[I’m sorry but
Don’t wanna talk, I need a moment before I go
It’s nothing personal
I draw the blinds]
Bau tahi kucing yang bergumul di atas pepasir bercampur dengan aroma asin laut, terbawa sampai ke lubang hidung cowok yang duduk sendiri di tepi dermaga. Ini bukanlah hal baru bagi Tsukasa Amamiya, tetapi bila diperbandingkan dengan apa yang berlangsung pada hari sebelumnya, kekontrasan ini bisa jadi sebuah legenda dalam hidupnya. Ia kembali terlesak ke dermaga yang bobrok dan kumuh ini, hanya beberapa jam setelah semalam ia dielu-elukan sebagai pahlawan dalam perjamuan, dikelilingi wangi makanan dan berbotol-botol anggur mahal.
Mirisnya, Tsukasa justru lebih menyukai tempatnya duduk kini daripada berada di tengah elitis, disuap seabrek suguhan, dan dihujani tatap-tatap enigmatis.
Tsukasa tahu yang terpancar dari mata mereka bukanlah kekaguman, melainkan wujud perintah tanpa bantah yang membebaninya; keharusan yang mutlak, tanpa peduli dia ingin atau menolak. Dia hanya anjing pesuruh bagi mereka, sebuah strata yang nggak punya kuasa untuk menolak.
“Woof … woof ….”
Kepalanya berputar dalam tempo sepelemparan tombak. Cody mengendus-endus kakinya. Kepala anjing sungguhan itu menengadah. Lidahnya terjulur dari deret gigi-gigi, seakan menanti reaksi Tsukasa. Cowok itu nggak bisa menahan bibirnya tertarik. Kekehannya meledak.
Lalu pelan-pelan eksistensi teman setianya pun mengabur dalam pandangan. Cody menjelma bayangan, lenyap seiring senyumnya yang ikut lesap. Tangan Tsukasa menggapai-gapai, tetapi nggak ada yang ditangkapi kecuali udara kosong.
Kini Tsukasa tahu bahwa kehadiran anjing kesayangannya tadi cuma sebatas ilusi.
Dia memang lebih pantas sendiri. Hidup sendiri. Berdiri sendiri. Menjaga dirinya sendiri. Melakukan semuanya seorang diri. Ini adalah jalannya.
(Character of Tsukasa Amamiya is not mine, he’s belong to the creator. I just take him up as main cast of this fiction.)
Nauel. Potret wilayah konflik yang luluh-lantak akibat terjangan musuh. Entah musuh yang mana, tetapi bagi yakuza sialan yang mendepaknya ke pulau ini, nggak penting mencari tahu siapa yang memulai. Satu-satunya yang penting di sini adalah memanfaatkan kekisruhan yang ada untuk mendepak orang yang mengancam eksistensi mereka. Musuh dari musuhmu adalah kawan, dan peluang yang diberikan oleh kawan nggak sepatutnya disia-siakan.
“Ini adalah kesempatan bagi kita …”
Menyaksikan bagaimana tanah Nauel yang porak-poranda dan warganya dipaksa mengungsi ke pondokan alakadarnya di tanah lapang, mengingatkan Tsukasa pada peristiwa yang berlangsung setibanya Tsukasa di tempat asing penuh aroma alkohol tadi malam. Gedung pertemuan itu persis gambaran lokasi misa para pemuja setan yang sering diberitakan di media. Penerangannya remang-remang, hanya ada pendar lampu kecil yang dikerahkan untuk seisi ruangan. Sengaja, biar terkesan misterius, atau sengaja agar wajah-wajah hadirin nggak terekspos nyata? Tsukasa nggak tahu, tapi alasan kedua sepertinya gugur karena dia masih bisa menangkap wajah-wajah elitis di antara mereka.
“Kau tahu apa tugasmu, ‘kan?”
Denting samar terdengar kala sloki menyentuh permukaan meja. Pelakunya menghunuskan tatap hitamnya lurus, seakan mau mengupasi topeng yang dikenakannya.
Ya, tanpa disuruh berulang kali pun Tsukasa tahu. Dia tahu benar, tugasnya adalah jadi peluru yang dilontarkan untuk menumpas musuh. Dan Tsukasa nggak punya kuasa untuk menolak. Pilihannya cuma berkisar pada ‘lakukan’ atau orang-orang di sekelilingnya bakal ditumpas habis. Tsukasa nggak akan membiarkan opsi kedua terjadi. Cukup sudah satu timah panas diterbangkan menembus kaki anjing setia dan suster Maria menjadi satu-satunya sandera. Jangan ada lagi orang nggak bersalah yang dikorbankan untuk memuaskan hasrat para penguasa.
Kalaupun ada, maka itu adalah dirinya.
Seseorang merengsek maju. Menepuk pundaknya dengan seringai yang tampak mengerikan ditimpa cahaya. “Semua pekerjaan ada risikonya.” Secarik foto disodorkan. “Satu wajah tambahan untuk kau habisi.”
Tsukasa merenggut lembar itu dan menamat wajah berbalut jubah merah. Terlihat familier sekaligus asing.
“Ini … Siapa?”
“Anak akademi yang bisa menjadi penghalang misimu.”
Pundak Tsukasa menegang.
Anak … Akademi?
[They don’t need to see me cry
‘Cause even if they understand
They don’t understand]
Bahkan sampai gelap menghilang dan Tsukasa telah terbaring di dekat tumpukan sampah yang menjadi rumahnya sejak dermaga kehilangan status aman, dia masih belum bisa percaya kalau pada akhirnya, dia akan menyerang dan diserang oleh sosok yang bernaung di bawah atap yang sama. Tsukasa nggak banyak tahu tentang anak akademi, sebab seluruh masa hidupnya semenjak resmi diterima dia habiskan hanya dengan menjadi pengabdi bagi hewan-hewan yang tentunya nggak punya kecenderungan bersikap munafik. Menumpuk kawan atau mencari tahu identitas orang nggak masuk dalam agendanya. Dia nggak tahu siapa itu Damien Gazelle. Bukan karena Damien kurang tersohor. Dirinyalah yang terlalu kuper.
Lembar foto itu sampai lecek karena dilihat dan digenggam berkali-kali. Biarkan orang-orang yang melihat menarik simpulan kalau si gembel sedang kasmaran, padahal dia berusaha menghafalkan lekak-lekuk wajah yang berpotensi untuk dibunuh atau membunuh dirinya.
Hari itu, ketika matahari mulai terasa terik di puncak ekliptika, Tsukasa mencoba peruntungan dengan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Nauel. Sekaligus, mencari informasi pada sesosok murid akademi yang pernah ditemuinya. Siapa tahu informasi seputar Gazelle bisa dia kantungi dengan menukar seekor ayam remaja.
“Damien Gazelle. Siswi asrama Mart level … lima atau empat. Bounty penguasa Edentria ….”
Jadi, dia akan berhadapan dengan siswi level atas yang menjadi bounty ….
“Jawab pertanyaanku. Kenapa kau mencari informasi tentang Gazelle?”
“Aku harus membunuhnya. Kau puas?”
Davina Leslaigh, cewek brunette yang menjadi sumber informasinya mendesis, “Jangan. Kau bisa mati!”
Ya. Tsukasa tahu diri. Tanpa diperjelas pun, dia tahu diri. Siapa dia? Siswa level nol bakal melawan sang bounty? Manusia biasa melawan vampire? Tetapi dia toh sudah melangkah sejauh ini. Kepalang tanggung. Telanjur basah, menyelam saja sekalian. Di belakangnya, ada nasib bocah Tesshu dan anak-anak panti asuhan yang sewaktu-waktu bisa menjadi bahan ancaman yakuza biadab itu. Bila dia mundur dari misi dan menampakkan gemeletukan giginya di hadapan pemberi perintah, bukan hanya nyawanya yang akan dihabisi. Tapi juga banyak orang. Banyak. Sampai Tsukasa merasa sesak sendiri.
Anggaplah langkahnya ini bakal menjadi penebus nyawa mereka yang berharga baginya.
Nggak akan ada yang mengerti. Tidak Davina, orang akademi, apalagi para elitis.
Cuma dirinya sendiri yang bisa dia andalkan.
[So take aim and fire away
I’ve never been so wide awake
No, nobody but me can keep me safe
And I’m on my way]
“Aku pergi dulu. Jangan ke mana-mana.”
Ucapannya berlalu sekilat usapan pada kepala gadis kecil yang barusan mengeluh kelaparan. Tatap mata sayu Tsukasa sekilas jatuh pada anak perempuan yang kini ikut menggelandang karena kalah pada pertaruhan nasib; kakaknya tertangkap ketika beraksi mencuri obat di Nauel. Sayang, laki-laki Tesshu nggak kunjung kembali, apalagi obat yang dijanjikan. Malah dijebloskan ke dalam sel tahanan.
Setelah aksinya, semuanya akan berakhir. Pejabat korup akan mampus. Nasib orang-orang yang ingin ia lindungi nggak bakal terancam lagi. Dan dirinya, bila selamat, bisa melepaskan hidup dari jeratan yakuza yang memanfaatkannya. Happy ending bagi semua.
Itu adalah kemungkinan yang paling bahagia yang akan dijelangnya setelah penyerangan kali ini.
Lokasi penjemputan telah dikirim. Tsukasa menaikkan tudung jaket dan penutup muka meski hal itu nggak akan bisa melepaskannya dari kesan seorang gembel.
“Woof … Woof ….”
Cody yang telah terbangun mengekori langkahnya dengan langkah terpincang, seolah tahu bahwa majikannya, temannya, akan pergi dan nggak kembali lagi.
“Cody, aku pergi dulu.”
Sang anjing menggoyangkan ekornya.
“Haha.” Tawa getir Tsukasa terdengar. “Kau nggak boleh ikut. Tugasmu di sini. Jaga mereka.”
Maka sang anjing pun bungkam. Hanya sorot pilunya yang mengantarkan kepergian Tsukasa.
Kaki-kaki Tsukasa bergerak keluar dari rumah kumuh di tepian Tesshu, membiarkan tubuhnya dihujani titik-titik air. Sekilas dia menoleh ke belakang, tempat di mana Cody masih memandangnya lekat-lekat sambil menyalak pedih.
“Maaf, Cody. Pada akhirnya aku yang akan meninggalkanmu.”
[The blood moon is on the rise
The fire burning in my eyes
No, nobody but me can keep me safe
And I’m on my way]
Meski malam itu hujan, pancaran rembulan masih bisa menembusi awan gelap di angkasa. Durasi untuk mengucapkan salam perpisahan habis sudah. Tsukasa membiarkan tubuhnya terguyuri, menerabas hujan musim semi, melangkah pasti menghadapi setiap kemungkinan yang terbentang di depannya.
[FIN]
