351 kata
“BERBAHAGIALAH mereka yang mati muda,” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. Benar. Berbahagialah mereka yang mati muda, menjumpai maut saat semangat sedang meletup-letup. Mereka tak perlu menjalani ulangan demi ulangan, rutinitas menjemukan yang berlangsung pada petangnya usia. Mereka bakal selalu dikenal muda.
“Berbahagialah kalian yang mati muda,” tulisku di dalam catatan harianku. Benar, berbahagialah kalian yang mati muda, menemui ajal saat darah menggelegak dan dada masih hangat. Kalian tak perlu menjalani ulangan demi ulangan, rutinitas menjemukan yang berlangsung pada petangnya usia. Kalian bakal selalu dikenal muda.
Tidak sepertiku. Tak seperti pria gaek dengan gelambir di setiap bagian tubuh; sisa-sisa keperkasaan yang sudah meletoy termakan zaman.
Berbahagialah kalian yang mati muda …
.
.
.
“Kakek? Sedang apa di sini?”
Kupalingkan wajah dari buku yang kututup pada seorang muda di sisi. Ia mendekat, duduk dengan lutut mengecup karpet dan melingkarkan tangannya pada bahuku yang kehilangan ketegapan. Ah, bila disandingkan begini, kekontrasan antara dua orang yang usianya terpaut empat puluh tahun tampak sejelas hitam di atas putih.
“Menulis …” Kulihat matanya berkedip menanti kelanjutan. “… tentang hidup.”
Ia tertawa. “Kakek, jangan berpikir terlalu berat!” Tangan kekarnya terulur meletakkan seplastik mika pisang keju ke atas meja. “Dari Mama. Kesukaan Kakek, ‘kan?”
“Terima kasih ….”
“Hari ini aku akan menemani Kakek. Kakek mau apa lagi?”
Kutanggalkan kacamata ke samping mika pisang. “Kamu mau bercukur?”
Alisnya bertaut. “Bercukur?”
“Ya.”
Kami berakhir di depan wastafel, bertelanjang dada, menatap refleksi diri satu sama lain pada cermin yang di beberapa permukaannya terpecik bulir-bulir air.
“Jerry,” panggilku. Ia menoleh dengan sebagian wajah berbalur shaving cream.
“Ya, Kek?”
“Tolong ambilkan roll tissue yang baru.”
Ia bergerak keluar, sementara aku bersiaga di belakang pintu, menunggui ia kembali.
“Ini ka—kkhh!”
Kalimat itu berhenti pada tenggorok yang tercekat, lalu debam lantai saat tubuhnya yang kekar dan masih bertelanjang dada ambruk. Stun gan di tanganku kulepas, jari-jariku beralih menggengam cutter.
Berbahagialah kau yang akan mati muda, Cucuku. Kau akan bersua dengan sripahmu pada masa di mana darah menggelegak dan dada masih hangat, tanpa perlu menjalani ulangan demi ulangan, rutinitas menjemukan yang berlangsung pada petangnya usia. Kau akan selalu dikenal muda, tanpa kulit yang mengisut atau bergelambir sepertiku.
