Hang in There!

Tugas Kelas PSPPK | Hang in There! | 0(P-W) Davina Leslaigh

Hutan punya kisah mistis sendiri. Deretan semak, pepohonan rimbun, lalu suara binatang mengantarkanku pada ingatan di malam ketika aku berlari tanpa arah. Mereka memanggil seperti lambaian ibu. Memberikan sebuah kekuatan baru, meski caranya akan sangat menyakitkan. Aku selalu ingat taring-taring panjang dan kuku runcing mengoyak kulitku sampai aku menjerit. Aku ingat tulang-tulangku bergemeletak, berpindah tempat dan bentuk. Peristiwa itu nggak pernah alpa membuatku ingin mati. Lalu semua kesadaranku lindap ditelan hawa untuk membunuh apa saja yang lewat di depan mata yang redup. Kesadaran itu baru kuperoleh kembali saat matahari pagi mengusik indera penglihatanku sampai terbuka sepenuhnya. Selalu, dan selalu, kudapati luka-luka seolah aku habis bergelut dengan seseorang atau sesuatu.

Selain hutan, laut pun menyisakan kisah fantastis yang nggak bisa kuceritakan menurut penafsiran logika. Bagaimana kubangan air yang memantulkan warna angkasa bisa menghisap seluruh kebahagiaan para penumpang Monstrage, memberi mereka kematian di waktu apa yang mereka cari adalah kehidupan. Lalu memuntahkanku pada permukaan yang beriak pelan, di belahan bumi yang lain lagi, memberi kehidupan padahal justru kematianlah yang kunantikan.

Aku belum mati. Itu kalimat pertama yang mendengung di telinga ketika membatukkan air laut dari paru-paru. Serangan panik yang membangkitkan gerak impulsifku untuk meraih papan kayu yang meluncur menuju kepala adalah hal terakhir yang terekam dalam memori, sebelum kudapati tubuhku mengambang di atas papan itu, lalu berenang ke tepian pulau dengan mengerahkan sisa daya. Padahal kuat sekali dorongan untuk menggulingkan tubuh lalu terjun ke laut, membiarkan alveolus-ku mendidih dan meledak karena dimasuki air asin, kemudian mati tanpa seorang pun tahu aku sudah jadi mayat di dasarnya. Tapi semua itu nggak kulakukan. Karena ada dua manusia yang berseru, “Bertahanlah!” beberapa kali dengan suara serak tapi penuh tekad untuk hidup. Aku nggak bisa bersikap nggak peduli pada kepedulian mereka.

Sir William MacNab hanya pernah mengajakku mengobrol sekali sebelum karamnya kapal yang ia nakhodai. Pembahasannya adalah kesepakatan untuk mencuci piring bekas makan dan periuk-periuk berjelaga dari dapur kapal, yang akan dibayar dengan tumpangan berlayar ke benua seberang. Aku mengiyakannya, dengan harapan begitu tiba di Amerika nanti, aku nggak lagi terlibat dalam urusan apapun dengan pria itu.

Berbeda lagi dengan Oliver Wallace, kalimat pertama yang pernah kudengar keluar dari pita suaranya dan ditujukan khusus untukku adalah, “Syukurlah kau nggak apa-apa,” sewaktu aku telah membuka mata dan menemukan diriku tertidur di atas dipan kusut dalam ruangan reyot; rumah seorang nelayan di pesisir West Beach. Sebelumnya, aku hanya tahu Wallace adalah satu dari beberapa orang yang duduk melingkari meja, membanting kartu, bertaruh harga dengan mulut mengepulkan asap tembakau—bukan hal yang spesial sama sekali.

Well, satu-satunya yang spesial di sini adalah hilangnya transformasiku jadi binatang malam setiap kali bulan bersinar penuh sejak mendatangi pulau ini. Aku nggak lagi merasakan sakit itu, sehingga kupikir aku telah kembali normal. Aku tinggal bersama Oliver dan William selama hampir dua tahun lamanya, dalam apa yang William sebut ‘keluarga’, atau Oliver juluki dengan ‘segitiga iluminasi’; segitiga pembawa cahaya; segitiga yang memberikan harapan baru pada kami. Bersama mereka aku belajar tertawa, berkelakar, hal-hal yang hilang dari hidupku selama beberapa tahun belakangan, karena telanjur ditekan gumpalan dendam yang meski sudah kubalaskan tapi belum juga bisa menciptakan ketenangan dalam kepala dan dada. Mungkin gumpalan dendam itu baru bisa pecah seluruhnya bila Dad dan istrinya—jalang yang nggak pernah kuingat siapa namanya, mampus menyusuli Mom dalam kobaran api yang kunyalakan.

Aku ingin pulang untuk memenuhi dendam itu, tapi William nggak pernah membiarkan hal itu terjadi. Seakan dia tahu bahwa selepas aku menghabisi kedua sisa mangsaku itu, aku akan ikut terjun dalam kematian. Mungkin aku punya monster berwujud dendam itu, tapi kalimat William berhasil meringkus kuat-kuat monster itu dan membuatnya jinak sama-sekali.

Namun sepertinya kedamaian dan aku bukan pasangan yang cocok. Purnama lainnya tiba, aku kembali merasakan perubahan yang bikin aku harus berlari secepat mungkin untuk menepi ke hutan, pulang ke rumahku yang sebenarnya. Lalu terbangun pada pagi hari, dengan luka-luka di sekujur tubuh dan dorongan untuk kembali bertemu mereka berdua, sambil menyusun alasan kenapa tubuhku bisa babak belur. Knock Out, arena sabung nyawa di Salvatore harus sering kukunjungi sebagai alibi, yang pada akhirnya kujalani sambil berlatih di sasana sebelahnya. Kedua pria itu khawatir, tapi itu masih bisa diterima. Hal ini terus berlangsung membuatku was-was akan ketahuan. Kedua laki-laki itu membuatku lemah dan menyerah pada kenyataan. Mereka juga membuatku lemah untuk sekadar mengaku bahwa aku bukan manusia, melainkan ‘sesuatu’ yang bisa membunuh mereka dengan taring dan kukuku, atau mengubah mereka menjadi ‘sesuatu’ yang serupa. Aku suka tapi nggak suka pada perhatian mereka; benci tapi kelewat sayang. Aku ingin kabur dan menjauh tapi aku ingin mereka hidup tanpa mengkhawatirkanku. Ikatan ini membuatku lemah.

Karena itu, kumanfaatkan kesempatan yang datang dari Oliver. Ketika ia terengah-engah karena berlari dan berkata, “Aku menemukan sesuatu yang bagus,” dengan membawa aroma laut. Ia bahkan nggak mempedulikan kuku jempol kaki kanannya yang lepas karena terantuk balok kayu di depan pintu gubuk kami. “Ini, bacalah ….”

Saat itulah aku baru menangkap keberadaan selembar kertas selebaran di tangan yang dibuka lipatannya oleh Oliver dengan terburu-buru. Pengumuman penerimaan sebuah akademi tercoreng di sana dengan huruf hasil cetak, beserta foto sejumlah pengajar berbusana elit seperti yang sering kulihat tertempel di dinding-dinding jalanan.
Aku tahu kedua lelaki itu memintaku mendaftar di sana, dan aku memenuhinya, berharap bisa terlepas dari ikatan dengan kedua laki-laki itu sambil menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.

Begitu aku melepaskan ikatan itu, simpul lain malah hadir dalam hidupku. Relasi ini lebih seru daripada relasi sebelumnya. Mereka banyak, mengesankan, dan membuatku sadar bahwa aku bukan satu-satunya ‘sesuatu’ dengan monster di dalam tubuh yang bisa saja menyakiti diriku sendiri. Jejaring bernama pertemanan ini nggak membuatku takut untuk mengakui ‘apa’ sebenarnya aku.

Beberapa kata tertoreh dalam lembar buku yang mulai lecek karena sering dibuka-tutup. Portalite, Ragnarok. Sebagian lain hanya nama yang ditulis kecil-kecil. Kiji, Amamiya, Ulani. Makhluk-makhluk ini mengajarkanku bahwa kematian bukan tujuan. Tapi terus bertahan dalam hidup selagi kematian belum dipastikanlah tujuan sesungguhnya.

Tinggalkan komentar