Dance to Someone’s Tune

[Recall 1 – Dance to Someone’s Tune]

Waktu itu …

Juni 2010. Kelulusan siswa level 5B Brookside Primary School, Hayes. Bila ditilik dari suasana di pelataran sekolah, tiada bedanya selebrasi ini dengan pesta graduasi sekolah dasar yang bisa kau jumpai di belahan dunia mana pun. Anak-anak berseragam dan para orangtua berbusana resmi mewarnai pelataran menuju aula nan lapang yang berfungsi sebagai lokasi pesta. Para guru yang sigap berdiri di depan demi menyambut tetamu spesial pagi itu. Serta riuh-rendah yang tercipta dari sapa-menyapa dan obrolan remeh di antara mereka.

Suara-suara teredam begitu masuk ke dalam aula. Ada banyak rupa yang terpampang dari deretan bangku penonton dalam aula megah yang disulap bagai hall opera. Tentu saja sebagian besar di antaranya adalah buncah rasa puas dan bahagia akan pesta kelulusan yang dibentuk lebih elit bila dibandingkan dengan sekolah lainnya.

Sambutan sudah berlalu. Beberapa murid berbakat bakal ambil giliran untuk unjuk gigi di panggung megah. Orkestra sewaan yang dari tadi telah stand by di atas panggung, mengalunkan musik latar yang memberi rasa nyaman. Sang master of ceremony mulai membuka sesi penghiburan.

Sungguh suasana yang serba kondusif.

Sedang di belakang panggung, tepat di balik pintu yang terhalangi tirai hitam sebagai backdrop, berlangsung hal yang berbanding terbalik. Anak-anak dengan kostum kuning nilon dan make up tebal berlalu-lalang bagai barisan semut yang disentil jemari, bergerak tergesa menaiki tangga menuju panggung. Penampilan mereka akan dimulai. Gemuruh tepukan langsung menyambut begitu kaki-kaki mereka menapaki panggung, membentuk formasi untuk tarian.

Dua anak lainnya, di belakang panggung, tengah mendengar sang tutor alias guru musik berkhotbah ria. Salah satu di antaranya, yang bersurai cokelat dan berhiaskan bandana bulu angsa mengangguk-anggukkan kepalanya antusias selagi mendekap biola kesayangannya.

“Ingat, ya? Kalian harus tampil semaksimal mungkin. Aku percaya kalian bisa.” Bola mata sang tutor berlarian di antara kedua muridnya. “Virginia, dan … Dear?” Ia telungkupkan telapak tangannya di udara, yang kemudian ditumpuk dengan dua telapak kecil sebelum ketiganya bersorak bersama.

Mereka bukan siswa sekolah seni. Brookside primary school hanya sekolah biasa yang melatih para bocah buta huruf sampai jadi bisa menghitung model aritmetika. Hanya saja, memang ada berkat khusus yang menyertai sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya Dearbhfhorghaill, bocah sebelas tahun yang kini kembali sibuk memelototi partitur yang sebenarnya sudah dihafalkan di luar kepala. Juara kontes biola antar sekolah dasar se-Inggris Raya, dan … digadang-gadang jadi lulusan terbaik angkatan ini. Beberapa menyebutnya genius. Sebagian kecil bilang dia berbakat. Segelintir lain berkata, dia prodigy.

Padahal, dia cuma bocah kecil yang mematuhi segala titah orangtua demi membuat keduanya bangga atas dirinya.

Kali ini, dia bakal berkolaborasi bersama Virginia, siswi sekolah yang sama, angkatan yang sama pula, yang baru-baru ini terkenal karena jadi peserta Britain’s Got Tallent sebagai penyanyi klasik belia. Suatu kerjasama yang telah dinanti-nanti sejak poster dan undangan pesta kelulusan dikirimkan ke tangan para orang tua.

Gemuruh tepuk tangan kembali menggaung di dalam aula. Anak-anak penari kembali ke balik panggung, dan Dear serta Virginia langsung bersiap naik.

Dear selalu suka kondisi kala jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan genderang, serta sensasi kala darahnya berdesir setiap kali naik ke atas panggung. Ia suka jadi pusat perhatian. Ia suka namanya yang diagungkan. Ia suka sorot dan decak kagum yang dilemparkan. Namun, dari seluruh hal yang berlangsung pada momen itu, yang paling disukainya adalah binaran mata kedua orangtuanya.

Ia belum akan memulai kalau kedua bola mata perak belum menemukan wajah ayah dan ibunya dalam redup lampu aula. Setelah menangkap senyum terukir di wajah keduanya, barulah Dear memejamkan mata, menggesekkan senar-senar biola hingga terdengar serentet nada merdu. Kemudian menghanyutkan diri dalam permainannya, diiringi denting piano dari belakang, menyertai suara falsetto milik Virginia sampai nada-nada koda dibunyikan.

Tepuk tangan kembali membahana. Dear merasa otot-ototnya mengendur selagi napasnya dilepaskan. Lalu ia kembali ke belakang panggung, berganti seragam serupa dengan yang dikenakan hampir semua teman-temannya. Menunggu namanya kembali dipanggil sebagai lulusan terbaik tahun ini. Di atas panggung, lagi, untuk kesekian kalinya, disinari lampu sorot dan dibidik kamera, yang dicarinya dari deret bangku penonton masih sama. Senyum di wajah ayah dan ibunya.

“Kau hebat, Dear. Mom tahu, kau pasti akan menjadi bintang yang membanggakan kami.” Itu ucap pertama yang Dear dapatkan setelah seremoni berakhir. Pelukan Mom hangat. Selalu hangat. Dear bahkan tak mau melepaskannya kalau saja nggak ada tangan kekar yang menelusup ke ketiaknya, dan menenggelamkannya dalam pelukan hangat lainnya lagi.

“Tentu saja. Sebab dialah anak Dad!”

Dear selalu merasa geli bila pipinya dikecupi sang ayah, sebab jambang tipis lelaki itu bakal menggeseki permukaan kulitnya, memberinya sensasi yang sama dengan mengelus beludru dicampur bulu sikat. Tajam dan lembut. Tapi membuatnya ketagihan.

Tawanya menghambur. Tak sia-sia dia mengikuti segala macam les yang diajukan ibunya. Semua jerih-payahnya terbayar, cukup dengan pujian dan kebanggaan Dad yang menggendongnya di atas pundak sampai ke dalam mobil. Seolah ia adalah mahkota. Seakan seorang Dearbhfhorghaill Leslaigh adalah piala yang paling berharga.

Dearbhfhorghaill berpikir segalanya akan berjalan sekondusif ini sampai akhir dunia. Pemikiran bocah berusia sebelas tahun yang tidak tahu apa-apa selain mematuhi apapun titah Mom dan Dad-nya. Dia tak pernah menduga kalau di tingkat sekolah yang lebih tinggi, semua yang sudah dicapainya selama ini tak bakal berguna untuk menghadapi hidup.

Satu respons untuk “Dance to Someone’s Tune

Tinggalkan komentar