Melalui gadis kecil itulah kutemukan cinta.
Aku melangkah keluar dari kantor pos dengan wajah semringah.
Sudah kukantongi dua amplop tebal berisi uang yang nominalnya lebih dari cukup untuk hidup selama enam bulan. Uang kiriman Mama dan Papa dari Mataram, dan uang beasiswa yang kuusahakan bersama beberapa teman selama dua minggu terakhir ini. Setidaknya, keputusan untuk tidak pulang kampung libur semester ini berbuah manis dan menggiurkan.
Sepertinya, setelah menyisihkan biaya wajib seperti iuran semester ini dan semester depan serta tambahan KRS dan biaya kos, aku masih bisa berfoya-foya. Kucatat agenda di kepala untuk mampir ke bank demi menyimpan sebagian di tabungan. Lumayan, ini seperti hujan berkah bagi saldo yang sedang sekarat karena kehausan menanti kucuran dana.
Kulangkahkan kaki melalui jalanan yang dipenuhi pusat pertokoaan. Di akhir pekan begini, pusat perbelanjaan memang selalu ramai. Musik-musik membahana dari deret-deret toko. Di pedestrian pun banyak kaki lima menjajakan aksesoris murah meriah seperti arloji, kacamata, atau pernak-pernik wanita yang beragam jenisnya.
Melihat aksesoris warna-warni di atas koper yang terbuka pada salah satu penjaja, aku jadi teringat pada Lala. Menurutku, aksesoris itu pasti bakalan manis kalau dipasang di rambutnya yang lurus dan tebal.
Maklum, berhubung aku anak bungsu, tak pernah kurasakan sensasi punya adik perempuan. Abangku juga belum menikah, jadi aku juga belum merasakan punya keponakan. Rumahku sepi bagai kuburan. Makanya, mendapatkan kondisi tempat tinggal yang ramai dan dipenuhi celoteh bocah bernama Lala yang sepertinya jadi primadona semua anak kos, adalah anugerah terindah yang harus kumanfaatkan dan kuabadikan.
“Mas.” Kutepuk pundak si penjaga yang ternyata ketiduran sambil menopang wajahnya dengan tangan. Dia tersentak kaget, tangannya lunglai dan dagunya jatuh membentur koper barang jualannya. Aku meringis. Untuk tak ada yang sampai jatuh ke trotoar. Baik barang jualannya, maupun dirinya sendiri.
Buru-buru aku meminta maaf sebelum disembur. “Duh, maaf, Mas. Anu … saya mau beli.”
Wajah ngantuk serta murkanya musnah tergantikan binaran mata. Membuatku sangsi kalau dia pernah tidur semenit sebelumnya. “Ayo, Mas. Silakan. Dipilih, dipilih. Buat adiknya, anaknya, pacarnya?”
“Keponakan,” jawabku cengengesan.
“Hoo … keponakan. Yuk, Mas mau yang mana?”
Bola mataku bergulir, memilah-milih benda yang sekiranya cocok dipasangkan di rambut Lala. Ada karet rambut kecil-kecil yang dari plastik elastis berwarna-warni, ada yang dari kain, ada pula jepit-jepit kecil yang dijual perlusin. Aku meneliti semuanya. “Yang beginian berapaan, Mas?”
“Itu semuanya selusin lima-lima ribu saja, Mas. Jadi kalau Mas beli tiga, lima belas ribu,” jawabnya semringah.
Kuambil ketiga-tiganya. “Ya udah, Mas. Saya ambil tiga ini, ya.”
Selepas membayar belanjaanku dan memasukkannya ke dalam ransel yang dijejali dua gepok uang, buku-buku kuliah dan buku sketsa, aku kembali menyusuri pedestrian kawasan pertokoan itu. Sampai di depan sebuah toko alat musik, aku tertegun.
Sudah sekian lama aku tidak bermain gitar. Terakhir kali kusentuh gitar dua tahun yang lalu, saat masih punya minat membentuk band. Sayangnya, kami keburu lulus dan berpencar ke seluruh pelosok nusantara. Lepas dari sana pun, gitar kujual ke sepupuku.
Menuruti instingku, kumasuki toko itu. Alunan musik instrumen yang diputar memaksa kakiku berjalan lebih lambat, sembari melihat-lihat jejeran gitar yang dipamerkan di sana.
“Mau beli gitar, Mas?”
Aku terkesiap kala seorang pramuniaga menghampiri. “Eh–errr … Saya lihat-lihat dulu deh, Mbak. Belum tahu mau beli atau nggak.”
Ia mengangguk sopan, membiarkan aku menjelajah sendirian. Sebuah gagasan antik terbetik di benakku. Asyik kali ya, kalau aku membeli gitar ini terus memainkannya di kos? Mumpung aku tak punya kegiatan lain selain kuliah dan nongkrong, sepertinya gitar cukup mantap untuk menghibur diri.
Apalagi ada Lala. Bocah yang sekarang sudah kelas satu SD itu sering sekali nongkrong di kamar Dian untuk karoke bareng dengan VCD Dian. Dia bisa bernyanyi dan aku bisa mengiringinya.
Kuseriusi gagasan itu. Kepalaku mendongak, mencari-cari keberadaan pramuniaga tadi, dan mengangkat tangan sebagai tanda butuh bantuannya.
“Ya, Mas. Ada yang bisa kami bantu?”
Sepasang mataku menjarah sebuah gitar cokelat tua bermerk Yamasa di dalam etalase kaca. “Yang itu bisa dikeluarin?”
Pramuniaga itu mengangguk. “Oh, bisa. Sebentar ya, Mas.” Dia berjalan ke baliknya, membuka boks kaca itu, mengeluarkan gitar yang kuminati dengan hati-hati dan menyodorkannya padaku.
Aku meraihnya. Kucoba memetiki senarnya satu per satu. Lalu mengenjrengnya pelan-pelan. Bunyinya saja sudah enak, nih. Senarnya pun kayaknya tak ada masalah. Tinggal di-stem.
Kuteliti permukaan bodi gitar itu lekat-lekat, mencari kecacatan.
“Yang beginian berapaan, Mbak?”
“Itu …,” Si mbak Pramuniaga menengoki label yang rupanya tergantung di ujung gagang gitar. “Seratus dua puluh ribu, Mas.”
Kucoba menawar. “Seratus nggak bisa, Mbak?”
“Wah, nggak bisa, Mas. Nggak dapat kami kalau seratus.”
Aku masih kekeuh menawar. “Seratus lima?”
Si mbak Pramuniaga menimbang-nimbang. “Seratus sepuluh, deh.”
“Oke! Deal.” Kutancap. Lumayan kan sepuluh ribunya buat ongkos pulang, beli rokok, dan cari makan. Aku beringsut ke kasir, membayar barang belanjaanku. Dengan menuruti intuisikulah, maka hari itu, aku pulang membawa satu unit gitar pelipur hati.
Aku pulang dengan angkot setelah mampir ke toko lain membeli beberapa peralatan yang kuperlukan, seperti celana jins baru, jaket, dan topi. Kutunda keinginanku untuk mampir ke bank. Hari sudah terlalu siang. Perutku sudah merintih pula.
Lambungku belum tersentuh nasi sejak pagi. Bayangan nasi padang dekat kampus membuat perutku semakin keroncongan.
Di depan kampusku, kuhentikan laju angkot, lantas turun untuk masuk ke warung nasi padang yang sering kusambangi di awal bulan setelah menerima kiriman. Pandangaku mengitari sekeliling.
Jam-jam lapar. Ramai. Penuh. Kulirik arloji. Pukul satu lewat sedikit, masih masa istirahat orang kantoran. Alangkah lebih baik ku take-out saja dan makan di kamar. Aku pun buru-buru memesan seporsi nasi padang dengan lauk rendang dan sepotong ayam, lalu pulang begitu kudapat apa yang kuinginkan.
Dengan bawaan sebuah ransel, gitar, dan beberapa kantung plastik, aku sudah mirip orang mau pulang kampung. Kusetop angkot dan kubawa diriku ke kos.
Di mulut gang, terlihat beberapa anak kos sedang berkumpul. Tumben. Aku turun dari angkot dan langsung dicegat abang Firdaus yang tampak cemas.
“Gun, si Lala nggak sama kau?”
Aku mengerjap. Cengo. Kulihat tatap-tatap mata semua orang tertuju padaku, menunggu jawaban penuh harap. Dari sini bisa kusimpulkan kasus ini melibatkan Lala. “Enggak, Bang. Lala hilang?”
Ekspresi Firdaus semakin pucat. “Ya ampun, di masa sih ini anak?! Kau tahu nggak kira-kira dia di mana? Belum pulang dia sejak sekolah tadi.”
Kecemasan itu merayap. Gawat ini. Jam pulang sekolah Lala sudah lewat hampir empat jam. “Sudah coba ke teman-temannya atau ke kos-kos sekitar, Bang?”
“Sudah. Kawannya semua bilang nggak tahu. Semua anak kos juga lagi mencar cari dia ke rumah kawannya yang lain. Siapa tahu ikut pulang ke rumah kawannya tapi lupa kasih kabar.”
Dengan begini saja, alarm bahayaku mendengking keras. Aku pun bergegas pamit sama Bang Firdaus untuk mampir ke kos menaruh barang-barangku dulu, sebelum ikut bergerak mencari Lala.
Anak itu jarang kelayapan, setahuku. Tempat favoritnya cuma di rumahnya, rumah sepupunya yang sepantaran yang berada di dalam gang kami, kos-kos di dalam gang, atau pohon-pohon dalam gang. Dia suka meminta bantuan anak-anak kos memetiki buah kers lalu dimasukkan ke dalam gelas air mineral bekas untuk dimakan bersama di teras rumahnya sambil berceloteh seputar peristiwa di sekolah hari itu. Atau buah srikaya yang sudah ranum. Dia suka mampir ke kos-kos untuk melihat anak kos memasak. Dia suka masuk ke kos Dian untuk berkaroke ria.
Singkatnya, dia suka kebersamaan dengan anak-anak kos di dalam gang kami. Mungkin, jarak paling jauh yang bisa ditempuhinya hanya rumah teman-temannya yang berada di sekitar sekolah.
Di dalam gang, ada ebih banyak lagi orang berkumpul. Bu Ma’ruf duduk di depan teras, terlihat kalut. Pak Ma’ruf yang sudah sangat tua–sehingga awalnya kukira kakek Lala padahal sebetulnya ayahnya–berdiri di depan pintu seperti patung dengan wajah pucat. Anak-anak kos berkumpul di teras rumah mereka dan mengular sampai ke bak penampungan kos kami.
Buru-buru kubuka pintu kamar. Kugeletakkan semua barang bawaanku di lantai begitu saja, tak peduli belum makan, atau ada uang sekian juta rupiah di dalam ransel hitamku, dan langsung menguncinya kembali. Kuhampiri kerumunan di depan rumah Pak Ma’ruf.
Suasana cukup ribut oleh berbagai macam dugaan yang tercetus dari mulut-mulut tetangga dan anak kos. Suaranya berdengung bagai lebah atau lalat. Sebagian mengusulkan lapor polisi, tapi katanya laporan kurang dari dua puluh empat jam nggak akan diusut.
Aku duduk di samping Dian yang termangu dengan tampang cemas di tangga.
“Apa jangan-jangan Lala tersesat ya, Di? Di kosan kompleks lain, gitu?” cetusku ngaco. Rasa lapar membuyarkan semua kefokusan yang tersisa. Harusnya kusantap saja nasi padangku, tapi mana bisa aku makan dengan tenang sebelum Lala pulang.
“Mana mungkin? Memangnya dia nggak tahu jalan? Dia kan sudah bisa pulang sendi–eh!” Mata Dian tiba-tiba melebar, seolah mendapat ilham. “Jangan-jangan dia pergi ke kosan baru mantan anak kos sini?” serunya.
Dengan begini saja semua mata tertuju pada kami. Aku pun sama antusiasnya.
“Ada nggak mantan anak kos sini gang sini yang dulu akrab sama Lala? Coba kita tanyain satu per satu,” usulku. Berhubung aku baru pindah ke sini tiga bulan yang lalu, aku jelas tak tahu-menahu soal mantan anak kos sini.
“Ada, Mas Yudha, Raina, sama Ilham. Mas Yudha sih sudah lulus dan pulang kampung. Mas Ilham mungkin, atau Raina.”
“Mas Ilham ngekos di Cempaka, kalau Raina di Bugenvil.”
Berbagai usulan kembali terdengar seperti dengung lalat dan lebah.
“Oke,” putusku cepat. Tak tahan dengan lebah-lebah dan lalat-lalat yang berkitaran dan membuatku makin pusing. “Pinjam motor siapa deh gitu, biar aku berangkat.” Baru saja kalimatku tercetus keluar, Anya, si anak kos tiga kamar dariku yang tinggal bareng suaminya dan lagi hamil besar sudah melemparkan kunci Supra-nya.
“Pakai motorku, Gun. Aku nggak bisa bergerak. Cuma bisa bantu kendaraan,” bisiknya di telingaku.
Kusambut dengan mantap, “Oke.”
Keterbatasan kendaraan dan alat komunikasi membuat kami kelimpungan. Jangan samakan zaman itu dengan dua dekade yang akan datang. Lepas dari krisis moneter, negeri ini memang mulai bangkit perlahan-lahan. Sayangnya, dalam komunikasi dan ekonomi, kita masih sangat purba. Cuma ada telepon koin atau wartel. Yang punya telepon rumah atau ponsel kebanyakan cuma orang gedongan. Yang punya motor juga cuma orang kantoran. Di kosan gang kami, cuma ada dua rumah dan tiga anak kos yang memiiki kendaraan, salah satunya ya milik Anya.
Jadilah aku berangkat ke kos di kompleks sebelah demi mencari Lala. Berhubung kos Bugenvil lebih dekat daripada Cempaka, aku pun melajukan motor ke sana sambil berharap-harap cemas dan berdoa, semoga Lala bisa kutemukan.
Berbeda dengan kos di kompleks kami yang campur-baur, kos Bugenvil adalah indekos khusus cewek dan agak eksklusif. Peraturannya ketat separuh mampus. Ketika kuparkirkan motor di depan pagar yang gerbangnya tertutup, seorang ibu melongok dari dalam kios yang menghadap jalanan. Dapat kusimpulkan kalau itu ibu kosnya atau orang yang diandalkan untuk menjaga keamanan kos Bugenvil. Bagaimana pun, kusarankan untu tidak pernah meremehkan kekuatan ibu-ibu, apalagi ibu-ibu bawel.
“Cari siapa, Mas?”
Aku melongo. Haruskah untuk bertamu saja pakai didata? Sudah persis resepsionis di apartemen mewah.
“Ada Rania, Bu?”
Si ibu menurunkan kacamata berantainya, menelisikku lekat-lekat dari balik mesin jahit. “Raina maksudmu?”
“Ah iya, itu … Raina.” Aku mengesah. Sungguh, aku tak peduli nama orang yang kucari ini Raina, Rania, Riana atau Roni sekalipun. Yang kuperlukan cuma informasi keberadaan Lala. Titik.
“Kalau Raina, ada. Kalau Rania, nggak ada.”
Aku mengangguk-angguk gusar. “Iya, Rania … eh Raina.”
“Temennya Raina?” Sepasang mata kecil itu kembali menelitiku seperti kucing mengendus incarannya.
“Iya, temennya Raina,” jawabku, mungkin terdengar culas atau putus asa, sehingga sang ibu menjawab,
“Ya sudah.”
Aku melongo seperti sapi ompong di depan pagar yang tertutup, menyaksikan si ibu yang sedari tadi duduk di balik mesin jahit dalam kiosnya bangkit lalu beranjak masuk. Ingin sekali aku berteriak, ‘Bu–oy, Ibu! Ini gimana jadinya?’
Namun, aku bersyukur hal itu tidak jadi kulakukan. Selang semenit kemudian, si ibu kembali, bersama seorang cewek berambut lurus panjang seperti model iklan sampo, dan berkulit putih yang kuduga si Raina-Rania siapalah itu. Dalam balutan kaos over-sized dan celana jins sepaha, kakinya kelihatan begitu jenjang.
Dan mulus.
Eh, anjing.
Sepintas ia mengerutkan dahinya. Mungkin merasa asing karena tidak pernah mengenalku atau melihatku. Syukurlah, ibu pemilik kos kembali menggeluti jahitannya, walau ekor matanya masih belum tanggal dari interaksi aku dan Raina.
Yang cantik.
“Maaf, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”
Detik itu juga, alarm di kepalaku kembali mendengking, mengembalikanku ke kewarasan yang seharusnya dan mengingatkanku akan tujuanku datang ke mari. Fokus, Gun. Kau sedang ditunggu. Misimu kemari adalah mencari Lala yang hilang.
Kuusap daguku sekilas, bermaksud meraba apakah aku ngeces atau tidak. Syukurnya, tidak.
“Mbak Raina, ya? Mbak kenal Lala? Mbak tahu Lala ada di mana sekarang? Atau Lala ada sama Mbak?” cerocosanku keluar seperti asap dari lokomotif kereta api. Berentet seolah sudah ditahan-tahan sejak tadi.
Mendengarnya, ekspresi Raina melunak sejenak. “Oh, Lala.” Namun berikutnya, kerut kembali mencuat di dahinya, dan wajahnya kembali dalam mode judes. “Mas ini siapa, ya?”
“Saya–”
“Paman Guuun!!!”
Penjelasanku tak sempat komplit karena keburu disambar oleh seruan suara yang kukenali, disusul derap langkah kakinya yang menghampiri kami. Di situlah Lala muncul, dengan mata bengkak dan agak sembab, entah karena menangis atau baru bangun tidur, dan rambutnya sedikit berantakan. Yang kutahu, kakiku lemas karena lega dan desahanku terlempar seiring tubuhku yang luruh berjongkok di luar pagar.
“Astaga, Ya Gusti ….” Kuusap wajahku lega. “Lala! Kenapa nggak langsung pulang? Semua orang nyariin kamu, tahu!” seruku tertahan, antara lega, marah, dan–entahlah. Perasaanku terlalu komplikatif.
Raut wajah Lala terlihat bersalah. “Maaf, tadi aku ketemu sama Kak Raina, terus minta main ke kosannya, soalnya kangen. Tahu-tahu aku ketiduran. Maaf ya, Paman.”
Sekali lagi, kuhela napas lega. Melihat ekspresinya, aku mengembangkan senyum menenangkan. Astaga, kepengin banget mengacak-acak rambutnya, tapi terhalang pagar yang masih angkuh menutup diri.
“Jadi Mas ini Paman Gun-mu, La?”
Oh, aku lupa bahwa ada sosok bidad–maksudku, sosok lain yang berdiri di sisi Lala dan dengan alis terangkat sangsi memintaku mengenalkan diri. Buru-buru kutegapkan tubuh kembali.
“Iya,” jawab Lala sambil mengangguk. “Perkenalkan, Paman Gun, ini Kak Raina, salah satu sahabatku. Dan Kak Raina, ini Paman Guntur, salah satu sahabatku juga.”
Aku dan Raina saling beradu pandang dengan senyum canggung. Dan di saat itulah baru kusadari eksistensi setitik tahi lalat kecil di sudut atas bibirnya.
Manis.
Eh? APAAN, GUN? APAAN?
“Paman Gun datang untuk jemput aku, ya? Aku ambil tas dulu, deh.” Lala beranjak kembali ke kamar Raina. Beberapa detik kemudian, Raina yang kembali menelisikku penuh kecurigaan pun ikut menyusul setelah berucap lirih, “Tunggu sebentar.”
Dan aku kembali ditinggal, sendirian, seperti orang bego, di depan pagar yang masih tertutup.
Kuhela napasku dalam-dalam dan mengembuskannya lambat. Menekan perasaan lega yang menyeruak di dalam jantungku seperti kabut asap dalam ruangan. Namun tetap saja, debaran yang tak menentu itu terus ada. Kuputuskan duduk di atas motor daripada berdiri bengong macam orang minta sumbangan.
Sekitar lima menit berikutnya, Lala muncul dengan rambut yang kembali terkucir rapi dan muka yang kelihatan segar setelah dibilas dan dipakaikan bedak, bersama Raina yang juga tampak rapi. Rambutnya diikat tinggi, dan jaket denim sepanjang paha melapisi bajunya yang tadi. Celananya sudah berganti jadi celanya jins panjang yang membuatku tak bisa melihat betis dan pahanya lagi.
Belum sempat aku bertanya, Raina sudah kadung menyerbu. “Aku masih belum percaya sama kau, jadi aku juga harus ikut.”
Aku mengerjap.
“Paman Gun, Kak Raina ikut, ya.” Kali ini Lala yang memohon dengan kedua bola matanya yang berbinar.
“Uh.” Tenggorokanku tercekat. “Ng …, Oke.”
Raina mampir ke kios sebentar, menghampiri ibu kosnya yang masih menelitiku dengan tatapan mengawasi, mungkin menjelaskan situasi. Hingga akhirnya, gerbang angkuh itu pun dibuka. Sungguh sial karena ia baru dibuka ketika aku akan hengkang, dan cuma dibuka untuk Raina dan Lala yang keluar dari sana.
Kunyalakan Supra milik Anya dan menunggu sampai Lala duduk di tengah, memeluk pinggangku, dan disusul oleh Raina di belakangnya. Dadaku berdebar seperti bakal meledak.
“Sudah?”
“Sudah.” Jawaban itu terlepas dari mulut keduanya. Kupencet bel pertanda pamit kepada ibu kos Raina yang culas dan curigaan itu, dan membawa motor beranjak dari sana.
“Ya ampun, Lala. Semua orang pada nyariin kamu, lho,” jelasku mengulang kata-kataku tadi, membuka suara di tengah perjalanan kami.
Terdengar kekehan lemas anak itu.
“Maaf ya, Kak.” Cuma itu yang dikatakannya. Membuatku merasa nggak keruan. Aku lega, tapi kepingin marah. Juga kesal karena sudah cemas. Aku senang karena sudah menemukan Lala dalam kondisi tidak kurang satu apa pun, namun juga merasa bersalah pada keluarga Lala yang sudah kalang-kabut mencarinya. Dan aku–
Kruyuuuuk
–lapar.
Eh, anjing.
Pasti kedengaran. Pasti! Tapi sampai kami tiba di depan gang dan berpapasan dengan semua orang yang mendengus napas lega dan mengucap syukur karena aku menemukan Lala, dua orang di belakangku tetap bungkam seribu bahasa dan tak mengungkit-ngungkit tentang bunyi perutku yang memalukan.
“LALAAA!” Semua orang menyambut kedatangan Lala dengan kelegaan serupa setelah Raina dan Lala turun dari motor dan naik ke atas teras rumah Pak Ma’ruf. Bu Ma’ruf langsung memeluk Lala erat-erat.
Ketika Raina mengucapkan salam, akhirnya kutahu, kesertaannya ke sini bukan karena dia curiga padaku, melainkan dia mau menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi tadi secara langsung kepada semua orang yang sudah cemas mencari Lala.
Seperti yang Lala ceritakan, di sekolah, dia bertemu dengan Raina, yang sedang menjalani masa PPL di SMP Singasari yang satu kawasan dengan SD-nya. Dulu, Raina pernah tinggal di salah satu kos di gang kami dan sangat akrab dengan Lala. Maka dari itulah Lala memutuskan mengikuti Raina ke kosnya. Kesalahan Raina adalah dia tak meminta izin terlebih dahulu pada orangtua Lala, dan langsung membawa anak itu pergi. Di sana, Lala malah ketiduran karena lelah, dan Raina tak tega membangunkan gadis cilik itu. Begitulah kisahnya sampai Lala terbangun karena ketukan pintu ibu kos yang mengabari kedatanganku.
Setelah suasana chaos agak mereda, kerumunan itu pun bubar. Menyisakan aku dan beberapa orang lain di sana. Lala berkali-kali bilang, “Jangan salahkan Kak Raina, aku yang salah,” lalu meminta maaf dan berterima kasih kepada semua orang yang sudah kalang-kabut mencarinya, tapi Bu Ma’ruf cuma mengangguk-angguk sekenanya. Kuyakin dia masih menganggap Raina salah dan belum sepenuhnya memaafkan. Sampai ketika Bang Firdaus datang dan menenangkan ibunya, barulah Bu Ma’ruf dan Pak Ma’ruf beranjak masuk setelah berterima kasih padaku, tentunya. Lala pun ikut masuk setelah membisikkan sesuatu pada Raina.
Sepeninggal keluarga Ma’ruf dan beberapa tetangga yang ikut masuk ke kediaman mereka entah untuk apa, teras rumah Lala hanya didiami aku, Dian, Friska dan Raina. Dian dan Friska sepertinya bertukar kabar dengan Raina sejenak.
Tiada gunanya aku mengusik obrolan cewek-cewek. Aku hijrah ke bak penampungan kosku, duduk menunggu di sana sampai semua urusan mereka rampung. Bagaimana pun, aku masih punya tanggung jawab untuk mengantar balik Raina, lalu mengembalikan kunci motor ke si empunya di kos sebelah. Dalam diam, kunyalakan sebatang rokok sambil memandangi langit yang biru cerah.
Hampir dua puluh menit kemudian, kutangkpa kerumunan trio itu bubar. Dian menghampiriku sambil mengedipkan mata dan tersenyum penuh arti yang tak kupahami apa artinya, sebelum bergumam kalau dia ada kelas sore dan masuk kamar, lalu keluar lagi untuk menelusup ke kamar mandi–melewatiku–sambil berdeham.
Kutatap kepergiannya sambil mengerutkan dahi dan hidung, risi. “Apaan sih?”
Jarum di arloji menunjukkan jam tiga lewat lima menit ketika suara azan berkumandang dari masjid kompleks. Mataku menangkap Raina yang berniat pergi seusai cipika-cipiki dengan Friska yang melambai padaku sebelum kembali ke kosnya. Tergesa aku berdiri, mengejar Raina, menahan tangannya.
“Mau ke mana?”
Dia menatapku heran. “Pulang lah.”
Kulemparkan rokokku yang masih setengah hisap ke tanah dan menggilasnya. “Aku antar.”
“Nggak usah, aku bisa–”
“Aku nggak menerima penolakan. Aku antar,” tegasku.
Raina menyerah. Sepertinya dia juga sedang lelah dan kepikiran akan masalah Lala tadi sehingga tak punya pilihan selain diam dan menungguku menyalakan motor Anya.
Dia naik. Tak ada tangan yang memeluk pinggangku, tapi punggungku terasa begitu tegang. Aku gugup, namun di satu sisi aku kerasan. Jantungku mulai berulah, tapi aku nyaman.
“Sudah?”
Jawaban lirihnya terdengar. “Iya.”
Perjalanan itu perjalanan bisu, tiada satu pun percakapan yang berlangsung di antara kami Kubiarkan ia larut dalam pikirannya, dan ia pun seperti membiarkanku larut dalam lamunanku dan upaya untuk menenangkan debaran jantungku yang norak. Sampai akhirnya roda-roda motor berhenti di depan pagar, dia turun.
“Makasih sudah mengantar walau aku nggak minta,” katanya sengau.
Dia hendak berbalik tapi kusadari dia menghindari tatapanku. Kuhela tangannya lembut, dan aku tertegun.
Mata Raina sembab. Dia menangis tadi. Dan dia tetap menghindari tatapanku, lebih memilih menatapi aspal dan kaki-kaki kami.
“Kesalahanmu cuma nggak minta izin. Nggak perlu terlalu dipikirkan, okay?”
Dia melirikku lewat bulu matanya. Lalu mengangguk-angguk pelan. “Aku lebih suka dijelaskan seperti itu daripada dibilang aku nggak salah apa-apa, padahal aku tahu aku salah.”
Aku tersenyum. Menunggu, sebab dia kelihatannya masih mau bilang sesuatu lagi.
Tapi rupanya, yang dia bilang berikutnya cuma, “Aku masuk dulu.”
Kali ini, giliran aku yang mengangguk-angguk. Tapi melihat langkah kakinya yang ragu, dengan cepat aku menyambar. “Aku … boleh ketemu kamu lagi, nggak?”
Dia berbalik. Tersenyum tipis. Dan mengangguk …
… sebelum dia hilang di balik pintu gerbang angkuh yang entah kapan bisa terbuka untukku, dan aku berkuasa untuk masuk ke dalam kamarnya.
“EKHEM!”
Aku yang lagi senyum-senyum sendiri seperti orang sinting pun terlonjak, dan saat itu kusadari kalau sedari tadi, sepasang mata kucing di balik kacamata tuanya sedang mengawasi kami dengan tatapan beringas.
Cengengesan, aku buru-buru mengangguk pamit dan lekas berlalu.
Dan …
KRUYUUUK ….
Ah, ANJING. Baru di detik ini rasa lapar benar-benar mencengkeram lambungku. Entah bagaimana nasib nasi padangku, sudahkah ia dikerubuti semut-semut lancang? Aku pun kembali teringat akan hadiahku untuk Lala yang belum sempat kusampaikan.
