Bagaimana bila aku melompat?
Gadis itu mencengkeram besi pada birai pembatas jembatan yang dingin sampai buku-buku jarinya memutih. Angin malam menggeleparkan surai-surai legam yang membingkai raut pucat-pasi.
Dia tidak merintih. Hanya matanya yang bengkak dan memerah, air matanya yang semakin menderas serta bahunya yang berguncang, yang menandakan dia menangis. Jalanan yang lengang di malam buta dengan sisa angin dingin bekas hujan, membuat kehadirannya tak terendus. Entah keberuntungan atau kesialan.
Kakinya gemetar. Pijakannya ringkih seolah akan goyah dalam satu sentilan. Satu kakinya terangkat, hendak memindahkan pijakan ke batangan besi yang lebih tinggi lagi, tapi dibatalkan. Ketinggian ini membuatnya ragu. Pahanya ngilu setiap kali dua matanya yang bengkak menancap pada aliran deras di bawah sana. Akankah laju air itu membawanya pada kematian yang ia inginkan? Atau justru ia akan hidup dalam kenyataan yang lebih menyakitkan karena cacat dan semakin merepotkan orang lain?
Namun, dia ingin mati. Satu-satunya keinginannya yang berpeluang untuk dikabulkan cuma mati. Walau peluang mati bersanding bersama hidup cacat selamanya.
Sebetulnya, dia masih punya keinginan lain. Dia ingin mengulang waktu, dan membenahi hidupnya sedari awal mula. Bila mampu, dia ingin mengulang masa jadi embrio dan bunuh diri dalam perut ibunya, biar tidak terlahir dan terjerat dalam hidup merana. Pernah ada mitos bahwa seorang janin dalam kandungan diberi gambaran hidup yang akan dijalaninya, sehingga dia setuju untuk menjadi manusia. Dia tidak tahu kisah itu fiksi ataukah nyata, tapi dia cukup yakin tiada seorang pun yang bisa memastikan kesahihannya, karena tiada yang busa mengingat peristiwa semasa dalam kandungan, atau bangkit dari kematian dan berkisah soal itu. Terlepas dari kebenarannya, gadis itu sering bertanya sendiri, apa sih yang diperlihatkan kepadanya sampai dia memilih terlahir? Padahal toh hidupnya macam kotoran busuk begini. Lebih baik selamanya jadi sperma dan sel telur. Atau jadi janin yang tergugur.
Deru angin kembali melibas rambutnya yang berantakan, membuatnya kian porak-poranda. Penampilannya sudah macam orang sinting. Oh, atau dia memang benar sudah sinting? Kakak iparnya pernah bilang dia sinting. Karena dalam semua pilihan yang diambilnya dalam hidup, tidak ada satu pun keberuntungan terselip. Semua langkah dan upayanya berakhir dengan satu predikat lengkap: manusia tidak berguna. Jangan lupakan imbuhan ‘yang sinting.’ Dia sendiri mengakui, karena baginya, dengan memutuskan untuk hidup dan lahir, dia memang sudah sinting.
Lantas kini, ketika dia telah stuck dan menemui jalan buntu, apa lagi yang perlu dia lakukan? Bila dia pulang, dia akan kembali pada pengulangan menyakitkan yang menyiksa. Dia akan kembali pada hidup sebagai orang yang tak berguna, dihujani tatapan kasihan, penghakiman, penghinaan, pencibiran bahkan dari keluarganya, dan mengecewakan banyak orang. Lalu tersiksa oleh rasa iri melihat kesuksesan teman-teman, sepupu, atau tetangga.
Tidak. Cukup sudah. Dia memang harus mati.
Dadanya naik-turun kala kakinya terangkat lagi. Kali ini, ia berhasil membawa tubuhnya naik setingkat lebih tinggi. Lalu setingkat lagi. Setingkat lagi. Memang benar bahwa memulai adalah tahapan paling sulit. Toh fase berikutnya dilalui dengan lebih licin. Sekarang, kedua kakinya berhasil memijaki batang besi paling tinggi, walau tangannya yang gemetaran masih mencengkeram besi yang sama.
Sekedip mata, tubuhnya oleng terhisap aliran sungai seratus dua puluh kaki di bawah sana memburam oleh genangan di matanya.
Bayangan wajah ayah dan ibunya yang renta tergambar dalam bias-bias visualisasi di pelupuk.
Mama …, Bapak. Maafkan Adek.
Dan pelan-pelan, genggaman tangan yang mencengkeram besi nan dingin itu terlepas. Kini tangisnya sudah bukan lagi isakan bisu, tapi rintihan yang menyayat kalbu.
Aku melompat.
Maka terjunlah gadis itu melawan gravitasi. Tubuhnya terasa ringan, seolah lepas dan terbebas dari segala beban duniawi.
Bunyi benda berat yang tercebur bersanding dengan jangkrik malam yang menempeli dinding-dinding jembatan. Orang-orang tidak tahu, karena mereka sibuk bermimpi dalam kurungan selimut tebal yang hangat. Mereka tidak tahu ada satu entitas yang memilih menyerah, dan tidak juga tahu kalau kepada entitas itu, Semesta tawarkan hal yang berbeda.
