercadar dan berkuda yang lewat di sini?” tanyanya.
Pemuda yang membersamai Hermine melirik gadis itu sekilas, sebelum menjawab, “Tidak. Ada apa?”
“Ada percobaan pencurian di rumah bangsawan Delacour.”
“Lagi?” Alis si pemuda ikut naik, persis intonasi suaranya.
“Ya …. Ini sudah ketiga kalinya, ‘kan? Omong-omong …, kenapa kau di sini, Dimitri? Tidak berjaga?”
Sang pemuda, yang dipanggil Dimitri, mengangkat bahu dengan ringan. “Hari ini aku bebas tugas.”
“Oh.” Lantas, penggawa berkuda menjatuhkan atensinya pada Hermine. Membuat jantung sang gadis berloncatan bagai cacing ditaburi butiran garam. “Aku baru melihatmu, Mademoiselle. Apakah—”
Tiba-tiba Dimitri menyela, “Jangan usik dia, Curtis.” Ada kesan protektif dalam nada suaranya. “Dia hanya gadis biasa. Bukankah kau semestinya pergi memburu pencuri itu dan bukannya menggoda wanita di sini?”
Curtis mengerang. “Baiklah. Kau benar. Sebaiknya aku memburu pencuri sialan itu daripada menggoda wanitamu.” Ia menoleh ke arah Hermine dengan senyum terkulum. “Au revoir, Mademoiselle.” Lelaki itu berseru pada rekan pengawalnya, dan keduanya hengkang dari sana.
Kala derap kuda mereka beranjak pergi, dan suaranya lindap disapu jarak, keheningan yang ganjil itu kembali menyapa. Hermine merasa perlu mengoyaknya demi kedamaian pribadi.
Maka ia berkata, “Aku tidak akan menanyakan apa pun maksud pembelaanmu.”
Kepala Dimitri terputar ke arahnya selekas lemparan tombak. Ekspresinya ketus. Mendengus. “Kau tidak punya hak untuk itu. Kau juga tidak perlu berterima kasih. Sama seperti aku tak punya hak untuk menanyakan apa yang kau lakukan hingga menggulingkan diri dari kudamu dan sampai ke sini.”
Hermine mengigit bibirnya. “Sialan.”
Pancaran geli tampak jelas dalam lingkar cerah Dimitri yang ditimpa sinar mentari. “Wow-wow. Wajahmu tampak seperti wanita terhormat, tetapi mulutmu sama kotornya dengan kaki kuda itu.”
Kalimat itu telah memancing emosi Hermine. Amarahnya menggelegak di ubun-ubun. “Lancang!” Seumur hidup, kendati sudah banyak deraan fisik dilaluinya selagi menyamar, belum pernah sekali pun Hermine beroleh penghinaan separah itu. “Kau pria, tapi kelakuanmu lebih rendah daripada pelacur!”
Tanpa diduga, Dimitri malah tergelak lepas. Membuat Hermine mengerutkan dahi tak mengerti.
“Sudah cukup,” ucap Dimitri usai tawanya reda. “Sepertinya mulutmu belum terlatih bicara kotor. Mestilah kau gadis dari keluarga baik-baik.” Atensinya merayapi busana yang dikenakan Hermine. Ia mengusap dagu. “Tetapi penyamaranmu lumayan juga.”
Hermine tidak tahan lagi. Emosinya menggelegak di ubun-ubun, terpanggang matahari yang mulai meraja. Ia bangkit berdiri. Menatap murka sang pemuda yang masih cengengesan, seolah tatapannya bisa membakar Dimitri sampai hangus legam dan menjelma abu. Dadanya kembang-kempis menahan luapan emosi. “Jaga bicaramu! Kau harus tahu sedang menghina siapa!”
“Ya. Siapa?” tanya Dimitri santai.
“Aku—” Tidak. Tidak. Tidak. Hermine memejamkan mata, menggeleng. Berusaha menarik kewarasannya kembali bersama carik-carik udara yang ia hela. Ia tidak mungkin mengakui identitasnya begitu saja. Apalagi di hadapan pemuda asing seperti ini.
Alih-alih menjawab, Hermine malah membanting kaki, kemudian beranjak pergi. Tak ia indahkan sesuatu yang jatuh dari bagian dalam jubahnya.
“Hei, kau menjatuhkan cadarmu!” seru Dimitri dari balik punggungnya.
Tanpa menoleh, Hermine balas menukas, “Pakai saja untuk menyumpal mulutmu, Bajingan!”
***
Pada akhirnya, gadis itu melangkah pulang. Meredam semua emosi selagi mengendap-endap agar tak ketahuan. Kondisinya kusut masai, jauh dari penampilan seorang Hermine Isaline Archambault yang semestinya.
Dalam kediaman megah itu, hanya ada seseorang yang ia percaya. Seseorang yang kemudian mencuat dari balik dinding dan membawakan gaun serta topi kepunyaannya.
“Terima kasih, Rosaline.” Tanpa peduli malu, Hermine menanggalkan busana jelata yang sudah lecek begitu saja. Kemudian terburu memasukkan dirinya ke dalam dress satin merah muda berhiaskan renda-renda dan rumbai benang emas.
“Aku hampir mati, Mademoiselle. Tadi Madame Archambault—”
“Ssst … Nanti saja, Rosaline. Sekarang bantu aku mengancingkan gaun ini. Sialan. Kenapa mesti ada yang membuat busana seribet ini, sih?”
Tangan sang pelayan setia membantu mengancingkan gaun putrinya. “Tapi jika saja Anda tahu, Mademoiselle, separuh penghuni negeri ini punya keinginan terpendam untuk bisa mengenakan busana seperti itu, minimal sekali seumur hidup,” timpal Rosaline.
“Busana seperti ini tidak praktis sama sekali. Mana bisa kau pakai lari?” Hermine mengerang.
“Mana ada putri yang berlari?”
Hermine melotot. “Ada! Aku!”
“Yah ….” Rosaline memutar bola mata. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan seorang pelayan jika pelayannya adalah Rosaline dan putrinya adalah Hermine. “Anda tahu, Anda adalah anomali.”
Hermine tak menyahut. Sebelah tangannya sibuk merapikan tatanan rambut, sebelum ia hiasi dengan topi fascinator. Lantas, dipungutnya jubah murahan yang jatuh ke lantai, menyerahkannya pada Rosaline.”Nih. Bawa ini ke penatu.”
Belum sempat Rosaline menyahut, sebuah suara kadung menyambar, “Apa itu, Hermine?”
Madame Mauve Archambault, beserta dua pelayan setianya beringsut maju dari balik tirai sutra sewarna gading yang tersibak. Bola matanya terpatri jijik pada benda di tangan Rosaline. “Kutanya apa itu?”
“Baju,” sahut Hermine cepat. “Baju Rosaline.”
“Buang itu.” Mauve bergidik. “Bagaimana bisa kau menyentuh—” Tiba-tiba, ekspresinya berubah syok dalam sekian sekon. “Ya Tuhan, Hermine! Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?” Tangannya merabai kepala Hermine demi sehelai ilalang kering. “Apa-apaan ini?”
Oh, tidak. Hermine mengerang dalam hati. “Itu rumput, Mauve.”
“Aku tahu ini rumput, Hermine. Yang kutanyakan adalah, bagaimana bisa benda itu ada di kepalamu?”
“Mungkin mencelat lalu menempel selagi aku dan Rosaline pergi menonton pacuan kuda.”
Mauve menggeleng-geleng. Mengempaskan batang rumput kering begitu saja. “Jangan urus peristiwa-peristiwa jelata seperti itu. Berapa kali kau harus kuperingatkan?” Jeda sejenak ia isi dengan dengusan. “Kau adalah calon permaisuri Merovingia. Yang Mulia Childebert akan tiba besok pagi. Kau harus tidur lebih dini agar tampil lebih segar besok. Pernikahan kerajaan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Jangan mengecewakanku.” Bola matanya berlari ke arah Rosaline. “Enyahkan baju itu.” Ia bergidik jijik sekali lagi, kemudian berlalu bersama dua pelayannya.
“Wanita sampah,” gerutu Hermine.
“Hus. Kau tak boleh memakinya begitu. Dia ibumu.”
“Sampai mati pun dia bukan ibuku. Dia cuma sosok pengganti yang kelewat sok mengatur segalanya. Kalau bukan karena dia berhasil melahirkan Hercule tujuh tahun yang lalu, dia cuma seorang simpanan biasa.”
***
Usai makan malam lebih dini, titah untuk masuk ke kamar disanggupi Hermine. Namun, sampai jingga di angkasa lesap ditelan kegelapan malam dan bara-bara dinyalakan sebagai sumber cahaya, gadis itu tidak juga jatuh terlelap. Wangi basil yang menyeruaki kamarnya, empuk seprai dan selimut sutra, tidak cukup alot menghantarkan Hermine ke alam mimpi. Padahal malam berderak semakin larut. Dan pagi akan menjemput tanpa bisa ditahan-tahan.
Entah mengapa, yang ada dalam bayangannya kini adalah sosok lelaki di tepian lereng. Kata-kata yang menyulut emosi, suara yang dalam namun ringan, dan … bola mata yang warnanya ambigu, membuatnya tertarik. Satu hal lagi yang tak pernah masuk dalam perhitungan Hermine, memikirkan pemuda bernama Dimitri, telah membuatnya larut sampai lupa kewajibannya untuk tidur lebih dini.
Tetapi hal itu juga bukan masalah besar. Entah Semesta tengah berbaik hati, ataukah memang Dewi Fortuna kembali memihaknya lagi, paginya, rombongan mempelai pria batal hadir karena Ibu Suri jatuh sakit dalam perjalanan. Mereka baru akan tiba malam hari. Maka sepanjang pagi hingga tengah hari, Hermine menolak berada satu rumah dengan ibu tirinya yang uring-uringan. Dengan alasan menenangkan hati, Hermine keluar, berbalut busana jelata dan tujuan yang sama lagi. Memanfaatkan satu-satunya kesempatan terakhir untuk kembali beraksi. Kali itu ia menuju rumah Tuan Poirot.
Di sanalah segalanya berulang. Peristiwa di mana Hermine nyaris ditangkap. Saat itu, tiada kuda terdekat yang bisa ditawannya. Tatkala Hermine sudah ingin pasrah, sepasang iris yang semalam mengisi mimpinya, menangkap kehadirannya, namun tidak disertai binar humor yang Hermine rindukan. Dan yang lebih membuat nyeri, saat lengan kekar berbalut seragam penjaga itu merenggut lepas penutup muka Hermine, Dimitri langsung memutus kontak mata mereka.
Nada lelaki itu rendah kala berujar, “Anggap aku tidak melihatmu. Kau bisa pergi ke mana pun yang kau mau. Cepatlah. Waktumu tak banyak.”
Hari itu, sekali lagi Hermine selamat, tetapi anehnya, ia tahu dirinya terjerat. Tanpa sinar mentari, ledakan-ledakan penghinaan tak berguna, hatinya menghangat dan jantungnyalah yang hendak meledak. Ia berlari menjauh selagi Dimitri memberi arahan yang keliru pada rekan-rekannya, sambil mengagumi betapa indah bola mata pemuda itu, yang akhirnya Hermine kenali, memiliki warna berbeda tiap-tiapnya: cokelat cerah di kiri dan hijau pada sisi kanan.
Hari itu pula, Hermine diserang keraguan. Ketika petang bertandang dan tamu-tamu agung tiba, hatinya berontak. Di hadapan calon pewaris takhta kerajaan Merovingia yang sudah dipastikan menjadi suaminya, gadis itu merasa terluka.
“Hermine punya mimpi untuk menjadi sosok pemimpin ….” Suara Mauve dalam selaput ramah-tamah yang berlebihan terdengar. “Ia ingin membawa keadilan bagi rakyat-rakyat kecil. Sayangnya, sebagai bangsawan biasa, kami tidak punya kuasa besar untuk melakukan itu.” Hermine yakin wanita itu pasti mencuri baca gagasannya yang ia tuangkan dalam perkamen khusus.
“Sungguh tujuan yang mulia,” Putra Mahkota Childebert memuji. “Dan, setelah dua keluarga bersatu, Mademoiselle Archambault punya

Satu respons untuk “Dua September”