Piano dan Relung Ingatan

Disclaimer:

Lyra Pranata is not mine, they belong to their creator.

Berdasarkan informasi yang Lyra ketahui, hanya asrama Mart yang diberi kewenangan spesial memiliki studio musik tersendiri, dengan pelbagai alat musik, termasuk grand piano dengan emblem burung flinch yang sengaja ditancapkan ke sana sebagai penanda bahwa benda itu merupakan properti asrama. Itu yang Lyra dengar dari beberapa anak asrama seniman, sebab Lyra belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Siapa yang menyangka bahwa staf bernama Il mematahkan premis yang telah lama ada. Di suatu pagi tanpa agenda bermakna, para burung hantu muda dihebohkan oleh kedatangan mobil angkut. Sebuah grand piano diturunkan dari sana, lantas dijejalkan ke dalam ruang tengah nan megah dengan cat tembok merah muda. Mungkin sang wali asrama kini melek, kalau minat seni nggak mengikatkan diri pada kategori dormitori. Apalagi sejak kamera akademi menyoroti girl band asal asrama sakura.

Upaya menjauh dari ruang musik selama enam bulan gagal total. Lyra Pranata nggak bisa lagi menghindarkan matanya dari kehadiran kayu berpelitur dengan tuts-tuts hitam dan putih yang saling berselingan, atau partitur-partitur yang berserakan, atau dentingan melodi yang membangkitkan kenangan. Semua itu bakal mewarnai setiap pagi dan petangnya sejak hari ini.

Rupanya rasa sesak itu masih ada dan masih nyata. Kenangan dalam kepalanya mengalir begitu deras. Apa gerangan magis yang terkandung dalam grand piano, sampai-sampai Lyra bisa menangkap bayang-bayang wajah, membaui aroma parfum, mendengarkan suara maya yang mana semuanya milik seseorang yang sama; seseorang yang nggak hadir di sana? Haruskah ia memeriksakan dirinya pada pusat medis? Apakah Lyra berhalusinasi? Ataukah memang seseorang bernama Panji Altameva telah mati dan arwahnya kini menghantui rongga-rongga kepalanya? Kepastian yang Lyra tahu hanya sebatas; bayangan wajah, suara, atau aroma itu nggak mendiami asrama atau akademi mereka, sehingga dapat Lyra simpulkan hanya dirinya yang bermasalah dalam kasus ini.

Tapi kenapa harus sekarang? Kenapa sekarang, di masa ketika cewek berkacamata telah membuka hati buat orang lain? Apakah hati bisa terbagi jadi beberapa kepingan?

Hari itu sepenuhnya Lyra habiskan di luar. Membantu merapikan planter-planter di pekarangan atau menyusun naskah siaran menjadi pilihan yang lebih bagus daripada berdiam di asrama dengan bayang menyakitkan. Ia baru pulang setengah jam sebelum jam malam diaktifkan. Selepas itu pun, ia terlelap dengan kuping disumpal peredam suara.

/Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua ku trima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu …./

Apa ini? Apa lorong gelap yang menghisap tubuh Lyra? Lorong waktu? Cewek Blossom nggak menemukan jawaban yang pasti sampai ia menemukan dirinya, terduduk pada piano bench dengan jari-jemari menari di atas tuts tanpa mampu ia kendalikan. Ia bermain seperti kerasukan. Setiap nada yang dihasilkan membentuk melodi lagu Ruang Rindu yang lawas, yang mengalirkan sensasi berdebar yang nggak nyaman. Tapi Lyra nggak bisa berhenti. Ia terus bermain sampai lagu berakhir.

Lyra merasa lelah. Lelah sekali. Tangannya lunglai, seakan tulangnya lenyap entah ke mana, jatuh tergolek di atas deretan tuts dan menghasilkan suara “Prang” yang sumbang. Dengan napas terengah, Lyra menunduk.

Ini seperti … De javu.

“Hei.”

Sebuah tangan menepuk pundaknya, serta-merta membuat Lyra menolehkan kepala. Selama sekian detik, ia lupa apa itu mengedip.

“Kak Panji?”

Senyum cowok itu masih sama. Dalam ruangan yang temaram hanya ada seberkas sinar dari ventilasi yang menyoroti keduanya di sana. Membuat wajah Panji Altameva kelihatan surealis di mata Lyra.

“Sudah sembuh?”

Lyra linglung. Sembuh? Siapa yang sakit?

“Siapa?”

“Kamu lah. Sudah sembuh? Katanya tipes?”

Bukan seperti ini ceritanya! Kejadian di masa lalu nggak berlangsung seperti ini. Kak Panji nggak seperhatian ini. Jelaslah kalau semua kejadian ini hanya berlangsung dalam mimpi Lyra semata.

“A-aku …” Lyra menjeda ucapannya, tertegun sejenak. Ajaib. Sejak Lyra menyadari kalau ini hanya mimpi, ia jadi mampu mengendalikan dirinya. Tangan yang semula terkulai lemas mulai bisa digerakkan sekehendak hatinya.

“Tipesnya sudah sembuh?” ulang Panji, yang berdiri di samping kiri. “Katanya kemarin maag juga. Makanya, jangan kebanyakan mikir.”

Tangan kekar itu naik, mengacak-acak surai hitam cewek bermata empat. Lyra menggigit bibir. Ini hanya mimpi. Ini hanya mimpi, maka Lyra harus melepaskan dirinya dari jeratan ini.

Kini gantian Panji yang tertegun ketika tangannya ditepis Lyra. Bibir cowok itu membisikkan nama Lyra dengan lirih, lalu berdeham dan berkata, “Sorry.”

Kedua atensi Lyra meringkus Panji lekat-lekat dalam pandangan penuh tekad. Ini mimpi. Ini mimpi, Lyra. Katakan apa yang ingin kau katakan.

“Kak Panji nggak perlu lagi merasa khawatir. Sudah ada yang mengurusku.” Ujaran itu meloncat dari lidahnya.

Bola mata hitam di depan Lyra kehilangan binar. “Oh, ya? Siapa?” Dalam nada suara Panji, Lyra dapati kesan nggak percaya sekaligus mengejek.

Cewek Blossom menarik napas. Menetralisir perasaan yang sempat goyah. Panji Altameva yang ini nggak nyata, Lyra … Panji yang asli sudah menikah, punya anak satu atau dua, dan bahagia ….

“Pacarku.” Ada rasa takjub akan diri sendiri ketika kata itu meloncat dengan nada pasti.

“Kamu punya pacar?” Panji mendengus. “Siapa namanya?”

Lyra mengerti. Sepertinya Panji di sini hanyalah bayang-bayang Lyra akan sosok yang pernah mengisi hatinya di masa lalu. Panji di sini hanyalah wujud dari kebebalan hatinya serta ketidakyakinan pada dirinya sendiri. Maka sudah sepantasnya Lyra Pranata melepaskan diri dari bayang-bayang Panji Altameva yang dulu maupun sekarang.

“Namanya Eric.”

Tepat ketika Lyra berhasil mengucapkan nama itu, sosok Panji dan piano di depannya menghablur dalam lenyapnya sumber cahaya. Lalu Lyra tersedot lagi ke dalam lubang yang sama, yang memutar-mutar dirinya dalam kegelapan. Tetapi kali ini, hati Pranata muda begitu lapang seolah segala beban telah tercerabut pergi.

Cahaya yang ia dapatkan kembali ketika bisa membuka matanya adalah sinar matahari yang menelusup dari jendela kaca. Pagi telah bertandang lagi. Seseorang telah menyibak gorden kamar.

Lyra duduk dalam diam, meraba dadanya. Perasaan nggak nyaman yang memenuhi rongga dadanya kemarin sudah nggak ada lagi. Apa mungkin ia telah berhasil melepaskan dirinya dari Panji? Lyra nggak tahu. Tapi suara denting piano halus yang dimainkan seorang teman seasramanya di bawah sana mampu dihadapi Lyra dengan biasa-biasa saja.

Tinggalkan komentar