Dua puluh tahun silam, rumah sederhana itu ramai oleh langkah kaki dan suara kehidupan.
Seperti disiram air dingin, aku megap-megap dan bangun terburu-buru dari tidurku yang lelap. Kenyataannya, yang menyiramiku bukan air, melainkan sebaskom kesadaran. Kepalaku rasanya berat dan nyut-nyutan seperti dihantam palu.
Setelah linglung sejenak dengan muka bantal, berusaha mengumpulkan informasi tentang siapa aku dan di mana aku kini, kuperoleh data bahwa aku masih manusia bernama Guntur yang dilanda amnesia dan vertigo sesaat gara-gara pengaruh alkohol semalam. Kutoleh kanan-kiri demi menangkap jam meja. Di mana, di mana jam mejaku–ah di san–HAH?! JAM SEMBILAN TIGA PULUH?!
“ANJING!”
Gerakan bangkitku sama buru-burunya dengan umpatan yang menyerocos keluar dari lisan. Peristiwa hari ini adalah potret kegoblokan hakiki paling paripurna yang kujalankan selama satu setengah tahun jadi mahasiswa. Kusambar handuk dari gantungan besi di kaki ranjang dan berderap keluar kamar dengan hanya berbalut celana bokser. Untungnya, tiada penghuni yang menggunakan kamar mandi sehingga aku bisa langsung ngeloyor ke dalamnya tanpa masuk daftar antri.
“EH, ANJING KUADRAT!”
Baru saja kututup pintu kamar mandi keras-keras, aku kembali memaki begitu sadar peralatan mandiku terlupakan. Maka aku pun keluar lagi demi masuk ke kamarku–yang untungnya berada di sebelah kamar mandi sehingga aku bisa mengirit waktu sekian detik untuk melangkah lebih jauh. Kutarik gayung berisi sabun, sikat gigi, pasta gigi, pisau cukur, dan sampo, lalu kembali ke kamar mandi. Bunyi yang tak kalah bikin terlonjak dari adegan pertama ketika daun pintu berbahan seng yang berkontak dengan liangnya pun kembali terdengar.
Memang anjing. Di saat aku punya jadwal kuliah jam sepuluh teng, aku baru siuman kurang dari satu jam sebelumnya. Waktu yang kupunya sekarang malah kurang dari setengah jam dan harus kumanfaatkan seefisien mungkin untuk mandi, berbusana, dan mencari angkot demi mencapai kampusku, lalu naik tangga ke kelas. Belum lagi usaha-usaha sampingan semacam menghindari cerukan jalan berisi air hujan semalam, atau mencegah diri supaya tidak terlepeset konyol karena lumpur yang menempel di dasar sepatu. Terkutuklah pertemuan dan hujan tadi malam yang memaksaku pulang jam dua pagi dalam kondisi separuh sadar dan tidur tak tahu diri.
Ritual mandiku cuma cebar-cebur dan gosok-gosok sekenanya, lalu keluar dengan berbalutkan handuk. Karena kebelingsatanku, pintu kamarku pun ikutan apes, terbanting begitu keras hingga aku yakin seisi penghuni kos bisa terbangun kalau masih teler. Semoga pemilik kos di sebelah tidak mendengar atau menyaksikannya. Jangan sampai aku didepak dan memecahkan rekor penghuni terkilat karena kasus pengrusakan pintu kamar dan kamar mandi.
Mendapatkan indekos yang dekat dengan kampus di tengah masa aktif kuliah itu salah satu keajaiban dunia. Gara-gara Andre–kawan sekamarku yang menyewa kontrakan bareng–mendadak nikah karena menghamili anak orang, aku pun harus ikhlas terdepak dan mencari hunian lain. Kos campur cewek-cowok ini adalah oase di padang pasirku yang tak boleh kusia-siakan. Walau kamar mandinya dipakai bersama, dapat kulihat penghuni kos ini cukup higienis sehingga kamar mandi tetap harum setiap saat, dan tiada tokai mengambang di kloset dengan semena-mena.
Prosedur berpakaianku pun tak kalah kilat dari mandi. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku sudah mengunci pintu kos dalam balutan kemeja biru tua, jins belel dan sepatu kets, berlari ngebut keluar gang. Kusetop angkot jurusan kampus yang lewat paling awal, dan dengan tidak tahu malunya meminta si supir untuk ngebut, yang dibalas dengan delikan sadis.
Akhirnya, tujuh menit kemudian, aku sampai di depan gerbang, turun berbarengan dengan beberapa penumpang lain. Setelah membayar, kupacu kembali kakiku berderap ke fakultasku, naik tangga, belok ke lorong jejeran kelasku, sambil menyusun alasan jitu yang bisa membuat Pak Septian luluh. Masalahnya, jatah bolosku untuk mata kuliah ini sudah tandas semua. Dan Pak Septian bukan tipe dosen yang toleran.
Sedang susah-payah mengatur napas di depan pintu, Albert dan Doni–dua koncoku–keluar dari kelas sambil ketawa-tawa. Membuatku melongo.
Kedua orang itu malah menepuk pundakku santai. “Baru datang kau, Gun? Pulang, pulang! Pak Septian kagak masuk! Bininya lahiran,” lapor Albert.
Aku melotot horor. Setelah semua ini …?
Doni yang menangkap ekspresiku terbahak. “Ya ampun kasihan sudah ngegas takut telat malah gagal kuliah,” ejeknya. “Yang lain sudah pada pulang. Kau nggak ketemu memangnya?”
Aku menggeleng dengan tampang bloon. Mungkin aku sempat berpapasan dengan teman-teman sekelasku yang lain, hanya saja kekalutan melahap fokusku sampai aku lupa diri.
“I feel you, brother.” Albert menyampirkan tangannya ke atas pundakku. “Cabut saja yuk, ngerokok di Milenium?”
Milenium, sebuah tempat nongkrong tenar yang menjual berbagai macam minuman adalah pilihan bagus membunuh waktu dalam kondisi normal. Sayangnya hari ini aku sedang tidak normal. Yang kubutuhkan cuma tidur lagi. Dengan santai kutolak, “Nggak. Aku kayaknya mau pulang terus tidur saja.”
Albert dan Doni saling berpandangan.
“Pulang? Ya ampun, macam anak perawan saja kau!” ejek Doni.
“Capek sekali aku, Bung, masih teler pula gara-gara semalam kau paksa ngebir,” dalihku.
Tanpa menunggui respons lagi, bergegas kulepaskan diri dari rangkulan mereka dan berlalu sambil berlagak menguap. Sebenarnya aku tidak mabuk-mabuk amat, aku cuma ingin tidur lagi. Menebus jatah tidurku yang terpangkas dan meredakan migrain di kepala belakang.
Sayangnya, setelah sampai ke kamar kosku kembali, rasa kantukku menghilang entah ke mana. Kulepaskan kemeja dan celana jins, membiarkan diriku dibaluti kaos putih bertuliskan ‘dagadu’ dan celana jersey sepakbola berwarna kuning neon. Sudah kucari-cari Si kantuk itu dengan memejamkan mata di atas kasur, bergulingan ke sana-kemari, tapi tak juga kutemukan. Sambil memaki, kuputuskan duduk di luar saja, di atas bak penampungan air depan kamar, sambil menikmati sebatang rokok.
Aku suka kos baruku yang terletak dalam gang kecil berlorong sempit yang cuma bisa dilewati dua motor sekaligus. Oleh warga, gang ini dinamakan gang Kesambi, karena ada dua pohon kesambi yang dipelihara. Pekarangannya nyaman, walau tata rumah di gang itu tak berseni. Ada empat rumah yang saling berhadapan, tiga di antaranya memiliki beberapa kamar indekos yang sungguh-sungguh memanfaatkan dengan baik sisa tanah yang tersedia, yang akan membuat mahasiswa teknik arsitektur dan tata kota menangis pilu.
Sejak awal datang mengecek lokasi ini, aku sudah jatuh hati pada suasana teduh karena banyak pohon rindang milik para pemilik rumah. Selain kesambi, ada pula mangga, cermai, kers, sukun, srikaya, dan pepaya, yang katanya kalau berbuah boleh dipetiki sesuka hati oleh anak-anak kos dalam gang itu. Kalau beruntung, bisa juga kulihat aneka pakaian dalam berwarna-warni menggelantung di tali jemuran yang malang melintang dan membuat mataku benderang.
Sedang asyik duduk sambil mengisap rokok, kulihat dari rumah milik Pak Ma’ruf–sebuah rumah yang berhadapan langsung dengan rumah pemilik kosku, dan memiliki permukaan lebih tinggi dari rumah lainnya–seorang anak perempuan keluar dari pintu, berpose di beranda bertegel biru yang seolah difungsikan bagai panggung. Sebotol bedak bayi digenggamnya di depan mulut, diposisikan sebagai microphone.
Suaranya lantang ketika berkata, “Selamat malam, Pemirsa. Mari kita sambut Laaa-laaa, yang akan menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur kalian!”
Aku tertawa kecil. Pertama, karena penampilannya yang lucu, masih mengenakan seragam taman kanak-kanaknya, dan rambut dikuncir dua. Kedua, kata ‘selamat malam’ yang dia gunakan. Kudongakkan kepala menatap langit. Walau gumpalan-gumpalan awan gelap bertengger di sana, orang buta juga tahu ini masih tengah hari.
“Halo, Semuanya. Aku Laaa-laaa, akan bernyanyi untuk menghibur Anda semua!”
Tahu-tahu, dia mulai bersenandung meniru gaya seorang diva ternama. Kaki dan tangannya turut bergerak seolah sedang berdeklamasi. Yang membuatku takjub, suaranya bagus. Stabil dan jernih dengan gelombang vibrasi di akhir alunan, yang membuatnya pantas jadi penyanyi cilik. Nada tingginya pun melengking rapi. Aku tidak tahu lagu apa yang dinyanyikan, hanya sempat kutangkap kalimat ‘mobil mewah yang mogok di jalan’ dan ‘si jago mogok’.
Hidungnya kembang-kempis bangga ketika aku bertepuk tangan setelah ia khatam bernyanyi. Mungkin dia baru sadar bahwa sedari tadi dia punya penonton untuk konser dadakannya. Dibalasnya apresiasiku dengan seulas senyum serta pose penghormatan; kaki disilang dan sebelah tangan mengembangkan tepi rompi oranyenya, yang membuatku kembali tertawa.
Ketika tatap mata kami beradu, kami sama-sama mengembangkan senyum. Tak kusangka, dia kemudian menuruni lima undakan tangga terasnya, berjalan pelan menghampiriku. Tanpa alas kaki. Mengabaikan eksistensi sepasang sandal orang dewasa di undakan tangga paling bawah.
Di tengah keterpakuanku, dia malah dengan entengnya duduk di sampingku, di atas bak penampungan air kos kami. Menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung karena tak cukup mencapai tanah.
“Halo,” ucapnya, membuatku mengerjap. Tangan mungilnya terulur ke depan, mengajak berkenalan. “Aku Lala. Aku baru melihat Paman di sini. Paman tinggal di sini, atau temannya yang tinggal di sini?”
Paman?
Ya Tuhan, usiaku baru dua puluh dua bulan yang lalu, dan bocah kecil ini memanggilku Paman? Aku ingin protes. Namun separuh hatiku menyentak keras. Hoy, sadar diri, kau memang pantas dipanggil begitu dengan kumis dan berewok di wajahmu.
Maka buru-buru kubuyarkan keberatanku dan menatapnya yang masih menanti uluran tangan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang bening.
“Hai, Lala.” Kusambut tangannya. “Aku Guntur. Senang bisa berkenalan denganmu.” Sementara tangan kiriku membuang puntung rokok yang masih panjang ke tanah, menggilasnya dengan sol sandal.
Tangan kecilnya hangat dan lembut. Aku sedikit terkesiap karena jabatannya mantap. Bukan jabatan malu-malu khas anak kecil lain. Bukan pula salim tangan karena dia tidak mencium tanganku. Kami berjabatan bagai dua orang dewasa dalam situasi formal.
“Jadi,” katanya ketika tangan kami tak lagi berpautan, “aku baru melihat Paman Guntur di sini. Paman orang baru, ya? Atau Paman ini teman Paman dan Kakak lainnya?” Dia mengulang pertanyaan yang tak sengaja kuabaikan tadi.
Aku mengangguk. “Iya. Aku ngekos di sini. Baru pindah Sabtu kemarin.”
Ditelitinya satu-satu pintu kamar kami. “Kamar yang mana?”
Di kosku ada empat kamar. Kamarku sebelumnya ditempati seorang pemuda yang baru saja wisuda bulan kemarin. “Yang itu.” Telunjukku terarah pada kamar paling pojok, dekat kamar mandi.
“Oh, kamar Paman Jaka. Aku baru ingat lagi kalau Paman Jaka sudah lulus kuliah.” Dia berkata seperti sedang menggumam. “Jadi Paman Guntur menggantikan Paman Jaka. Paman Guntur kuliah, ya?”
Aku tidak tahu kenapa aku malah cengengesan. “Iya. Kau teka di mana?”
Dia menunjukkan sulaman di bagian dada rompinya, “TK Karya Nanda. Aku cuma TK setahun, tiga bulan lagi aku jadi anak SD.”
Entah kenapa mengobrol dengan Lala terasa menarik. “Rencananya kau SD di mana?” Ketika aku tersadar kalau ada sekolah dasar yang dekat dengan kompleks kami, kutambahkan, “SD Singasari?”
“Yep. Yep.” Anggukan kepalanya membuat kucir duanya berayun. “Paman Guntur asalnya dari mana?”
“Dari Lombok. Kau tahu Lombok tidak?”
Dia mengangguk lagi. Namun, sekian detik berikutnya, keningnya berkerut. “Lombok? Yang pedas itu? Kok dari sana?”
Tak bisa kutahan diriku untuk tak tergelak. “Bukan lombok cabai…, ” jelasku di sela tawa. “Tapi Lombok, nama kota di NTB. Nanti kalau sudah SD, kamu akan belajar daerah di Indonesia, nah kamu akan tahu.” Tepat ketika kuakhiri penjelasanku, Dian, teman di kamar sebelahku muncul dari lorong dengan busana rapi. Baru pulang kuliah sepertinya.
“Oh, begitu. Nanti aku belajar lagi, deh!” Kepalanya bergerak menyambut Dian. “Halo, Kak Dian! Baru pulang kuliah, ya?” Suara Lala menyapa Dian dengan ceria.
Cewek itu tersenyum lebar, lalu menghampiri Lala dan mengusap rambutnya. Kepadaku, kami bertukar sapa lewat alis. “Iya nih, La. Lala juga pasti baru pulang sekolah. Pasti belum makan juga. Ganti baju dulu sana!”
Lala terkekeh. Sementara aku masih bingung dengan Lala yang kayaknya bisa akrab dengan siapa saja, seseorang dari pintu rumah Lala keluar dan menyerukan namanya.
“Lala! Ayo, makan dulu!” Sepertinya itu nenek–atau ibunya. Wanita itu berdaster dan berambut separuh uban.
Lala pun melompat turun dengan gesit. Diraihnya botol bedak yang semula diletakkan di sisi tubuhnya. “Iya, Ma!” Sebelum berlari masuk, dia menatap aku dan Dian yang tersenyum sopan pada ibunya. “Aku makan dulu, ya. Nanti kita ngobrol lagi. Kak Dian dan Paman Guntur jangan lupa makan juga.”
Kuamati Lala yang akhirnya mengenakan sandal besar karena diomeli, lalu mencuci kakinya dengan air dari dalam drum di samping terasnya, mengelap kakinya di keset, dan masuk ke dalam rumahnya sambil berceloteh.
“Kok kau dipanggil Kakak tapi aku dipanggil Paman, sih?” tanyaku pada Dian yang baru bergerak membuka kunci pintunya. “Kan aku lebih muda.”
Dian terkikik. “Mungkin mukamu boros? Semua cowok emang dipanggil Paman kok sama dia.”
Aku masih tidak terima. Sepertinya ide memangkas kumis dan jambangku bisa membuatku lepas dari kesan tua kali, ya?
Sore itu juga, ketika mandi, aku bercukur. Kumis dan rambut-rambut di wajahku luruh tersapu aliran air dan hanyut ke lubang pembuangan. Kutatap wajah polosku di cermin.
Sebenarnya aku bercukur bukan cuma karena Lala, sih, walau itu memang salah satu pendorongnya. Selama ini kupertahankan berewokku karena permintaan Reva, pacarku yang baru putus hubungan denganku sebulan lalu. Dia pengin aku kelihatan macho, dan cowok macho menurutnya adalah cowok dengan wajah dipenuhi rambut. Berhubung sudah putus, kupikir tak ada salahnya aku bercukur. Hitung-hitung buang sial. Siapa tahu dapat cewek baru.
Sayangnya, kematian rambut-rambut wajahku tetap tak menjadikanku lebih muda di mata Lala. Malam itu, sekitar pukul tujuh, ketika aku sedang duduk sendirian sepulang menengok Andre dan istrinya di kontrakan, Lala memanggilku sambil menggenggam satu pak kartu.
Katanya, “Paman Gun, mau main kartu nggak?”
Aku tersenyum pasrah sambil pindah ke serambinya. Ya sudahlah. Paman juga oke. “Main bareng kau saja, La? Kalau main berdua kurang seru.” Kuhempaskan pantat ke terasnya yang dingin.
“Oh, iya. Paman tunggu di sini, ya.” Tubuh kecilnya pun menghilang di balik tirai ruang tamu. Entah apa yang dilakukannya tapi kudengar suara-suara kecil sejenak, lalu ia pun keluar dengan semringah, menghela tangan seorang abangnya yang kukenal sebagai abang Firdaus. “Katanya Abang Fir bisa main. Ayo, ayo, silakan duduk.”
Abang Fir pun terlihat pasrah. Menuruti keinginan adik bungsunya sambil mengobrol denganku. Lala mempersilakan abangnya untuk mengocok kartu, lalu dibagi-bagikan ke tiga pemain. Di putaran pertama, aku dan abang Fir bermain dengan santai, sementara Lala cuma membanting-banting kartu.
Sebenarnya, dalam hatiku aku kembali berkeberatan dengan panggilan Lala karena Abang Fir lebih tua tiga tahun daripada aku, namun dipanggil ‘Abang’ tapi aku malah dapat ‘Paman. Tapi …, ya sudahlah.
Di putaran kedua, permainan kami berlangsung seru. Lala memilih untuk tak ikut bermain dan cuma jadi penonton. Namun itu cuma sementara. Selagi kami bermain, Ridwan, anak kos sebelah yang kebetulan lewat dicegat oleh Lala.
“Halo, Paman Ridwan? Dari mana mau ke manakah?” teriaknya dari undakan tangga. Bisa kupastikan Ridwan mau menyemburkan tawa gemasnya.
“Dari kios nih, La. Habis beli rokok, sama permen.” Ridwan beringsut mendekat. “Lala mau permen?” tawarnya sembari menyodorkan kantung plastik berisi belanjaannya.
Lala melongok dengan gembira. “Wah, terima kasih.” Kulihat dia merogoh ke dalam kantung plastik untuk memungut beberapa permen. “Paman mau duduk di sini dan bermain kartu? Ayo!” ajaknya semena-mena yang membuat aku dan abang Fir tertawa.
“Sudah diajak Lala, nggak bisa kau kabur, Bung!” kata abang Fir. “Yuk. Gabung, sini.”
Bergabunglah Ridwan dengan kami di putaran selanjutnya. Selagi kami bermain sambil mengobrol seru, Lala yang menolak diajak tidur dini mondar-mandir beberapa kali, entah berbuat apa. Tahu-tahu, ketika kami saling menyoraki Abang Fir yang kalah kali ini, anak kecil itu datang lagi, membawa beberapa jepitan pakaian berbahan plastik, dan berkata, “Yang kalah, kupingnya harus dijepit pakai ini!”
Malam itu kemudian jadi sejarah awal anak kos berkumpul di teras rumahnya, main kartu, ngopi-ngopi, dan sesekali menimpali celotehan Lala yang beralasan melihat bintang atau memberi makan ikan nila di kolam kecil depan rumahnya. Teras rumah Pak Ma’ruf, seolah jadi basecamp nggak resmi kami.
Walau kami ribut, Pak Ma’ruf tidak mempermasalahkannya. Malah sesekali laki-laki yang sudah masa pensiun itu melongok keluar dan senyum-senyum melihat kami. Terkadang, Bu Ma’ruf mengeluarkan bercangkir-cangkir kopi, sepiring sukun rebus atau pisang goreng untuk kami santap sambil bercengkrama.
Mungkin mereka bahagia melihat keramaian yang berlangsung di rumah mereka.
Dan itu semua berawal dari ajakan remeh anak bungsu mereka.
