Miss[ing]

[Bagi Luey Louise | 1(P-W) Davina Leslaigh | To Meet Your Daughter | 678 kata] “Ada apa ya? Kok polisi berkeliaran sejak tadi pagi sampai petang ini?” Pertanyaan Georgia membuatku menarik atensi dari adukan kuah daging beraroma rempah India. Ia sengaja kuundang kemari buat pesta kare malam ini. “Anak hilang,” jawabku sambil menyicip sedikit rasa racikan. Lidahku menyesap rasa pedas tapi agak hambar. “Sejak kemarin polisi berkeliaran mencari keterangan tentang anak keluarga Jefferson yang tinggal di rumah itu.” Kutaburkan sejumput garam pada kariku. “Oh, kasihan.” Georgia mendesah, prihatin pada musibah yang menimpa tetanggaku. “Aku mau pergi melihat dan memberi semangat. Kau mau ikut?” Aku menimbang sejenak selagi mengaduk. “Baiklah, kariku sudah matang.” Kuputar kompor hingga apinya meredup dan padam, lalu mencuci tangan dan menjejeri langkah Georgia yang sudah terlebih dahulu menyembul keluar dari pintu rumah. Kulihat lima tetangga lainnya berpapasan dengan polisi yang menanya-nanyakan keterangan, mungkin mereka sudah selesai menyatakan belasungkawa. Georgia dan aku mengabaikan semua itu dan memilih masuk ke dalam rumah. Di depan pintu, kami langsung disuguhkan oleh pemandangan tragis dan suara raungan tangis dari Paula Jefferson dalam dekapan suaminya yang kelihatan lebih tegar. Dua orang polisi duduk di sofa lainnya, tampak salah tingkah karena nggak tahu harus berkata dan berbuat apa dalam kondisi demikian. Dari sela-sela tangisannya, kudengar Paula yang merintih. Kecemasan dan kegundahan dalam gurat-gurat wajahnya membuatnya jadi kelihatan lebih tua dibanding usia semestinya. “Rebecca masih ada waktu kutinggal pergi ke toserba,” ia berkata dengan tatapan kosong yang mengarah pada dua petugas berseragam. Tom, suami Paula sibuk menepuk-nepukkan tangannya pada pundak istrinya sambil melemparkan tatapan ‘mohon dimaklumi’ untuk para polisi. Pada detik itulah keberadaan kami yang hanya mematung di depan pintu tanpa sempat berkata-kata akhirnya teridentifikasi. “Amelia,” tegur Tom memanggil namaku, bagai sebuah pemberitahuan pada Paula. Wanita itu mengangkat wajahnya, memandangiku dengan bola mata biru yang kehilangan binar. Aku memaksa kakiku bergerak maju, mendekati sisi suami-istri itu. “Kami turut berduka cita,” kata Georgia, mungkin melihat aku nggak sanggup merapal satu kata pun. “Kuharap Rebecca bisa segera ditemukan dalam kondisi sehat.” Ia meraup Paula dalam satu dekapan erat, dan wanita itu kembali menangis di sana. Bukan tangis meraung, hanya isak samar sambil berucap lirih, “Terima kasih, terima kasih.” Kuulas senyum prihatin. Mataku menangkap eksistensi secarik foto balita dalam genggaman Paula yang sudah kusut, mungkin telah lama dicengkram. “Excuse, me, apakah kalian berdua ini tetangga keluarga keluarga Jefferson?” salah satu polisi bertanya. “Kami ingin sedikit bertanya soal gambaran Rebecca di mata kalian.” Pandangannya berlari di antara aku dan Georgia. “Ya, silakan,” jawabku. Kami berdiri, mengikuti arahan polisi berpapan nama Louise Hamilton ke luar, menjauh dari sepasang suami istri yang tengah berduka. Sempat kuhadiahkan elusan ringan di pundak Paula sebelum beranjak. “Anda berdua mengenal korban Rebecca, ‘kan?” Louise memulai investigasi begitu kami menjejaki tanah berlapis salju. “Siapa nama Anda berdua?” “Aku Georgia, dan ini temanku, Amelia. Sebenarnya aku sendiri nggak begitu mengenal Rebecca, aku hanya berkunjung beberapa kali ke rumah Amelia di sana …,” Telunjuknya mengarah ke rumahku di seberang jalan. Sengaja agar porsi interview lebih banyak berpusat padaku sebagai tetangga sebenarnya. Nggak perlu heran, Georgia memang terlihat seperti tetangga daripada aku, sebab dialah yang banyak berbicara dan menimpali ketimbang diriku yang cenderung nggak meminati interaksi sosial. “Anda, Nona Amelia, pernah bertemu dengan Rebecca sebelumnya?” Hawa dingin menelusup ke tengkuk, membuatku menggigil. “Uhm …, ya, hanya sebatas melihatnya dari jendela. Aku jarang keluar rumah.” “Dia penulis,” tambah Georgia, seolah dengan kalimat itu bisa menjelaskan kenapa aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam kegelapan ruangan daripada menghirup udara bebas. Polisi Louise mengangguk sejenak. “Berarti sekitar pukul lima sore kemarin Anda juga ada di dalam rumah?” Aku bergidik. Sensasi dingin itu datang lagi. “Ya, betul.” “Anda sempat melihat lewat jendela? Mungkin menangkap sesuatu yang mencurigakan?” “Uhm … Aku sempat melihat Rebecca keluar dari rumah dan berkeliaran di depan pintu rumahnya, tapi setelah itu aku nggak berdiri di depan jendela lagi,” terangku. Polisi itu mendesah. “Baiklah. Terima kasih karena sudah bersedia ditanya, Nona Amelia dan Georgia.” Berikutnya ia berlalu, menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah Jefferson dengan gontai, seolah kecewa karena nggak menemukan apa yang dicari. Georgia menggamit lenganku untuk ikut pulang. Nggak ada lagi yang bisa kami lakukan di luar selain menggigil karena embus angin musim dingin. Kututup pintu rapat-rapat, membiarkan penghangat ruangan yang meniupkan hawanya ke permukaan kulit. Georgia mendesah seraya membanting pantatnya ke kursi dan melepaskan lilitan syal dari lehernya. “Kasihan Paula. Sepertinya ia begitu kehilangan dan merindukan anaknya.” Aku terhenyak. “Apakah kita harus mengirimkan semangkuk kari untuk makan malam mereka?” Kepala Georgia mendongak ke arahku. “Kupikir ini bukan waktu yang tepat, Amel.” Sebagai manusia yang nggak mengerti tata cara bersosialisasi, aku terdiam. Padahal kupikir, memberikan daging putrinya pada seorang ibu yang kehilangan bisa menghapuskan rasa rindunya.

Tinggalkan komentar