Three Bubbles of Memories

[Something Old | Three Bubbles of Memories | 0(Z-V) Bhumi Kastara]

Dua ratus dua puluh dua tahun adalah angka yang cantik untuk mendefinisikan usia, kalau tua terlalu menyakitkan untuk didengar. Dua ratus dua puluh dua tahun, bila Bhumi seorang manusia, mungkin dia sudah lama terkubur di dalam tanah atau jadi abu yang sudah disebar ke mana-mana.

Dua ratus dua puluh dua tahun, adalah bilangan waktu baku untuk menggambarkan lama hidup seorang serpent bernama Bhumi Kastara.

Luar biasa. Dua ratus dua puluh dua tahun, Bhumi hidup dalam mimpi kosong semata.

Tidak banyak yang tersisa dari dirinya di Halimun dimensi kedua, tempat dia tumbuh dari wujudnya yang masih bocah boncel ingusan, dengan segudang bakat dan kebolehan. Sebagian besar habis sejak Bhumi menghapus arc-nya, hanya menyisakan beberapa kenangan yang dia korek malam ini, di dalam kamar, tempat di mana dia menyendiri.

Bryan sedang pergi. Lampu dipadamkan. Bhumi duduk bersila dengan pose lotus, dan beberapa gelombang ingatan bercahaya abu-abu, biru muda, dan kuning keemasan melayang di udara. Tidak ada merah atau merah muda, karena dia tidak pernah jatuh cinta.

Warna kuning keemasan dipenuhi dengan masa di mana dia dipuja Permaisuri, wanita yang semasa kecil dianggapnya ibu. Nyi Ratu Indira adalah wanita vampir yang terlalu baik untuk seorang raja ambisius bernama Auriga Arnawarma. Berbeda dengan suaminya yang memiliki watak keras hati dan keras kepala, Nyi Ratu, Ibunda Bhumi, adalah sosok pengasih yang harus menyembunyikan rasa kasihnya di balik kekejaman suami.

Semua kenangan ketika Nyi Ratu memuji Bhumi dilakukan dalam ketidakmunculan Raja Auriga.

Bhumi memilih satu gelembung untuk dilihat.

Di sana, Bhumi atau Rigel kecil, bocah bermata lancip yang menghafalkan beratus sumpah bakti dalam kurun waktu satu jam, membuat Nyi Ratu menyusutkan air mata. Wanita itu menghampiri Bhumi dan memeluknya erat, lalu menepuk kepalanya.

“Kamu hebat, Rigel. Ibunda bangga.”

Perasaan besar kepala dan tinggi hati yang Bhumi rasakan dulu merambat ke rongga dadanya detik ini.

Tangannya mengembalikan gelembung kuning emas itu ke udara, kemudian memilih salah satu dari gelembung biru muda untuk dilihat kembali.

Gelembung itu berisikan peristiwa di mana Rigel bersama saudarinya, seorang gadis serpent bernama Bellatrix berada di dalam istana. Bellatrix yang tengah tersedu karena patah hati, dan Rigel yang menertawainya puas. Semuanya berakhir dengan perang bantal.

Bhumi tersenyum. Dia kembali memilih, meski gelembung abu-abu sebaiknya tidak menjadi penutup kilas balik memorinya malam ini.

Gelembung abu-abu itu terbuka. Di sana Rigel sudah menjadi Bhumi yang sekarang, yang membedakan hanya gaya rambut dan busana yang dikenakan. Dia meringkuk di bawah tanah, memeluk Bellatrix yang terkapar bersimbah cairan hitam–darah para serpent–dan tak lagi bergerak. Bhumi melihat dirinya mengerang.

“Ayahanda! Kenapa bukan aku yang kau bunuh!”

Cukup. Bhumi tidak lagi kuat melihatnya. Kenangan itu sengaja dia sisakan agar dia tahu betapa kejam seorang raja bernama Auriga Arnawarma, yang rela menjadikan putri semata wayang sebagai tumbal untuk keserakahan menguasai daerah utara.

Bhumi mendengus. Ini lucu. Karena kisah setelahnya malah akan memberi pukulan hebat bagi ayahanda yang bukan ayahnya itu. Laki-laki yang sudah tahu bahwa Rigel alias Bhumi bukanlah putra kandungnya, tapi tetap bernafsu menjadikan Rigel sebagai raja di negerinya untuk merebut takhta pesaingnya. Bagaimana tidak lucu? Sebab berikutnya, Rigel pilih untuk memberontak.

Takhta, kerajaan, bahkan Rigel Arnawarma sudah dia tinggalkan jauh di belakang sana. Yang hidup saat ini bukanlah calon raja yang akan menguasai kerajaan Serpent selatan di Halimun sana, tapi Bhumi Kastara, vampir laki-laki yang hanya ingin hidup sekenanya.

Bhumi menutup sesi kenang-mengenangnya dengan diam. Memang bukan pilihan tepat untuk membuka gelembung abu-abu yang tersisa sebagai akhir. Dalam kegelapan, hanya matanya yang bersinar selain bayangan cahaya lampu dari kamar sebelah dan gedung tetangga yang menembus gorden kamar.

Sunyi.

Sebelum kegelapan dan kesunyian itu didobrak oleh dering telepon di atas meja. Segera, Bhumi meraihnya.

“Apaan?”

“Bhumi-kun, tolong Misa dayo~”

Elah. Lo di mana emang?”

“Misa ada di depan minimarket dekat akademi dayo~ ada preman mau–”

“Tunggu, jangan ngapa-ngapain dulu, gue otewe.”

Bhumi menyambar jaket di gantungan, lalu beranjak keluar dari kamar dan menutup pintu.

Tinggalkan komentar