A Barrel of Laughs

[Recall 2 – A Barrel of Laughs]

TEKANAN di kandung kemih memaksa Dearbhfourghaill melepaskan rekatan kelopak mata. Ia terbangun dengan nyala lampu meja klasik yang masih berpendar, dan sebuah buku terbuka di atas dada. Rupanya, ia tertidur dalam kondisi membaca, seperti sebelum-sebelumnya.

Sudah tiga hari berlangsung tanpa ada ceramah dari Mom atau Dad tentang kesehatan mata. Padahal biasanya, apabila Dear terbangun dalam kondisi serupa, lampu telah dipadamkan dan buku yang dibacanya sudah kembali ke lokasi semestinya, terlesak rapi di antara jejeran buku dalam rak. Tiga hari ini dia makan malam sendirian dan terlelap sendirian. Mom dan Dad pulang lebih larut dari biasanya.

Jam berapa ini? Itu pertanyaan pertama. Yang pasti, di luar sana angkasa sudah sepenuhnya gulita. Sambil menahan matanya kembali mengatup, ia lesakkan kakinya ke sandal bulu nan hangat. Melangkah mendekati meja demi keterangan waktu pada jam meja model Mickey Mouse. Jarum yang tersusun dari tangan si tikus Disey menunjuk pukul dua dini hari.

Sudahkah Mom atau Dad pulang? Itu pertanyaan berikutnya. Tiada pertanda kehidupan dari bawah sana. Dear putuskan menengok ke kamar utama demi memastikan jawaban dari pertanyaan itu, usai mengembalikan buku ke rak dan membuang urin yang meronta minta dikeluarkan.

Kamar Dad dan Mom masih kosong. Mobil keduanya belum terlihat di garasi. Dua pertanda bahwa di rumah hanya ada dirinya sendiri. Mungkin orangtuanya terlalu sibuk di kantor masing-masing sampai lupa pulang. Lupa pada seorang anak berusia tiga belas tahun yang menunggu sendirian. Lupa kalau kewajiban untuk bekerja bakal kembali menjemput begitu matahari muncul lagi.

Dearbhfhorghaill baru akan beranjak ke kamar ketika deru mesin mobil berhenti di garasi. Bukan mobil Mom atau Dad.

Pintu mobil silver asing itu terbuka, dan dengan pencahayaan lampu halaman yang temaram, Dear bisa menangkap kehadiran lelaki yang tidak Dear kenali. Di sampingnya keluarlah Mom. Lelaki itu mendekatkan tubuh, tapi ditolak oleh Mom yang menengok gelisah ke pintu rumah sembari membisikkan sesuatu yang membuat si lelaki mengangkat bahu dan kembali ke dalam mobilnya, membawa dirinya pergi.

Terdengar suara pintu dibuka. Dear bergegas masuk ke dalam kamarnya. Menelusupkan diri dalam selimut hangat, sementara kepalanya terus mendentangkan pertanyaan, “Siapa lelaki itu? Teman kerja Mom?”

Suara langkah kaki mendekat, membuat Dear menutup mata serapat yang ia bisa. Ketika ia mengintip sedikit, ada siluet tubuh Mom berdiri di depan pintu yang kemudian kembali tertutup disusuli suara langkah ibunya yang kini terdengar menjauh.

Siapa?

Pertanyaan itu tidak kunjung terjawab sampai Dearbhfhourghaill kembali jatuh tertidur.


“Hari ini aku akan pulang terlambat.”

Dad membuka percakapan di meja makan yang sepi, selagi mengolesi roti dengan selai kacang.

Timpalan Mom menyambar begitu kata terakhir Dad dibunyikan, “Aku juga akan pulang terlambat.” Nadanya lebih kering dari roti kemarin pagi.

Sementara Dear mengamati keduanya dengan kening berkerut samar. Saat ini ada banyak … banyak sekali pertanyaan yang menggayuti benaknya selain ‘siapa laki-laki yang mengantar Mom semalam’. Seperti …

“Mobilmu ke mana?”

Itu. Pertanyaan yang keluar dari mulut Dad sudah melentingkan apa yang ingin ia suarakan.

“Kutinggal di kantor. Akinya soak.”

“Semalam pulang dengan apa?”

Dear mengulurkan tangan, mengambil gelas susu cokelatnya dan menenggak isinya. Tenggorokannya belum seret. Rasa ingin tahunya yang berkobar dan memintanya bergerak.

“Taksi.”

Trek.

Dasar gelas kaca yang isinya telah tandas menyentuh permukaan meja dengan kasar. Menarik empat bola mata yang tengah bertukar kata dengan hambar. Tetapi sang pelaku pura-pura tak peduli. Ia lanjut mengelap mulut dengan langgam tenang.

“Kalau begitu pagi ini berangkat dengan taksi juga?”

“Ya.”

Georgius Arthur Leslaigh berbicara dengan cepat dan rahang terkatup seolah berkumur-kumur, “Sekalian kau antarkan Dear. Aku ada meeting pagi ini.” Seakan tak menerima penolakan, ia bangkit dari kursinya, mengancingi jas dan berlalu duluan.

“Kau sudah selesai? Biar Mom bereskan ini. Setelah itu kita berangkat.”

Dear mengangguk tanpa sepatah kata pun mencuat dari lisannya. Selagi mengamati punggung ibunya, sekepulan napas ia lempar ke udara.

Taksi, huh?

Satu respons untuk “A Barrel of Laughs

Tinggalkan komentar