Bertahun-tahun yang lalu, kupikir setiap cerita dongeng yang dibacakan Mom setiap malam sebelum aku terlelap, dengan tokoh seorang anak dan ibu tirinya yang kejam itu terlalu berlebihan. Sekalipun ada embel-embel tiri di belakangnya, seorang ibu nggak akan sebiadab itu untuk menyiksa darah daging dari suaminya, atau menikah hanya untuk mengincar materi.
Pemikiran naif bocah yang belum menyicip pahitnya realita.
Kenyataannya, Eliana—janda tanpa anak yang dikawini Dad setahun selepas Mom mati—adalah satu dari sekian wanita busuk itu. Kupikir ia nggak mengincar harta atau takhta. Eliana bersikap baik dan normal, berusaha menggantikan posisi yang rumpang dalam rumah kami; posisi Nyonya rumah sebab aku masih terlalu belia untuk berkuasa. Namun, bangkai nggak akan selamanya bisa disembunyikan. Baunya akan tercium lama-kelamaan.
Sebuah ‘pesta makan malam ibu dan anak’ ia adakan untuk merayakan ulang tahunku yang kedelapan belas; dua tahun sejak aku resmi jadi yatim-piatu karena Dad meninggal dalam kecelakaan tragis. Tiga bulan selepas masa berkabung, Eliana sudah membalik sebagian besar aset atas namanya dengan metode yang licik. Topeng yang ia kenakan selama ini mulai dilepas. Kupikir, inilah saatnya kutanggalkan topengku juga setelah dua tahun aku mengamatinya dengan diam, membiarkan ia melihatku seperti sosok remaja lugu yang bergantung padanya.
Malam di mana kami hanya berdua di lantai dua puluh tiga gedung yang sepi—karena sengaja ia sewa untuk malam yang spesial ini—menjadi batas bagi kemunafikanku.
“Makan, Sydney.”
Kupandang santapan di meja tanpa selera. “Kalau aku makan, apakah aku akan mati?”
“Apa maksudmu?”
“Kau mau membunuhku, ‘kan?”
Bunyi denting terdengar kala ia membanting garpu dan pisaunya kasar. Tersinggung. “Kalau kau seperti ini, aku jadi sungguhan ingin membuatmu mati.”
Aku mendengus. “Selera makanku meluap entah ke mana.” Kulipat tangan di depan dada.
“Baiklah. Setidaknya minum ini.” Tangan lentiknya menuang sebotol cider ke dalam gelas kristal.
Alisku naik. “Kenapa cider?”
“Ya?”
“Kenapa cider? Bukan wine, martini, brandy, atau lainnya?”
Ia terlihat bingung akan pertanyaanku. Dengusanku terhempas.
Cider. Apel. Buah kebodohan yang membuat Adam dan Eve terusir dari Eden; membuat Snow White tertidur karena racun. Aku cewek dengan kulit seputih salju, bibir semerah darah, dan rambut sehitam ebony, tapi aku nggak sebodoh Eve dan Snow White.
Kuraih gelas berisi minuman itu, dan kusemburkan pada wajahnya yang menganga.
“Aku nggak akan mati malam ini, dan nggak akan mati di tanganmu, Jalang.”
Puas membuatnya kehilangan suara, aku beranjak dari tempat itu. Huh, pesta makan malam ibu dan anak? Siapa yang sudi jadi anaknya?
