An AstraFF Friendfiction, 2018
Cast: JuLog (Juan Wind dan Logan Herondale) tanpa Ju[?]
Disclaimer: Semua karakter bukan milikku, Foto Meong Unyu milik Candy Daisy

Sudah lebih dari enam bulan, pemuda bermarga Wind nggak kelihatan di akademi. Konon, beliauwan lagi asyik berhibernasi di kampung halaman. Sebenarnya Logan bingung karena ini sudah terlalu lama. Bahkan periode hibernasi beruang kutub Alaska pun katanya nggak pernah lewat dari satu semester.
Oke. Mari kenalkan siapa Juan dan siapa Logan. Logan Herondale adalah cowok kacamata yang tampan tapi cupu dan terkenal kaya raya, gara-gara nggak tahu mau menghabiskan luey-nya dengan cara apa. Tergolong sepuh karena masuk Astraff pas slot dua.
Sementara Juan Wind, nggak sesepuh Logan memang, tapi dia juga tergolong siswa senior yang masuk pas slot lima. Meski demikian, Juan hobi banget berhibernasi, dan hal itu membuat dirinya mentok di level satu, kalah jauh dari si Edmund Buchner, cowok bertopeng satu asrama yang masuk Astraff beberapa slot lebih muda namun udah bertengger di level tiga.
Si Juan dan Logan berasal dari asrama yang sama. Hubungan keduanya rumit, macam ngedekripsiin sandi Vigenere + Playfair + Caesar bertubi-tubi.
Jadi begini. Si Logan ini ngakunya sebagai pacar abadi Purnama, cewek Portal yang punya badan kekar macam Ade Rai. Sementara itu, Juan punya hubungan tarik-ulur sama sang Wakil Kepala Akademi, Yukio Akanishi. Hubungan Juan-Yukio nggak seromantis Logan-Purnama yang punya kejelasan status, tapi udah terjalin lama bahkan sebelum Yukio jadi staf.
Meski demikian, sebenarnya, almarhum Purnama maupun si demit Jepang Yukio, sangat menginginkan Juan dan Logan berlayar sebagai kapal abadi warga Astraff.
Mumetin dan gemesin.
“Hahhh!”
Celia Palmer nyaris terjengkang gara-gara suara embusan napas Logan. Untung nggak sepaket sama aroma maut. Pasalnya, si boncel penyuka pink berada tepat di depan sang sultan akademi.
“Kak Logan kenapa?” Muka kusut Logan pastinya menyita atensi Celia. Cowok berkacamata itu menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambutnya jadi berantakan, lalu menopang dagu di atas meja Indigo.
“Luey-nya tinggal sedikit. Bulan depan bakal terancam di-DO kalau dia nggak muncul juga dan magang di manapun.”
Otak Celia nge-load. Siapa pun yang diomongin sama Logan, jelas bukan dirinya sendiri. Seisi akademi juga sudah tahu kalau jumlah luey bocah itu nggak bakal habis sekalipun setahun dia nggak magang di mana-mana.
Tapi Celia nggak punya gambaran, siapa yang dimaksud Logan.
Gadis itu mencubiti permen kapas besar-besar lalu memakannya. “Hyavhah?”
“Siapa lagi? Tentu aja si bebek pemalas itu. Lagian dia ke mana, ya? Udah lebih dari setengah tahun nggak kelihatan. Hilang kabar pun. Kan aku …”
“Kangen?”
Oh sialan! Logan lupa kalau mereka nggak cuma berdua di meja itu. Ada si Edmund Buchner yang mulutnya macam pisau daging dan siap menyayat-nyayat hati.
“Eng-gak. Lupain aja, deh,” balas Logan kikuk. Dia mencoba ngalihin topik tapi otaknya terlalu melompong buat nyari pengalihan. Pas ketemu topik bagus, malah telat. Si cowok bertopeng sudah buka suara.
“Yang kutahu, biasanya kalau orang pulang kampung dan nggak balik-balik berarti ada tiga kemungkinan. Pertama, dia ikut sekte sesat. Kedua, dia mau dijodohin dan nikah. Ketiga, dia hamil. Karena Juan adalah cowok baik-baik, nggak mungkin dia ikut sekte sesat, dan karena Juan nggak punya ovarium, dia nggak mungkin hamil.”
“Kan kubilang lupain aja.”
Tuh, ‘kan? Edmund emang manusia nggak punya hati. Tapi mau nggak mau, Logan jadi kepikiran juga. Juan mau nikah? Duh. Ngebayangin Juan nikah dan bersanding di pelaminan sama orang yang nggak dikenal kok menyayat hati banget. Bahkan Logan lebih setuju sama kemungkinan pertama. Mending Juan jadi anggota jamaah Bebekiyah garis keras daripada menikah dan jadi Bapak-bapak.
Atau mungkin sebaiknya Juan hamil aja? Tapi yang menghamili Juan nggak boleh orang lain. Anak Juan harus anaknya atau anak Akanishi pokoknya.
Ketika Logan tersadar sama alur pikirannya sendiri, dia pengin ngeguyur kepalanya pakai air suci.
