(bukan) Cinderella

398 kata

KEBANYAKAN orang memulai pagi dengan rutinitas serba-sibuk seperti mandi pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarga, dan pergi bekerja. Namun, pada zamannya tak ada yang lebih sibuk ketimbang pagi dalam sebuah rumah beratap rendah, meski realitanya, hanya seorang yang benar-benar sibuk, sementara yang lainnya …

“Ella! Mana bajuku?”

“Jangan lupa semir sepatuku! Aku mau mandi dulu!”

“Jam berapa sekarang? Mengapa sarapan belum disiapkan?!”

… sibuk berteriak seolah lagi berkompetisi pita suara siapa yang melaungkan suara paling tinggi.

Ella, sasaran dari amukan trio kontestan lomba teriak-teriak melakukan segalanya dengan gagap, tersara-bara. Satu detik ia berhenti, perintah lain menghampiri.

Kau benar. Ella adalah Ella kita, si upik abu, babu bagi keluarga setelah ayahnya mati. Yang memanfaatkan redamnya ingar-bingar dalam rumah dengan berehat mumpung trio penguasa lagi tak kumat bossy-nya. Bedanya, Ella yang ini tidak meyakini keajaiban atau mujizat, soalnya ia tak punya waktu buat bermimpi dan berharap.

Derap kaki dan jeritan bertalu-talu menusuk gendang telinga, mengusik tidur sepuluh-menitnya. Ah, kedua saudari tirinya sudah pulang.

“Mom! Mooom! Lihat ini!”

“Undangan pesta akbar dari kerajaan!”

Cuping telinga Ella bergerak.

“Ini party untuk nanti malam! Pasti pesta demi mencari calon istri putra mahkota. Kalian harus lekas bersiap-siap!”

Oh, no! Jangan sekarang! Batin Ella sudah menjerit.

“Ella! Siapkan bajuku!”

“ELLA! Di mana kau?!”

Sialan!

Gadis berambut kuning beringsut sambil bersungut-sungut, dalam hati mengutuki keluarga tirinya yang bawel minta ampun. Rasanya Ella ingin mencincang semuanya sampai mampus. Sudah lama sekali keinginan ini bercokol dalam benaknya, tapi hanya wacana. Tenaganya terlalu lemah untuk melawan tiga orang beringas sekaligus.

“Hei.” Nyonya besar memandangi Ella yang sedang mengelap sepatu-sepatu. “Siapkan kereta kami. Thanos sedang berhalangan.”

Phobos dan Deimos, dua kuda peninggalan ayahnya dielus Ella dengan sayang. Seketika muncul sebuah ide yang belum pernah tercetus sebelumnya. Ella berderap ke belakang dengan memutari pelataran, memetik lembar daun menjari yang pernah membuatnya tertidur waktu kena insomnia.

Daun-daun itu ia jejalkan di mulut Phobos dan Deimos, berharap para kuda lekas tidur sehingga ibu serta saudari tirinya batal pergi. Sayangnya, mimpi si upik abu terlalu tinggi. Alih-alih jatuh tertidur, kuda-kuda itu malah meringkik dengan semangat. Seperti pertanda kalau mereka siap membawa tuannya.

Ibu dan saudari tirinya keluar tergesa-gesa, kereta kuda yang ditumpangi pun melaju berbaur bersama kereta kuda lainnya di jalanan berdebu. Ella merutuki kesialannya.

Yang tidak Ella tahu, Phobos dan Deimos tidak membawa tiga penumpangnya ke pesta raja. Melainkan berbelok ke hutan, masuk ke jurang, dan akhirnya terjun ke bawah tebing gamping yang curam.

Tinggalkan komentar